Facebook Hapus Unggahan dan Tangguhkan Chatbot Perdana Menteri Israel, Apa Alasannya?

Kompas.com - 26/01/2021, 17:57 WIB
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam foto tengah bersiap untuk menerima vaksin virus corona di Sheba Medical Center, rumah sakit terbesar di negara itu, di Ramat Gan dekat kota pesisir Tel Aviv, pada 19 Desember 2020. AFP/AMIR COHENPerdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam foto tengah bersiap untuk menerima vaksin virus corona di Sheba Medical Center, rumah sakit terbesar di negara itu, di Ramat Gan dekat kota pesisir Tel Aviv, pada 19 Desember 2020.

TEL AVIV, KOMPAS.com - Facebook telah menghapus sebuah postingan dan menangguhkan chatbot di halaman akun media sosial milik Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Melansir BBC pada Senin (25/1/2021), tindakan itu dilakukan karena Netanyahu disebut sudah melanggar kebijakan perusahaan raksasa milik Amerika Serikat (AS) tersebut.

Akun tersebut telah meminta para pengikutnya untuk memberikan rincian teman atau kerabat berusia 60 atau lebih, yang belum menerima vaksinasi virus corona.

Dikatakan, Netanyahu mungkin akan menghubungi mereka untuk meyakinkan mereka untuk menerima vaksin.

Facebook Israel mengatakan permintaan itu melanggar kebijakan perusahaan terkait data medis pribadi.

Baca juga: Vaksin Seperempat Penduduknya, Israel Lanjutkan Inokulasi Remaja

"Sesuai dengan kebijakan privasi kami, kami tidak mengizinkan konten yang membagikan atau meminta informasi medis orang," katanya.

Media lokal mengatakan chatbot (alat olah pesan langsung di mana jawaban ditangani oleh komputer dan bukan manusia) milik akun PM Israel itu akan ditangguhkan selama seminggu.

Itu telah mengirimkan permintaan ke pengikut, dan pengajuan banding juga muncul di postingan di halaman.

Ini bukan pertama kalinya akun Facebook Netanyahu bermasalah karena melanggar peraturan. Menjelang dan selama pemilu pada September 2017, chatbot tersebut ditangguhkan dua kali.

Pertama karena unggahan yang menurut raksasa media sosial itu, sebagai ujaran kebencian. Saat itu unggahannya memperingatkan "orang Arab yang ingin menghancurkan kita semua."

Kedua karena "melanggar hukum pemilu lokal terkait "mempublikasikan jajak pendapat setelah pemungutan suara sedang berlangsung.”

Baca juga: Israel Ekstradisi Wanita Penjahat Seksual terhadap Anak ke Australia

Partai Likud Netanyahu ketika itu mengatakan Perdana Menteri tidak ada hubungannya dengan unggahan tersebut.

Kontroversi terbaru muncul ketika Israel terus maju dengan program vaksinasi. Negara ini menjadi yang tercepat di dunia dalam menginokulasi warganya, dan kini memperluas kampanye vaksinasi ke anak usia 16-18 tahun.

"Lebih dari seperempat dari sembilan juta penduduknya telah menerima setidaknya satu dosis vaksin Pfizer sejak 19 Desember,” menurut Kementerian Kesehatan Israel.

Baca tentang

Sumber BBC
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X