Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Keluarga Korban Serangan 9/11 Tolak Uang dari Aset Beku Bank Afghanistan: Itu Uang Rakyatnya

Kompas.com - 17/08/2022, 16:32 WIB
Bernadette Aderi Puspaningrum

Penulis

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Beberapa anggota keluarga korban serangan 9/11 mendesak Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengembalikan aset beku bank sentral Afghanistan kepada rakyat Afghanistan, karena krisis kemanusiaan masih berlangsung di negara itu.

Dalam sebuah surat yang dikirim kepada Biden, 77 anggota keluarga menandatangani permintaan untuk mengubah perintah eksekutif pada Februari, yang secara efektif menahan aset bank sentral Afghanistan senilai 7 miliar dollar AS di Federal Reserve Bank of New York.

Surat itu pertama kali dilaporkan oleh Politico pada Selasa (16/8/2022), sebagaimana dialnsir Business Insider.

Baca juga: Setahun Taliban Kuasai Afghanistan, Upaya Memulihkan Ekonomi Belum Berhasil

Pembekuan itu dimaksudkan untuk menjaga dana tersebut dari jangkauan Taliban, ketika kelompok itu memulai pengambilalihan cepat negara itu, setelah penarikan pasukan AS dari Afghanistan hampir satu tahun yang lalu.

Pada saat yang sama, pemerintahan Biden berniat mengarahkan setengah dari aset tersebut sebagai bantuan bagi rakyat Afghanistan.

Sementara setengah lainnya diberikan kepada kerabat korban 9/11 — yang masih mencari kompensasi selama bertahun-tahun setelah serangan teroris 11 September 2001.

Tetapi anggota keluarga korban 9/11 yang menandatangani surat itu berargumen bahwa setiap penggunaan dana itu sebagai kompensasi "secara hukum cacat dan salah secara moral."

Uang itu “milik rakyat Afghanistan dan rakyat Afghanistan saja," menurut pernyataan keluarga korban 9/11 tersebut.

Baca juga: Di Bawah “Apartheid” ala Taliban: Sebelumnya Saya Polisi Wanita, Sekarang Saya Mengemis di Jalan

Hampir dua dekade yang lalu, sekitar 150 anggota keluarga korban 9/11 berhasil menggugat beberapa kelompok, termasuk Al Qaeda dan Taliban.

Pengadilan memerintahkan dalam putusannya bahwa para terdakwa membayar ganti rugi senilai 7 miliar dollar AS, menurut The New York Times.

Masalah yang tersisa, bagaimanapun, adalah menemukan cara untuk mengumpulkan uang tersebut.

Dengan pengambilalihan Taliban atas pemerintah Afghanistan, beberapa pengacara kerabat para korban 9/11 telah memperbarui upaya mereka untuk mencari kompensasi melalui aset yang dibekukan.

Tahun lalu, setelah penggugat meminta hakim memulai pembayaran 7 miliar dollar AS itu, seorang Marsekal AS memberikan "surat perintah eksekusi" kepada Federal Reserve New York untuk menyita dana tersebut, menurut laporan The Times.

Baca juga: Mantan Presiden Afghanistan Sebut Kesepakatan Trump dan Taliban adalah Bencana

Namun, anggota keluarga yang memberikan pernyataannya baru-baru ini mengklaim bahwa argumen tersebut meragukan secara hukum.

"Argumen mereka adalah, ketika Taliban mengambil kendali atas pemerintah Afghanistan, Taliban diduga menguasai aset yang dibekukan juga, sehingga memberikan keleluasaan kepada penggugat menargetkan dana itu," kata surat itu.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Ini Penjara Terkecil di Dunia yang Terdiri 2 Sel Tanpa Jendela

Ini Penjara Terkecil di Dunia yang Terdiri 2 Sel Tanpa Jendela

Global
Carlo Acutis, Remaja Italia yang Dijuluki 'Influencer Tuhan' Akan Jadi Santo Milenial Pertama

Carlo Acutis, Remaja Italia yang Dijuluki 'Influencer Tuhan' Akan Jadi Santo Milenial Pertama

Internasional
Pasca Tanah Longsor Papua Nugini, PBB Ingatkan Adanya Risiko Penyakit

Pasca Tanah Longsor Papua Nugini, PBB Ingatkan Adanya Risiko Penyakit

Global
Gunung Meletus di Islandia Muntahkan Lava Setinggi 50 Meter

Gunung Meletus di Islandia Muntahkan Lava Setinggi 50 Meter

Global
Israel Rebut Seluruh Perbatasan Gaza dengan Mesir, Persempit Gerakan Hamas

Israel Rebut Seluruh Perbatasan Gaza dengan Mesir, Persempit Gerakan Hamas

Global
Rangkuman Hari Ke-826 Serangan Rusia ke Ukraina: Polemik Larangan Senjata | Belarus Tangguhkan CFE

Rangkuman Hari Ke-826 Serangan Rusia ke Ukraina: Polemik Larangan Senjata | Belarus Tangguhkan CFE

Global
Soal Larangan Ukraina Pakai Senjata Barat untuk Serang Wilayah Rusia, Ini Kata AS

Soal Larangan Ukraina Pakai Senjata Barat untuk Serang Wilayah Rusia, Ini Kata AS

Global
Putusan Mahkamah Internasional Tak Mampu Hentikan Operasi Militer Israel di Rafah

Putusan Mahkamah Internasional Tak Mampu Hentikan Operasi Militer Israel di Rafah

Internasional
Israel Sebut Perang Lawan Hamas di Gaza Bisa sampai Akhir 2024

Israel Sebut Perang Lawan Hamas di Gaza Bisa sampai Akhir 2024

Global
[POPULER GLOBAL] Politisi AS Tulisi Rudal Israel | Taiwan Minta Dukungan Indonesia

[POPULER GLOBAL] Politisi AS Tulisi Rudal Israel | Taiwan Minta Dukungan Indonesia

Global
Swedia Janjikan Bantuan Militer Rp 20,26 Triliun ke Ukraina

Swedia Janjikan Bantuan Militer Rp 20,26 Triliun ke Ukraina

Global
Tank-tank Israel Terus Menuju Jantung Kota Rafah, Perang Bisa Berlanjut Sepanjang Tahun

Tank-tank Israel Terus Menuju Jantung Kota Rafah, Perang Bisa Berlanjut Sepanjang Tahun

Global
Polandia Minta Barat Izinkan Ukraina Pakai Senjata Pasokan untuk Serang Wilayah Rusia

Polandia Minta Barat Izinkan Ukraina Pakai Senjata Pasokan untuk Serang Wilayah Rusia

Global
Ikuti Rusia, Belarus Tangguhkan Partisipasi di Perjanjian Pasukan Konvensional Eropa

Ikuti Rusia, Belarus Tangguhkan Partisipasi di Perjanjian Pasukan Konvensional Eropa

Global
 Temuan Terbaru Penyelidikan Insiden Turbulensi Parah Singapore Airlines

Temuan Terbaru Penyelidikan Insiden Turbulensi Parah Singapore Airlines

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com