Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Penembakan Konser Moskwa, Etnis Tajik Alami Rasialisme di Rusia

Kompas.com - 28/03/2024, 22:43 WIB
Aditya Jaya Iswara

Editor

Penulis: Maria Katamadze/DW Indonesia

MOSKWA, KOMPAS.com - Calon penumpang taksi di Rusia dikabarkan belakangan ini sering menanyakan latar belakang etnis pengemudi taksinya.

"Apakah Anda orang Tajik? Jika iya, batalkan pesanannya!" Komentar bernada pedas semacam itu belakangan sering didengar pengemudi taksi sejak serangan teror di Crocus City Hall, Moskwa, pekan lalu.

Serangan itu sendiri menelan 143 korban jiwa. Sejauh ini, aparat keamanan telah menahan setidaknya 11 orang, termasuk tujuh tersangka yang berasal dari etnis minoritas Tajik.

Baca juga: Putin Tak Berencana Kunjungi Keluarga Korban Penembakan Konser Moskwa

Kelompok ISIS-K atau ISIS Khorasan mengaku bertanggung jawab atas tragedi tersebut.

Latar belakang tersangka pelaku teror memicu perdebatan di Rusia soal longgarnya aturan keimigrasian. Akibatnya, tren xenofobia menguat terhadap migran asal Asia tengah yang bekerja di Rusia, terutama warga Tajik.

Peringatan perjalanan untuk migran Asia Tengah

Usai teror di Moskwa, komunitas Tajik mulai saling memperingatkan satu sama lain agar tidak meninggalkan rumah di malam hari, menurut laporan Baza, sebuah outlet media Rusia

Pekan ini, sejumlah negara Asia Tengah, seperti Kirgistan, merilis peringatan perjalanan kepada warganya agar tidak bepergian ke Rusia.

Meskipun xenofobia telah lama menghantui komunitas Asia Tengah di Rusia, banyak warga Tajik yang khawatir keadaan akan semakin memburuk.

Alisher, seorang petugas pemadam kebakaran beretnis Tajik di Saint Petersburg, mengatakan kepada DW bahwa setelah teror ISIS-K, dia mulai sering dirundung orang tak dikenal di jalan.

"Suatu kali mereka menanyakan etnis saya dan apakah saya mendukung teroris. Saya mengatakan kepada mereka bahwa saya adalah warga negara Rusia tanpa aksen apa pun, dan mereka meninggalkan saya sendirian. Saya berada di sini secara sah, tetapi mereka yang berada di sini secara ilegal akan sangat takut dideportasi," kata Alisher.

Kanal Telegram kaum ultranasionalis Rusia dibanjiri hasutan tindak kekerasan terhadap migran dan menyarankan agar warga Asia Tengah dan seluruh keluarga mereka dideportasi.

Sebelum serangan, Abdullo, seorang warga negara Tajikistan penjual buah di salah satu pasar Moskwa mengatakan, kadang-kadang dia menerima pesan xenofobia di media sosial. Tapi setelah tragedi Jumat lalu, pesan kebencian semakin berhamburan.

"Mereka mengancam dan memaksa saya agar meninggalkan Rusia. Tapi saya tidak menganggapnya serius karena saya tidak bisa mendapatkan kehidupan yang baik di kampung halaman saya di Tajikistan,” katanya.

Baca juga: Penembakan Massal Konser Moskwa, Apakah Band Picnic Sengaja Jadi Sasaran?

Serangan fisik terhadap warga Tajik di Rusia

Pelecehan terhadap warga Asia Tengah juga tidak hanya terjadi secara verbal, tetapi juga dalam bentuk fisik. Di Blagoveshchensk, di wilayah Timur Jauh Rusia, misalnya, sebuah kafe yang dikelola oleh warga negara Tajikistan dibakar.

Halaman:

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com