10 Tahun Setelah Bencana PLTN Fukushima, Pengembangan Energi Nuklir di Jepang Terhenti

Kompas.com - 04/03/2021, 14:24 WIB
Foto ini diambil pada 19 September 2013. PM Jepang Shinzo Abe sedang meninjau tembok yang berasal dari pipa baja dibangun di sepanjang pesisir dekat dengan PLTN Fukushima yang rusak karena diterjang tsunami dan gempa pada 2011. AFP/Japan Pool/AFP/FileFoto ini diambil pada 19 September 2013. PM Jepang Shinzo Abe sedang meninjau tembok yang berasal dari pipa baja dibangun di sepanjang pesisir dekat dengan PLTN Fukushima yang rusak karena diterjang tsunami dan gempa pada 2011.

TOKYO, KOMPAS.com – Sepuluh tahun setelah bencana pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi, industri energi nuklir di Jepang masih lumpuh.

Sebagian besar reaktor nuklir di Jepang dihentikan atau sedang dalam tahap penutupan. Di satu sisi, pemerintah Jepang masih berharap untuk merevitalisasi sektor tersebut.

Harapan itu didasarkan guna mengurangi ketergantungan terhadap impor energi serta membantu memenuhi tujuan netralitas karbon pada 2050.

Baca juga: 10 Tahun Setelah Bencana Fukushima, Bagaimana Nasib Energi Nuklir di Masa Depan?

Bagaimana situasi di Fukushima?

Sekitar 5.000 orang masih bekerja setiap hari di PLTN Fukushima Daiichi, di mana empat reaktor rusak parah akibat tsunami pada 11 Maret 2011 yang dipicu oleh gempa bumi yang kuat.

Besi bekas terlihat berserakan di sekitar lokasi, termasuk di bagian atas reaktor 1, yang atapnya lepas saat bencana sebagaimana dilansir dari AFP.

Tiga reaktor rusak parah dan bahkan sekarang, penghitung mobile Geiger secara berkala berbunyi “bip” di seluruh situs.

Sejauh ini, lingkungan reaktor telah dibersihkan, batang bahan bakar utuh telah dihilangkan dengan crane raksasa, dan tanggul beton baru sedang dibangun untuk melindungi dari tsunami.

Tetapi, bagian tersulitnya ke depan yakni mengekstraksi hampir 900 ton bahan bakar cair yang bercampur dengan puing-puing radioaktif tinggi lainnya.

Pengembangan lengan robotik khusus di Inggris untuk digunakan dalam operasi tersebut ditunda oleh pandemi Covid-19, membuat proses ekstraksi molor dan rencananya dimulai pada 2022.

Tapi itu hanyalah salah satu titik dari seluruh proses penonaktifan PLTN Fukushima Daiichi yang diperkirakan akan memakan waktu 30 hingga 40 tahun.

Baca juga: Iran Tolak Pembicaraan Awal Kesepakatan Nuklir dengan AS dan UE

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X