Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PRT di Thailand Ini Ternyata Belum Pasti Akan Terima Warisan Rp 43,5 Miliar dari Majikan yang Bunuh Diri, Kok Bisa?

Kompas.com - 10/05/2024, 13:31 WIB
Irawan Sapto Adhi

Penulis

BANGKOK, KOMPAS.com – Pekerja rumah tangga (PRT) di Thailand bernama Nutwalai Phupongta (49) ternyata belum pasti bisa menerima warisan dari majikannya yang meninggal dunia diduga akibat bunuh diri belum lama ini.

Diberitakan sebelumnya, Nuwalai mendadak bakal menjadi kaya raya setelah mendapatkan warisan dari orang yang memberinya kerja. 

Sebab, ia disebut akan menerima warisan aset senilai 100 juta Baht atau sekitar Rp 43,5 miliar setelah majikannya yang berasal dari Perancis, Catherine Delocate, ditemukan meninggal dunia di vilanya di Pulau Koh Samui, Provinsi Surat Thani, Thailand, pada Senin (29/4/2024).

Baca juga: Majikan Ditemukan Meninggal, PRT Ini Sebut karena Bunuh Diri dan Diwarisi Rp 43,5 Miliar

Namun, Media Thailand, Bangkok Post, pada Selasa (7/5/2024) melaporkan, pihak berwenang "Negeri Gajah Putih” masih akan menyelidiki apakah Nutwalai bisa langsung mewarisi aset senilai 100 juta baht tersebut.

Memang tidak ada kecurigaan adanya pelanggaran, namun penyelidikan kala itu disebut masih dilakukan di vila milik Catherine Delacote di Tambon Mae Nam.

Perempuan Perancis berusia 59 tahun yang sedang sakit itu dilaporkan bunuh diri, meninggalkan aset senilai sekitar 100 juta baht kepada Nutwalai Pupongta, yang telah bekerja untuk Delocate selama 17 tahun.

Alasan PRT tak bisa langsung terima warisan

Kepala Unit Investigasi Darat Angkatan Darat ke-4 dari Militer Kerajaan Thailand, Kolonel Dusit Kay Sorn Kaew, menyebut pemeriksaan awal menemukan bahwa vila tersebut dibangun secara legal.

Tetapi, kata dia, pihak berwenang belum menyelidiki kepemilikan saham di perusahaan milik mendiang perempuan Perancis yang memiliki vila itu.

Baca juga: Perempuan Ini Bawa 2 Kg Kokain di Rambut Palsunya

Perusahaannya, GVNE, dilaporkan memiliki tiga pemegang saham. 

Delacote memiliki 49 persen saham dan dua orang Thailand memegang sisanya, yakni seorang pria Thailand dari Ubon Ratchthani yang mempunyai 35 persen saham dan seorang perempuan Thailand dari Nakhon Si Thammarat yang memiliki 16 persen saham.

Kolonel Dusit mengatakan, pihak berwenang akan mencari tahu apakah perusahaan itu secara ilegal melibatkan perwakilan Thailand atau tidak.

Menurut sumber, GVBE didirikan untuk menjalankan bisnis hotel pada April 2012. Delocate adalah satu-satunya direktur resmi perusahan tersebut.

Perempuan yang telah bercerai dengan suaminya yang juga berkewarganegaraan Perancis itu ditemukan tewas di dekat kolam renang di kompleks vila mewah tersebut pada 29 April. Tubuhnya memiliki lubang peluru di pelipisnya dan sebuah pistol ditemukan di tempat kejadian.

Kepala Polisi Koh Samuai, Kolonel Krairoek Ngamsri-on, mengatakan dengan perintah pengadilan, seorang eksekutor estate dapat mengalokasikan aset mendiang perempuan itu sesuai dengan wasiatnya.

Baca juga: Seorang Pria Terjebak di Jembatan Kaca Terbesar China yang Rusak

Presiden Asosiasi Pariwisata Koh Samui, Ratchapol Pulsawasdi, mengatakan bahwa dua pemegang saham Thailand di perusahaan Catherine mungkin harus menyetujui pengalihan aset tersebut.

Seorang pengacara dan mantan politikus Niphit Intharasombat menulis bahwa jika sebuah perusahaan secara ilegal memasukkan pemegang saham kuasa, Kementerian Dalam Negeri dapat menjual aset-asetnya.

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com