WHO: Akses Adil Vaksin Covid-19 Positif untuk Ekonomi Dunia

Kompas.com - 26/01/2021, 17:29 WIB
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus saat konferensi pers di Geneva Association of United Nations Correspondents (ACANU), pada 3 Juli 2020. AFP PHOTO/POOL/FABRICE COFFRINIDirektur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus saat konferensi pers di Geneva Association of United Nations Correspondents (ACANU), pada 3 Juli 2020.

JENEWA, KOMPAS.com - Badan Kesehatan Dunia ( WHO), pada Senin (25/1/2021), mengatakan 2 studi baru menunjukkan bagaimana penyediaan akses yang setara terhadap vaksin Covid-19 berdampak positif pada ekonomi.

Pada penjelasan singkat WHO mengenai Covid-19 di Jenewa, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus merujuk pada kedua studi tersebut.

Dia mengatakan studi-studi itu menunjukkan, tidak memberikan akses yang adil pada vaksin Covid-19, tidak hanya akan menjadi “kegagalan moral yang dahsyat”, tetapi juga kegagalan ekonomi, seperti yang dilansir dari VOA Indonesia pada Selasa (26/1/2021). 

Baca juga: [VIDEO] Raja Salman Disuntik Vaksin Virus Corona Pfizer-BioNTech

Ia mengatakan studi baru dari Organisasi Buruh Internasional (Internatonal Labor Organization/ ILO) yang menganalisa dampak pandemi Covid-19 pada pasar tenaga kerja global menunjukkan, pandemi pada tahun lalu merugikan ekonomi dunia sebesar 8,8 persen dari total kemungkinan jam kerja, atau setara dengan kehilangan 255 juta pekerjaan tetap.

Laporan itu memproyeksikan sebagian besar negara akan pulih pada paruh kedua 2021, tergantung pada peluncuran vaksinasi.

Baca juga: Ratusan Vaksin Virus Corona di Wisconsin Rusak, Seorang Apoteker Dipecat dan Ditangkap

Presiden ILO Guy Rider di antara rekomendasi lainnya menyerukan, dukungan internasional untuk negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, yang memiliki lebih sedikit sumber daya keuangan untuk meluncurkan vaksin dan mempromosikan pemulihan ekonomi dan perekrutan.

Dalam studi kedua, Tedros mengatakan Lembaga Riset Kamar Dagang Internasional (International Chamber of Commerce Research Foundation) menunjukkan kaitan erat ekonomi dengan kesetaraan memperoleh vaksin Covid-19.

Baca juga: Belum Disetujui Regulator, Filipina telah Beri Suntikan Vaksin Virus Corona kepada Tentara dan Anggota Kabinet

Studi tersebut menunjukkan bahwa jika negara-negara terkaya di dunia sepenuhnya divaksinasi sementara negara-negara miskin hanya separuhnya, hal itu bisa merugikan ekonomi global sekitar 9,2 triliun dollar AS (Rp 129,2 triliun) .

Hampir separuh dari jumlah tersebut atau 4,5 triliun dollar AS (Rp 63,4 kuadriliun) akan menjadi beban negara-negara terkaya.

Tedros mencatat program akselerator Akses pada Peralatan Covid-19 (ACT) yang dikelola WHO, dan dirancang untuk menyediakan vaksin kepada negara-negara termiskin, saat ini memiliki kekurangan dana sebesar 26 miliar dollar AS (Rp 366,3 triliun).

Baca juga: Bantuan Vaksin Virus Corona China Berpotensi Jadi Senjata Diplomatik

Dana itu kecil dibandingkan dengan kerugian yang akan ditimbulkan karena tidak memastikan setiap negara mendapat akses terhadap vaksin.

“Jika didanai penuh, Akselerator ACT akan mengembalikan hingga 166 dollar AS (Rp 2,3 juta) untuk setiap dolar yang diinvestasikan,” kata Tedros.

Mengutip studi Kamar Dagang itu Tedros mengatakan "Ini bukan amal, namun ini logika ekonomi."

Baca juga: Pemerintah Jepang Godok RUU Vaksin Virus Corona Gratis


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

PM Muhyiddin Tatap Pemilu Dini untuk Akhiri Kemelut Politik Malaysia

PM Muhyiddin Tatap Pemilu Dini untuk Akhiri Kemelut Politik Malaysia

Global
Mengeluh Mainan Seks Miliknya Rusak, PNS Ukraina Ini Di-bully

Mengeluh Mainan Seks Miliknya Rusak, PNS Ukraina Ini Di-bully

Global
Paus Fransiskus Mengutuk Ekstremisme sebagai Pengkhianatan Terhadap Agama

Paus Fransiskus Mengutuk Ekstremisme sebagai Pengkhianatan Terhadap Agama

Global
Kejutkan Umatnya, Pastor Ini Putar Musik Rap Saat Pimpin Ibadat Online

Kejutkan Umatnya, Pastor Ini Putar Musik Rap Saat Pimpin Ibadat Online

Global
Berusia 95 Tahun, Mahathir Jadi Warga Tertua Malaysia yang Terima Vaksin Covid-19

Berusia 95 Tahun, Mahathir Jadi Warga Tertua Malaysia yang Terima Vaksin Covid-19

Internasional
India Klaim Banyak Warga Myanmar yang Antre di Perbatasan untuk Mengungsi

India Klaim Banyak Warga Myanmar yang Antre di Perbatasan untuk Mengungsi

Global
Militer Myanmar Menolak Jadi Boneka China, Justru Ingin Kerja Sama dengan Barat

Militer Myanmar Menolak Jadi Boneka China, Justru Ingin Kerja Sama dengan Barat

Global
Paus Fransiskus Tiba di Mosul, Kota yang Dihancurkan ISIS, Ini Doanya

Paus Fransiskus Tiba di Mosul, Kota yang Dihancurkan ISIS, Ini Doanya

Global
PM Malaysia Jadi Pemimpin Pertama di Dunia yang Umrah saat Pandemi Covid-19

PM Malaysia Jadi Pemimpin Pertama di Dunia yang Umrah saat Pandemi Covid-19

Global
Dalai Lama Terima Dosis Pertama Covid-19, Desak Semua Orang Divaksin

Dalai Lama Terima Dosis Pertama Covid-19, Desak Semua Orang Divaksin

Global
Demonstran di Negara Bagian AS Ini Bakar Masker: Hiruplah Kebebasan, Sayang!

Demonstran di Negara Bagian AS Ini Bakar Masker: Hiruplah Kebebasan, Sayang!

Global
5 Pesawat Era Perang Dingin yang Masih Andal untuk Bertempur

5 Pesawat Era Perang Dingin yang Masih Andal untuk Bertempur

Internasional
Makam Kyal Sin, Gadis 19 Tahun yang Ditembak Mati, Digali Aparat Myanmar

Makam Kyal Sin, Gadis 19 Tahun yang Ditembak Mati, Digali Aparat Myanmar

Global
Bermodal Rp 100.000, Bisa Jadi 'Jutawan' di Venezuela

Bermodal Rp 100.000, Bisa Jadi "Jutawan" di Venezuela

Global
Ketika Pakaian Dalam dan Rok Perempuan Jadi Senjata Melawan Militer Myanmar

Ketika Pakaian Dalam dan Rok Perempuan Jadi Senjata Melawan Militer Myanmar

Global
komentar
Close Ads X