Kompas.com - 16/08/2022, 12:59 WIB

Penulis: VOA Indonesia

KABUL, KOMPAS.com - Satu tahun setelah Taliban kembali ke tampuk kekuasaan di Afghanistan, upaya-upaya kelompok milisi itu untuk mengelola ekonomi yang telah ditimpa masalah kekeringan, pandemi Covid-19, dan memudarnya kepercayaan pada pemerintah yang digulingkannya, sebagian besar ternyata tidak membuahkan hasil.

Dalam tahun fiskal terakhir Afghanistan sebelum pemerintah koalisi Ashraf Ghani yang didukung Barat runtuh--tahun 2020-2021--75 persen pengeluaran publik dari 5,5 miliar dollar AS (Rp 87,17 triliun) anggaran tahunan negara itu diambil dari bantuan asing.

Ketika AS keluar dari negara itu, bantuan sipil dan keamanan internasional dihentikan tiba-tiba dan penguasa baru dikenai sanksi.

Baca juga: Siapa Taliban dan Apa Tujuannya?

AS, yang menguasai sebagian besar cadangan devisa negara itu, membekukan sekitar 7 miliar dollar AS (Rp 103,28 triliun) yang disimpan di AS oleh bank sentral Kabul. AS hanya akan melepasnya jika pemerintah di Afghanistan meningkatkan hak-hak perempuan dan membentuk pemerintahan yang inklusif.

Pedagang penukaran uang Afghanistan menunggu pelanggan di pasar penukaran uang, menyusul pembukaan kembali bank dan pasar setelah Taliban mengambil alih di Kabul, Afghanistan, 4 September 2021.REUTERS via VOA INDONESIA Pedagang penukaran uang Afghanistan menunggu pelanggan di pasar penukaran uang, menyusul pembukaan kembali bank dan pasar setelah Taliban mengambil alih di Kabul, Afghanistan, 4 September 2021.
Sementara Taliban dan banyak negara lainnya telah meminta agar cadangan devisa Afghanistan itu dikeluarkan, berbagai prakarsa bantuan yang bermanfaat langsung bagi rakyat Afghanistan terus berlanjut, terutama untuk meringankan penderitaan yang disebabkan oleh kerawanan pangan dan bencana alam.

Sejak April 2020, misalnya, jumlah warga Afghanistan yang menghadapi kelangkaan pangan akut telah berlipat hampir dua kali menjadi 20 juta--lebih dari setengah dari 38,9 juta penduduk negara itu.

USAID dan donor internasional lainnya telah memberikan dana jangka pendek untuk menghindari keruntuhan total sistem kesehatan masyarakat Afghanistan.

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB melaporkan bahwa para donor menyumbang 1,67 miliar dollar AS (Rp 24,63 triliun) untuk berbagai program bantuan kemanusiaan Afghanistan pada tahun 2021.

AS menjadi donatur terbesar dengan bantuan 425 juta dollar AS (Rp 6,27 triliun) lebih. Pada Januari 2022, Gedung Putih mengumumkan tambahan 308 juta dollar AS (Rp 4,54 triliun) untuk bantuan kemanusiaan AS.

Baca juga:

Halaman:
 
Pilihan Untukmu

Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

14 Hari Terombang-ambing di Laut Malaysia, Nelayan Indonesia Ini Ditemukan Selamat dengan Berpegangan pada Jeriken

14 Hari Terombang-ambing di Laut Malaysia, Nelayan Indonesia Ini Ditemukan Selamat dengan Berpegangan pada Jeriken

Global
Jika Rusia Nekat Pakai Nuklir di Ukraina, Ini yang Diperkirakan Akan Terjadi

Jika Rusia Nekat Pakai Nuklir di Ukraina, Ini yang Diperkirakan Akan Terjadi

Global
Reporter TV Rusia yang Hina Putin Kabur, Masuk Daftar Buron

Reporter TV Rusia yang Hina Putin Kabur, Masuk Daftar Buron

Global
Drone Tersangkut di Kabel, 2.000 Warga Alami Mati Listrik

Drone Tersangkut di Kabel, 2.000 Warga Alami Mati Listrik

Global
Jet Tempur India Kawal Pesawat Iran karena Ada Ancaman Bom, Ternyata Palsu

Jet Tempur India Kawal Pesawat Iran karena Ada Ancaman Bom, Ternyata Palsu

Global
Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik ke Jepang, Penduduk Diminta Berlindung

Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik ke Jepang, Penduduk Diminta Berlindung

Global
Zelensky Mendebat Usul Kontroversial Elon Musk tentang Perdamaian Ukraina

Zelensky Mendebat Usul Kontroversial Elon Musk tentang Perdamaian Ukraina

Global
Trump Gugat CNN Rp 7,26 Triliun karena Pencemaran Nama Baik

Trump Gugat CNN Rp 7,26 Triliun karena Pencemaran Nama Baik

Global
Tembakan Rudal Korut ke Jepang Picu Evakuasi, Kali Pertama sejak 2017

Tembakan Rudal Korut ke Jepang Picu Evakuasi, Kali Pertama sejak 2017

Global
AS Bunuh Pemimpin Milisi Al Shabaab di Somalia

AS Bunuh Pemimpin Milisi Al Shabaab di Somalia

Global
Korea Utara Dukung Rusia Caplok Wilayah Ukraina, Tuduh AS seperti Gangster di PBB

Korea Utara Dukung Rusia Caplok Wilayah Ukraina, Tuduh AS seperti Gangster di PBB

Global
Kebocoran di Pipa Gas Nord Stream 1 Berhenti, Nord Stream 2 Masih Bocor 30 Meter

Kebocoran di Pipa Gas Nord Stream 1 Berhenti, Nord Stream 2 Masih Bocor 30 Meter

Global
Rangkuman Hari Ke-222 Serangan Rusia ke Ukraina: Ikut Perang untuk Hindari Istri Galak | Dukungan 9 Negara NATO

Rangkuman Hari Ke-222 Serangan Rusia ke Ukraina: Ikut Perang untuk Hindari Istri Galak | Dukungan 9 Negara NATO

Global
Indonesia Gagal Tempatkan Wakil di Radio Regulation Board ITU

Indonesia Gagal Tempatkan Wakil di Radio Regulation Board ITU

Global
Rudal Balistik Korea Utara Terbang di Atas Jepang, Warga Diimbau Berlindung

Rudal Balistik Korea Utara Terbang di Atas Jepang, Warga Diimbau Berlindung

Global
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.