Mantan Menteri di Inggris Ini Mengaku Dipecat dari Kabinet karena Muslim

Kompas.com - 23/01/2022, 13:01 WIB
Anggota parlemen Partai Konservatif Inggris Nusrat Ghani (tengah) bergabung dengan anggota komunitas Uyghur saat mereka berdemonstrasi untuk menyerukan kepada parlemen Inggris agar memilih untuk mengakui dugaan penganiayaan terhadap minoritas Muslim China orang Uyghur sebagai genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan di London pada 22 April 2021. Anggota parlemen di Parlemen Inggris pada 22 April akan memperdebatkan mosi tentang dugaan pelanggaran hak asasi manusia dan penganiayaan terhadap minoritas Muslim Uyghur China di Daerah Otonomi Xinjiang negara itu. Bulan lalu Inggris menuduh China melakukan pelanggaran berat hak asasi manusia terhadap minoritas Uyghur setelah Beijing menjatuhkan sanksi pada anggota parlemen Inggris dan kelompok lobi, memperluas keretakan dengan kekuatan Barat atas dugaan pelanggaran di Xinjiang. AFP/JUSTIN TALLISAnggota parlemen Partai Konservatif Inggris Nusrat Ghani (tengah) bergabung dengan anggota komunitas Uyghur saat mereka berdemonstrasi untuk menyerukan kepada parlemen Inggris agar memilih untuk mengakui dugaan penganiayaan terhadap minoritas Muslim China orang Uyghur sebagai genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan di London pada 22 April 2021. Anggota parlemen di Parlemen Inggris pada 22 April akan memperdebatkan mosi tentang dugaan pelanggaran hak asasi manusia dan penganiayaan terhadap minoritas Muslim Uyghur China di Daerah Otonomi Xinjiang negara itu. Bulan lalu Inggris menuduh China melakukan pelanggaran berat hak asasi manusia terhadap minoritas Uyghur setelah Beijing menjatuhkan sanksi pada anggota parlemen Inggris dan kelompok lobi, memperluas keretakan dengan kekuatan Barat atas dugaan pelanggaran di Xinjiang.

LONDON, KOMPAS.com – Seorang anggota palermen Inggris, Nusrat Ghani, mengaku dirinya sempat dipecat dari pekerjaan sebagai menteri di kabinet Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson, karena dirinya seorang Muslim.

Seperti dilansir Reuters pada Minggu (23/1/2022), dalam wawancara dengan surat kabar Sunday Times, perempuan berusia 49 tahun itu mengaku kehilangan pekerjaannya sebagai Menteri Transportasi Junior pada Februari 2020.

Dia mengaku diberi tahu oleh penegak disiplin parlemen bahwa status "Muslimah" yang diyakininya diangkat sebagai masalah dalam pemecatannya.

Baca juga: Bertubi-tubi Diterpa Skandal Pesta Miras, PM Inggris Boris Johnson di Ujung Tanduk

"Saya diberitahu pada saat pertemuan reshuffle di Downing Street (Rumah Dinas PM Inggis) bahwa status 'Muslim' diangkat sebagai 'isu'. Dan, status 'Menteri Wanita Muslim' saya membuat rekan-rekan tidak nyaman," demikian pernyataan Ghani, yang dikenal sebagai Menteri Muslimah pertama Inggris.

"Saya tidak ingin berpura-pura bahwa ini tidak menggoyahkan kepercayaan saya pada partai. Saya kadang-kadang mempertimbangkan apakah akan melanjutkan untuk menjadi anggota parlemen," tambahnya.

Hingga kini belum ada tanggapan dari Kantor Perdana Menteri Downing Street soal pemecatan tersebut.

Namun Kepala Penegak Disiplin Parlemen Inggris, Mark Spencer mengatakan dirinya adalah orang yang menjadi pusat tuduhan Ghani.

"Tuduhan ini sepenuhnya salah dan saya menganggapnya sebagai fitnah," kata Spencer di Twitter.

Baca juga: 7 Calon Pengganti PM Inggris Boris Johnson jika Lengser akibat Banyak Skandal

"Saya tidak pernah menggunakan kata-kata yang dikaitkan dengan saya," tambah Spencer.

Spencer juga menyebut Ghani telah menolak untuk membawa masalah ini ke penyelidikan internal formal ketika masalah tersebut pertama kali diungkap pada Maret 2021 lalu.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Rencana Swedia Jadi Anggota NATO Terhambat Keberatan Turki

Rencana Swedia Jadi Anggota NATO Terhambat Keberatan Turki

Global
Di Balik Pengerahan Kembali Pasukan AS ke Somalia, Untuk Apa?

Di Balik Pengerahan Kembali Pasukan AS ke Somalia, Untuk Apa?

Global
Taliban Janjikan Kabar Baik Buka Kembali Sekolah Menengah untuk Anak Perempuan

Taliban Janjikan Kabar Baik Buka Kembali Sekolah Menengah untuk Anak Perempuan

Global
McDonald's Resmi Jual 850 Restorannya di Rusia

McDonald's Resmi Jual 850 Restorannya di Rusia

Global
4 Kasus Langka Cacar Monyet Ditemukan di Inggris, Total Ada 7 Pasien

4 Kasus Langka Cacar Monyet Ditemukan di Inggris, Total Ada 7 Pasien

Global
Ukraina Terkini: Misi Pertahankan Pabrik Baja Azovstal Selesai, Tentara Luka Parah Dievakuasi

Ukraina Terkini: Misi Pertahankan Pabrik Baja Azovstal Selesai, Tentara Luka Parah Dievakuasi

Global
50 Tahun Kembalinya Okinawa dari Cengkeraman AS dan Serpihan Luka Lama

50 Tahun Kembalinya Okinawa dari Cengkeraman AS dan Serpihan Luka Lama

Global
Sempat Dipisahkan, Salah Satu dari Kembar Siam Yaman Meninggal Usai Operasi 15 Jam

Sempat Dipisahkan, Salah Satu dari Kembar Siam Yaman Meninggal Usai Operasi 15 Jam

Global
Kim Jong Un Kerahkan Tentara, Geram dengan Penanganan Covid Korea Utara

Kim Jong Un Kerahkan Tentara, Geram dengan Penanganan Covid Korea Utara

Global
Biden Kirim 500 Tentara AS untuk Bantu Amankan Somalia

Biden Kirim 500 Tentara AS untuk Bantu Amankan Somalia

Global
Sri Lanka Kehabisan Bensin dan Tidak Bisa Impor karena Tak Punya Dollar

Sri Lanka Kehabisan Bensin dan Tidak Bisa Impor karena Tak Punya Dollar

Global
Rangkuman Hari Ke-82 Serangan Rusia ke Ukraina, Swedia Daftar NATO hingga Evakuasi Tentara dari Azovstal

Rangkuman Hari Ke-82 Serangan Rusia ke Ukraina, Swedia Daftar NATO hingga Evakuasi Tentara dari Azovstal

Global
[POPULER GLOBAL] Disinformasi Pilpres Filipina | Banjir Selamatkan Desa Ukraina dari Invasi Rusia

[POPULER GLOBAL] Disinformasi Pilpres Filipina | Banjir Selamatkan Desa Ukraina dari Invasi Rusia

Global
Pertarungan Mata-mata antara Barat dan Rusia Memanas di Tengah Perang Ukraina

Pertarungan Mata-mata antara Barat dan Rusia Memanas di Tengah Perang Ukraina

Global
KBRI Roma Adakan Joint Webinar dengan Utusan Swiss, Bahas Pertanian Digital

KBRI Roma Adakan Joint Webinar dengan Utusan Swiss, Bahas Pertanian Digital

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.