5 Pastor dan 2 Biarawati Diculik di Haiti, Pelaku Minta Tebusan Rp 14 Miliar

Kompas.com - 12/04/2021, 11:44 WIB
Ilustrasi suster Katolik. PA MEDIA via BBC IndonesiaIlustrasi suster Katolik.

PORT-AU-PRINCE, KOMPAS.com – Sebanyak lima pastor dan dua biarawati diculik pada Minggu (11/4/2021) di Haiti.

Hal itu diungkapkan oleh juru bicara Konferensi Uskup Haiti sebagaimana dilansir Channel News Asia.

Baca juga: Gerebek Markas Geng, Polisi Haiti Malah Kocar-kacir, 4 Aparat Tewas

Mereka diculik pada Minggu pagi waktu setempat di Croix-des-Bouquets, sebuah komune di timur laut ibu kota Haiti, Port-au-Prince.

Ketujuh korban diculik ketika dalam perjalanan menuju pelantikan pastor baru.

Pastor Loudger Mazile mengatakan kepada AFP bahwa para penculik menuntut uang tebusan senilai 1 juta dollar AS (Rp 14 miliar) untuk membebaskan para korban.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di antara para korban, dua di antaranya merupakan warga negara Perancis dengan rincian satu pastor dan satu biarawati.

Baca juga: Haiti Diguncang Upaya Kudeta dan Rencana Pembunuhan Presiden

Otoritas Haiti mencurigai sebuah geng bersenjata yang dikenal sebagai 400 Mawozo merupakan pihak yang bertanggung jawab atas penculikan tersebut.

Kedutaan Perancis di Haiti belum menanggapi permintaan komentar atas insiden tersebut dari AFP.

Kasus penculikan untuk meminta uang tebusan melonjak dalam beberapa bulan terakhir di Port-au-Prince dan wilayah lain di Haiti.

Peningkatan kasus tersebut mencerminkan melonjaknya pengaruh geng bersenjata di negara yang terletak di Kepulauan Karibia tersebut.

Baca juga: Kisah Misteri: Menelusuri Sejarah Zombie di Haiti

Kebangkitan geng bersenjata

"Ini keterlaluan. Waktunya telah tiba untuk menghentikan tindakan tidak manusiawi ini," kata Uskup Pierre-Andre Dumas kepada AFP.

"Gereja berdoa dan berdiri dalam solidaritas dengan semua korban tindakan keji ini," sambung Dumas.

Pada Maret, pemerintah Haiti mengumumkan keadaan darurat selama sebulan untuk memulihkan otoritas negara di daerah yang dikuasai geng, termasuk di Port-au-Prince.

Tindakan tersebut diambil setelah geng-geng bersenjata menyebabkan kekacauan dengan menculik untuk minta tebusan, mencuri dan menjarah properti publik, serta secara terbuka menantang aparat keamanan.

Baca juga: Gempar Video Seks di Mobil PBB, Terkuak Skandal Lain di Haiti dan Afrika

Meningkatnya kekerasan geng dan ketidakstabilan politik baru-baru ini membuat orang-orang turun ke jalan untuk berunjuk rasa.

Pekan lalu, ratusan pengunjuk rasa perempuan berdemonstrasi melawan geng yang semakin kuat dan melakukan banyak penculikan untuk mendapatkan uang tebusan.

Haiti, negara termiskin di Benua Amerika, juga telah mengalami krisis politik selama berbulan-bulan.

Presiden Haiti Jovenel Moise menyatakan bahwa masa jabatannya berlaku hingga 7 Februari 2022. Namun, beberapa orang mengeklaim bahwa masa jabatannya berakhir pada 7 Februari 2021.

Ketidaksepakatan tersebut bermula dari temuan bahwa Moise terpilih dalam pemilu yang dibatalkan karena penipuan. Dia kemudian terpilih kembali lewat pemilu setahun kemudian.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Gempa Bumi Terjang Haiti, 316 Ribu Orang Meninggal


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X