Berkat Virus Corona, Udara Dunia Terbukti Lebih Bersih dan Minim Polusi

Kompas.com - 20/03/2020, 08:04 WIB
Ilustrasi polusi yang dikeluarkan knalpot kendaraan. Paultan.orgIlustrasi polusi yang dikeluarkan knalpot kendaraan.

KOMPAS.com – Tingkat polusi di beberapa kota dunia menunjukkan penurunan cukup drastis akibat merebaknya virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19.

Para ilmuwan di New York mengatakan bahwa karbondioksida yang biasa dihasilkan dari kendaraan berkurang hingga 50 persen dibandingkan tahun lalu.

Emisi karbondioksida yang dihasilkan oleh industri pun berkurang drastis. Hal ini disebabkan oleh menurunnya aktivitas ekonomi dan transportasi.

Baca juga: Baru Pulang dari Kota Terjangkit Corona, Haruskah Karantina Mandiri?

Data di New York membuktikan bahwa pengurangan jumlah perjalanan, terutama menggunakan pesawat, memberikan dampak yang sangat signifikan.

Penelitian yang dilakukan di Columbia University menyebutkan emisi karbondioksida yang terutama dihasilkan oleh kendaraan turun sekitar 50 persen dalam beberapa hari saja.

Baca juga: Panic Buying karena Corona Berkaitan dengan Fungsi Otak, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Para ilmuwan juga mencatat terdapat penurunan tingkat karbondioksida sebanyak 5-10 persen, serta penurunan jumlah metana dalam udara.

Penurunan polusi udara di China

Sebuah analisis yang dilakukan oleh situs iklim Carbon Brief menyebutkan bahwa terdapat penurunan penggunaan energi dan emisi di China sebanyak 25 persen.

China dan Italia bagian utara juga tercatat memiliki penurunan signifikan pada zat nitrogen dioksida, yang dihasilkan oleh perjalanan mobil dan industri. Dua gas ini merupakan polutan kuat serta zat yang sangat berbahaya dalam hal pemanasan global.

Baca juga: Dampak Pandemi Virus Corona pada Lingkungan, Polusi Udara Global Turun

Dengan tidak adanya perjalanan udara dan mayoritas penduduk yang kerja dari rumah, penelitian ini relevan untuk diterapkan pada kota-kota lainnya di seluruh dunia.

“Hal ini tergantung pada lamanya pandemi berlangsung, dan berapa lama perekonomian ditiadakan. Tapi sepertinya ini hal yang cukup signifikan terkait emisi global tahun ini,” tutur Prof Corinne Le Quere dari University of East Anglia, seperti dikutip dari BBC, Kamis (19/3/2020).

Baca juga: Polusi Udara Lebih Mengancam Dunia Dibanding Corona, Ini Alasannya

Jika hal ini terus berlangsung selama tiga atau empat bulan mendatang, para ilmuwan yakin dampaknya akan cukup besar.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X