Kompas.com - 04/10/2022, 16:00 WIB
Penulis Thefanny
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Kemacetan sudah mengakar di ibu kota Jakarta. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk mengurangi waktu di jalan, mulai dari mendorong masyarakat untuk menggunakan transportasi publik, penetapan jalur ganjil-genap, hingga pemeliharaan trotoar.

Namun, menurut Direktur Project Management Office (PMO) Tim Koordinasi Penataan Ruang (TKPR) Jabodetabek-Punjur Wisnubroto Sarosa, upaya-upaya itu saja belum cukup.

Pemerintah perlu menata ulang kota agar lebih ramah untuk pejalan kaki sehingga orang-orang terdorong untuk meninggalkan kendaraan pribadi dan lebih memilih untuk berjalan ke tempat tujuan. Dengan begitu, jumlah kendaraan di jalanan pun berkurang.

Baca juga: Terjebak Macet Berjam-jam, Warga Cibubur-Cileungsi Minta Penutupan U-turn Ditinjau Ulang

Menata ulang yang dimaksud bukan hanya revitalisasi trotoar, melainkan juga pemanfaatan ruang kota dengan membangun jalur sepeda, parking spot, dan melakukan penghijauan agar pejalan kaki merasa lebih nyaman di tengah teriknya matahari.

Wisnu beranggapan bahwa teriknya sinar matahari di Jakarta menjadi salah satu alasan masyarakat enggan untuk berjalan kaki, berbeda dengan masyarakat negeri tetangga, Singapura.

Ia membandingkan keadaan cuaca Singapura dengan Jakarta, meski sama-sama merupakan negara tropis dan berdekatan, suhu di antara keduanya cukup berbeda jauh.

“Kalau di Jakarta, siang hari itu kalau lihat temperatur bisa 30-32 (derajat Celcius), Singapura itu 26-24 (derajat Celcius),” ujar Wisnu dalam focus group discussion (FGD) Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Masa Depan Transportasi Publik di Jakarta tahun 2022, Rabu (28/9/2022).

Singapura dapat unggul dibandingkan Indonesia lantaran adanya bantuan dari kanopi dan penghijauan di kawasan pejalan kaki dan jalur sepeda.

“Artinya, mendorong orang untuk menggunakan sepeda itu juga harus dipikirkan kenyamanannya,” lanjut Wisnu.

Selain itu, Wisnu juga mendorong pembangunan gedung parkir. Harapannya, masyarakat akan park and walk, meninggalkan kendaraan pribadi mereka dan mulai berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum.

Namun, pembangunan gedung parkir ini dinilai masih belum benar-benar memungkinkan di Jakarta. Pasalnya, integrasi transportasi umum di Jakarta masih perlu ditingkatkan agar konsep park and walk ini dapat diimplementasikan dengan baik.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.