Para Menteri Luar Negeri Uni Eropa Bahas Navalny dalam Sidang di Markas Besar

Kompas.com - 26/01/2021, 18:18 WIB
Pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny (tengah) bersama istrinya, Yulia, dan tokoh oposisi Lyubov Sobol, serta para demonstran saat mengenang tewasnya kritikus Kremlin, Boris Nemtsov, di Moskwa pada 29 Februari 2020.
AFP PHOTO/KIRILL KUDSRYAVTSEVPemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny (tengah) bersama istrinya, Yulia, dan tokoh oposisi Lyubov Sobol, serta para demonstran saat mengenang tewasnya kritikus Kremlin, Boris Nemtsov, di Moskwa pada 29 Februari 2020.

BRUSSELS, KOMPAS.com - Para menteri luar negeri Uni Eropa dalam sidang di markas besar pada Senin (25/1/2021), memperdebatkan tanggapan terhadap penangkapan pemimpin oposisi Rusia, Alexei Navalny

Selain itu, memperdebatkan tindakan keras polisi akhir pekan lalu yang membuat ribuan orang ditangkap dalam protes untuk mendukung kritikus Kremlin itu.

“Kami akan menangani peristiwa mengkhawatirkan di Rusia ini. Lebih dari 3.000 orang dilaporkan telah ditangkap," kata Josep Borrell, Kepala Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan Uni Eropa.

Baca juga: Putin Bantah Miliki Istana Mewah Dekat Laut Hitam seperti yang Dituduhkan Navalny

"Gelombang penahanan ini adalah sesuatu yang sangat mengkhawatirkan kita, begitu pula penahanan Navalny,” imbuhnya seperti yang dilansir dari VOA Indonesia pada Selasa (26/1/2021).

Lebih dari 3.500 orang dilaporkan ditangkap dalam protes nasional itu.

Jean Asselborn, Menteri Luar Negeri Luksemburg, menyatakan optimismenya dengan memberikan contoh serangan 6 Januari di gedung Capitol Amerika.

“Pada 6 Januari telah menunjukkan di Washington bahwa demokrasi rapuh di seluruh dunia, tetapi demokrasi telah bertahan," ujar Asselborn.

Baca juga: Aktivis Anti-korupsi: Pemerintah Rusia Benar-benar Takut Demo Pendukung Navalny

"Pada 23 Januari telah menunjukkan di Rusia bahwa mungkin saja (pemerintah) bertindak keras melawan keinginan rakyat, dan mungkin saja menghentikannya dalam waktu singkat, tetapi bahkan di Rusia, antara Kaliningrad dan Vladivostok di 11 zona waktu, keinginan untuk lebih banyak demokrasi akan menang,” lanjutnya.

Navalny, seorang penyelidik korupsi, ditangkap awal bulan ini ketika dia kembali ke Moskwa setelah menghabiskan berbulan-bulan di Jerman untuk memulihkan diri dari serangan di Rusia dengan apa yang dikatakan para ahli sebagai racun saraf Novichok.

Unjuk rasa setelah penangkapannya menarik ribuan orang di kota-kota besar Rusia, termasuk sekitar 15.000 di Moskwa.

Baca juga: Aparat Rusia Tangkap 3.000 Orang dalam Protes Pembebasan Alexei Navalny

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mike Pompeo Vokal Lagi Kritik Pemerintahan Biden dan Agungkan Trump

Mike Pompeo Vokal Lagi Kritik Pemerintahan Biden dan Agungkan Trump

Global
Warga Afghanistan Ramai-ramai Jual Ginjal demi Bayar Utang, Ini Kisahnya...

Warga Afghanistan Ramai-ramai Jual Ginjal demi Bayar Utang, Ini Kisahnya...

Global
Mantan Kepala CIA Desak Biden Tak 'Tutup Mata' dan Hukum Keras Putra Mahkota Arab Saudi

Mantan Kepala CIA Desak Biden Tak "Tutup Mata" dan Hukum Keras Putra Mahkota Arab Saudi

Global
Gubernur New York Dituduh Melakukan Pelecehan Seksual oleh Mantan Pegawainya

Gubernur New York Dituduh Melakukan Pelecehan Seksual oleh Mantan Pegawainya

Global
Selingkuh dengan Istri Tetangga, Kuli Bangunan Bikin Terowongan Bawah Tanah

Selingkuh dengan Istri Tetangga, Kuli Bangunan Bikin Terowongan Bawah Tanah

Global
DNA dari Kaleng Minuman Soda Ungkap Misteri Pembunuhan 40 Tahun Lalu

DNA dari Kaleng Minuman Soda Ungkap Misteri Pembunuhan 40 Tahun Lalu

Global
Suami Istri Pilih Karantina di Ruang Bawah Tanah, Ditemukan Meninggal oleh Anaknya

Suami Istri Pilih Karantina di Ruang Bawah Tanah, Ditemukan Meninggal oleh Anaknya

Global
Master Kung Fu Ungkap Rahasia Jurus Selangkangan Besi, Begini Rasanya...

Master Kung Fu Ungkap Rahasia Jurus Selangkangan Besi, Begini Rasanya...

Global
Israel Tuduh Iran Pelaku Ledakan Kapal Tenggelam di Teluk Oman

Israel Tuduh Iran Pelaku Ledakan Kapal Tenggelam di Teluk Oman

Global
Dianggap Pengkhianat dan Dipecat Junta, Duta Besar Myanmar untuk PBB Bersumpah Terus Perangi Kudeta

Dianggap Pengkhianat dan Dipecat Junta, Duta Besar Myanmar untuk PBB Bersumpah Terus Perangi Kudeta

Global
Rudal Balistik Meledak di Langit Ibu Kota Arab Saudi

Rudal Balistik Meledak di Langit Ibu Kota Arab Saudi

Global
10 Kata dalam Bahasa Inggris yang Berasal dari Bahasa Nordik Kuno, Apa Sajakah?

10 Kata dalam Bahasa Inggris yang Berasal dari Bahasa Nordik Kuno, Apa Sajakah?

Global
Kursus Bahasa Indonesia dari KBRI Roma di Italia Ramai Peserta

Kursus Bahasa Indonesia dari KBRI Roma di Italia Ramai Peserta

Global
Korban Kudeta Myanmar Bertambah, Dua Orang Tewas Salah Satunya Ditembak di Dada

Korban Kudeta Myanmar Bertambah, Dua Orang Tewas Salah Satunya Ditembak di Dada

Global
Dokter Ini Hadiri Sidang Virtual sambil Operasi Pasiennya

Dokter Ini Hadiri Sidang Virtual sambil Operasi Pasiennya

Global
komentar
Close Ads X