Panic Buying karena Corona Berkaitan dengan Fungsi Otak, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Kompas.com - 19/03/2020, 13:03 WIB
Pengunjung memborong tisu toilet di Bangkok, Thailand,  imbas panic buying yang disebabkan wabah virus corona, Senin (16/3/2020). Di tengah kepanikan wabah virus corona, selain kebutuhan pokok, tisu toilet menjadi salah satu barang yang paling diburu di banyak negara. AFP/JACK TAYLORPengunjung memborong tisu toilet di Bangkok, Thailand, imbas panic buying yang disebabkan wabah virus corona, Senin (16/3/2020). Di tengah kepanikan wabah virus corona, selain kebutuhan pokok, tisu toilet menjadi salah satu barang yang paling diburu di banyak negara.

KOMPAS.com – Tak sedikit masyarakat yang melakukan panic buying terkait mewabahnya virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit Covid-19.

Tak hanya di Indonesia, warga luar negeri pun melakukan panic buying salah satunya dengan memborong tisu toilet.

Kepanikan, termasuk panic buying, tidak terjadi begitu saja. Ada alasan ilmiah di balik hasrat memborong barang-barang dan makanan di supermarket.

Baca juga: Penjelasan Psikologi di Balik Panic Buying Akibat Virus Corona

Hal itu dijelaskan oleh Psikolog Anak dan Keluarga, Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si.

“Panik itu adalah perpanjangan dari cemas. Sementara cemas itu perpanjangan dari takut,” tutur Nina, panggilan akrabnya, kepada Kompas.com, Rabu (18/3/2020).

Takut adalah keinginan untuk menghindari sesuatu yang ada saat ini. Jika ketakutan tersebut berdasarkan ketidakpastian di masa depan, jadilah cemas.

“Bedanya cemas dengan takut, cemas adalah ketakutan akan sesuatu di masa depan dan belum pasti. Ketika seseorang punya kecemasan, pada titik tertentu, area prefrontal cortex pada otak tidak bisa bekerja,” tutur Nina.

Baca juga: WHO: Tunjukkan Solidaritas dengan Cuci Tangan dan Tidak Panic Buying

Prefrontal cortex adalah bagian pada otak yang memproses hal-hal yang rasional. Ketika area ini tidak bekerja karena kecemasan akan ketidakpastian, bagian yang bekerja adalah limbic system (sistem limbik).

“Dalam kondisi tertentu, rasa cemas akan berubah menjadi panik lewat sistem limbik. Kalau sudah begini, rasa takut dan cemas tidak bisa dikontrol,” jelasnya.

Pengunjung ramai-ramai membeli tisu toilet di sebuah toko di London, Inggris, Sabtu (14/3/2020). Di tengah kepanikan wabah virus corona, selain kebutuhan pokok, tisu toilet menjadi salah satu barang yang paling diburu di banyak negara.AFP/JUSTIN TALLIS Pengunjung ramai-ramai membeli tisu toilet di sebuah toko di London, Inggris, Sabtu (14/3/2020). Di tengah kepanikan wabah virus corona, selain kebutuhan pokok, tisu toilet menjadi salah satu barang yang paling diburu di banyak negara.

Dalam kasus panic buying, yang terjadi adalah kita melakukan sesuatu bukan karena hal itu benar atau salah, namun dilakukan karena kita rasa bisa menyelamatkan hidup kita.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X