Kompas.com - 11/09/2021, 12:30 WIB
Presiden Jokowi didampingi Menteri Pertahanan Prabowo Subianto saat meninjau Sodetan, akses masuk menuju Ibu Kota Negara, Sepaku, Kaltim, Selasa (24/8/2021). Dok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat PresidenPresiden Jokowi didampingi Menteri Pertahanan Prabowo Subianto saat meninjau Sodetan, akses masuk menuju Ibu Kota Negara, Sepaku, Kaltim, Selasa (24/8/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi(Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) berharap proses pembangunan Ibu Kota Negara (IKN ) nanti bisa menerapkan konsep yang adaptif dengan budaya dan lingkungan.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Dareah (Sekda) Pemprov Kaltim Muhammad Sabani dalam sambutannya dalam acara pembukaan Musyawarah IAI Provinsi Kaltim sekaligus pelaksanaan Webinar “Ibu Kota Negara, Suatu Perancagan Urban dan Arsitektur”, Sabtu (11/9/2021). 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Dalam pembangunan IKN nanti kami berharap ada corak arsitektur adaptif yang dapat menggali kearifan lokal,” jelasnya.

Baca juga: Pembangunan IKN Butuh Waktu 15-20 Tahun

Namun Muhammad mengingatkan bahwa corak arsitektur yang dibuat nanti tidak hanya terpaku pada satu desain saja karena Kaltim memiliki budaya yang ada sangat beragam.

“Semua motif-motif yang dirancang, diharapkan bisa langsung dikenali sebagai corak khas dari Kaltim. Sehingga bisa dibedakan dengan corak dari daerah lainnya,” papar Muhammad.

Dalam pelaksanaan pembangunan, Sekda juga berharap agar seluruh konstruksi gedung yang bisa beradaptasi dengan kondisi lingkugan setempat terutama soal air.

Selama ini, dalam proses pembangunan di sini kurang berdaptqasi dengan air. Kebanyakan gedung yang dibangun hanya menambah genganan air atau memindahkan genangan tersebut ke tempat lain.

"Ini juga bisa mengurangi daerah tangkapan air,” cetus Muhamamd.

Karena itu, desain bangunan bisa dirancang dengan cermat agar bisa menambah kapasitas air di area konstriksi dan tidak memindahkan genangan ke tempat lain.

“Ketika pembangunan ini berlangsung semoga tidak ada lagi penambahan kawasan banjir baru di Kaltim,” tegas Muhammad.

Ia mencontohkan saat ini Pemprov Kaltim melalui Dinas PUPR setempat tengah merencanakan pembangunan gedung di kawasan yang relatif rendah.

Desain gedung tersebut pada bagian bawahnya akan menjadi area tampungan air. Namun bila terlihat dari luar, gedung tersebut layaknya gedung biasa.

“Tantangan bagi para arsitek adalah bisa memadukan desain yang sesuai dengan budaya lokal dan tetap adaptif dengan lingkuan. Arsitek tentu punya tanggangung jawab sebagai bagian dari masyarakat untuk mewujudkannya,” tandas Muhammad.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.