Kekhawatiran Rusia hingga China Setelah Kembalinya Taliban di Afghanistan

Kompas.com - 18/08/2021, 18:56 WIB
Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid berbicara dalam konferensi pers pertamanya di Kabul, Afghanistan, pada Selasa, 17 Agustus 2021. Dalam pernyataannya, Taliban berjanji akan menghormati hak perempuan, mengampuni yang pernah melawan mereka, hingga menjamin Afghanistan takkan menjadi markas teroris asing. AP PHOTO/Rahmat GulJuru bicara Taliban Zabihullah Mujahid berbicara dalam konferensi pers pertamanya di Kabul, Afghanistan, pada Selasa, 17 Agustus 2021. Dalam pernyataannya, Taliban berjanji akan menghormati hak perempuan, mengampuni yang pernah melawan mereka, hingga menjamin Afghanistan takkan menjadi markas teroris asing.

KABUL, KOMPAS.com - Kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan setelah dua dekade telah membuat tetangga Afghanistan dipaksa mencari cara untuk menyesuaikan diri, dengan pandangan geopolitik yang berubah.

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pada April memerintahkan Pentagon menarik pasukan AS dari Afghanistan pada 11 September, yang secara efektif mengakhiri perang terpanjang Amerika.

Baca juga: POPULER GLOBAL: Juru Bicara Taliban Telepon dalam Siaran Langsung | 640 Warga Afghanistan Menjejali Pesawat Kapasitas 150 Orang

Ketika kehadiran militer AS berkurang, Taliban bergerak maju dengan cepat di medan perang meskipun kalah jumlah oleh militer Afghanistan.

Dalam beberapa pekan terakhir, kelompok itu merebut kota-kota besar dan ibu kota provinsi sebelum memasuki ibu kota Kabul pada Minggu (15/8/2021) dan menguasai istana presiden.

“Banyak yang mengalami gejolak geopolitik saat ini, karena tetangga Afghanistan mencari cara menyesuaikan diri dengan rezim Taliban yang baru muncul,” ujar Michael Kugelman, wakil direktur program Asia di Woodrow Wilson Center, melansir CNBC pada Rabu (18/8/2021).

Berikut analisis sejumlah pengamat internasional terkait kekhawatiran negara-negara tetangga tentang ketidakstabilan politik, kemungkinan arus masuk pengungsi, dan prospek Afghanistan kembali menjadi surga bagi kegiatan teroris.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Taliban Kembali Berkuasa, Mata Uang Afghanistan Anjlok

Pakistan

Pakistan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Taliban di masa lalu, menurut analis Eurasia Group.

Negara itu merupakan salah satu dari sedikit negara yang mengakui kelompok ektremis tersebut sebagai pemerintah yang sah, ketika mereka terakhir berkuasa.

Pakistan juga telah lama dituduh secara diam-diam membantu Taliban di Afghanistan, meski tuduhan tersebut dibantah oleh pemerintahnya.

Para analis mengatakan, bagaimanapun, pengaruh Islamabad telah berkurang selama bertahun-tahun dan Pakistan kemungkinan akan waspada atas potensi kekerasan di perbatasannya.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber CNBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.