Kompas.com - 20/04/2021, 21:21 WIB
Tentara Ukraina sedang mengisi ulang senapan mesin di pos garis depannya yang berhadapan dengan separatis dukungan Rusia dekat Schastya, wilayah Lugansk, pada 16 April 2021. STR/AFPTentara Ukraina sedang mengisi ulang senapan mesin di pos garis depannya yang berhadapan dengan separatis dukungan Rusia dekat Schastya, wilayah Lugansk, pada 16 April 2021.

KIEV, KOMPAS.com - Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba pada Selasa (20/4/2021) menyampaikan, dari 30 tentara negaranya yang tewas di perbatasan dalam konflik Rusia-Ukraina, mayoritas ditembaki oleh sniper Rusia.

Kuleba melaporkan hal tersebut dalam konferensi virtual dengan sekitar 100 jurnalis dari 30 negara lebih.

"Situasi sekarang tentara Ukraina diperintahkan untuk tidak bereaksi atas segala provokasi di garis depan," kata Kuleba saat menjawab pertanyaan dari Kompas.com tentang situasi terkini di Donbass, ketika konflik Rusia vs Ukraina kembali memanas.

Baca juga: Balas Dendam, Ukraina Usir Diplomat Rusia dari Kiev

"Sayangnya, pihak yang lain melakukan segala cara untuk memprovokasi mereka."

"Salah satu buktinya, sekitar 30 tentara yang tewas sejak Januari 2021 banyak yang terbunuh oleh sniper."

"Sniper jelas ditujukan untuk membunuh orang. Kami menderita sangat banyak dari tembakan sniper, begitu pun dengan masyarakat kami," lanjut Kuleba.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menlu Ukraina juga menyampaikan Rusia terus menambah pasukan militernya di perbatasan dengan Ukraina.

"Selama berminggu-minggu tentara Rusia terus berdatangan di wilayah dekat perbatasan kami di timur laut, timur, dan selatan."

"Dalam sekitar seminggu kombinasi tentaranya mencapai 100.000. Ini bukan berarti mereka akan berhenti membangun kekuatan di angka itu."

Baca juga: Mobilisasi Pasukan Rusia di Perbatasan Ukraina Terbesar sejak 2014

"(Pasukan) itu tidak hanya tentara, tapi juga penerjun payung, sistem elektronik yang dapat menghambat komunikasi di area Ukraina, rudal balistik, dan pertanda lain yang memungkinkan penyerangan."

Amerika Serikat menyatakan, mobilisasi pasukan Rusia di perbatasan Ukraina adalah yang terbesar sejak 2014.

Juru bicara Pentagon John Kirby mengungkapkan, penempatan itu merupakan kabar yang paling mengkhawatirkan dalam konflik Rusia Ukraina terbaru.

"Ini adalah mobilisasi terbesar sejak 2014, yang menghasilkan pelanggaran kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina," kata Kirby.

Kiev khawatir, Rusia yang selama ini menyokong pemberontak di Donbass, bakal berusaha mencari alasan untuk menyerang mereka.

Sejak dimulai tujuh tahun silam, konflik Rusia-Ukraina di Donbass sudah membunuh 13.000 orang dan membuat 1,5 juta warga mengungsi.

Baca juga: Rusia-Ukraina Makin Tegang, Inggris Kirim Kapal Perangnya ke Laut Hitam


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

“Armada Hantu” Iran Jual Minyak Pasar Gelap ke China untuk Biayai Program Nuklir Rahasianya

“Armada Hantu” Iran Jual Minyak Pasar Gelap ke China untuk Biayai Program Nuklir Rahasianya

Global
Korban Meninggal Covid-19 Capai 500.000 Orang, Presiden Brasil Dituntut Mundur

Korban Meninggal Covid-19 Capai 500.000 Orang, Presiden Brasil Dituntut Mundur

Global
Ibu Kota Rusia Catat Kasus Covid-19 Baru Tertinggi, Tuan Rumah Euro 2020 Jadi Hotspot

Ibu Kota Rusia Catat Kasus Covid-19 Baru Tertinggi, Tuan Rumah Euro 2020 Jadi Hotspot

Global
Korban Meninggal Covid-19 di Brasil Capai 500.000 Orang, Presiden Tetap Tolak Pembatasan Sosial

Korban Meninggal Covid-19 di Brasil Capai 500.000 Orang, Presiden Tetap Tolak Pembatasan Sosial

Global
Pemimpin Junta Militer Myanmar ke Moskwa, Diundang Rusia Hadiri Konferensi Keamanan

Pemimpin Junta Militer Myanmar ke Moskwa, Diundang Rusia Hadiri Konferensi Keamanan

Global
KABAR DUNIA SEPEKAN: Dua Pemimpin Baru Timur Tengah | China Sindir Barat

KABAR DUNIA SEPEKAN: Dua Pemimpin Baru Timur Tengah | China Sindir Barat

Global
Nasib Lukisan Asli Abad ke-17 yang Dibuang di Tempat Sampah

Nasib Lukisan Asli Abad ke-17 yang Dibuang di Tempat Sampah

Global
Pendeta Yahudi Ini Akan Jadi yang Pertama Bergabung dalam Militer Jerman Setelah Era Nazi

Pendeta Yahudi Ini Akan Jadi yang Pertama Bergabung dalam Militer Jerman Setelah Era Nazi

Global
Tabrakan Beruntun di Tol Alabama AS, 9 Anak-anak Tewas

Tabrakan Beruntun di Tol Alabama AS, 9 Anak-anak Tewas

Global
Hilang 4 Hari, Jasad Mahasiswi AS Ditemukan di Rusia

Hilang 4 Hari, Jasad Mahasiswi AS Ditemukan di Rusia

Global
Video Viral Warga Pukuli Petugas Damkar karena Telat Datang Padamkan Api

Video Viral Warga Pukuli Petugas Damkar karena Telat Datang Padamkan Api

Global
Iran Punya Presiden Baru, PM Israel: Kans Terakhir Bahas Kesepakatan Nuklir

Iran Punya Presiden Baru, PM Israel: Kans Terakhir Bahas Kesepakatan Nuklir

Global
Dalam Sehari, Arab Saudi Cegat 17 Drone Bersenjata Pemberontak Houthi

Dalam Sehari, Arab Saudi Cegat 17 Drone Bersenjata Pemberontak Houthi

Global
Penembakan di Pesta Ulang Tahun Bocah, 3 Anak Jadi Korban

Penembakan di Pesta Ulang Tahun Bocah, 3 Anak Jadi Korban

Global
Restoran Seafood Ini Ajak Kepitingnya Jalan-jalan agar Tetap Gemuk

Restoran Seafood Ini Ajak Kepitingnya Jalan-jalan agar Tetap Gemuk

Global
komentar
Close Ads X