Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 09/12/2020, 09:57 WIB
Miranti Kencana Wirawan

Penulis

Sumber BBC,AFP

TOKYO, KOMPAS.com - Jepang berencana meningkatkan angka kelahiran yang merosot dengan mendanai rencana perjodohan menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu warganya "menemukan pasangan".

Mulai 2021, melansir BBC, pemerintah pusat Jepang akan memberi subsidi kepada pemerintah daerah yang sudah ataupun baru menjalankan proyek menggunakan AI demi "menjodohkan" warga mereka.

"Negeri Sakura" itu prihatin dengan rendahnya angka kelahiran mereka, turun di bawah 865.000 jiwa, sebuah rekor terendah tahun lalu.

Baca juga: Pembawa Berita dari Kecerdasan Buatan Sukses Lakoni Debut di TV Korsel

Mereka pun berharap melalui penggunaan teknologi AI, mereka mampu membalikkan tingkat kesuburan terendah di dunia itu.

Melansir AFP, tahun depan pemerintah Jepang akan mengalokasikan dana sebanyak 2 miliar yen (sekitar 19 juta dollar AS atau setara Rp268 miliar) kepada otoritas lokal demi meningkatkan angka kelahiran.

Sistem AI diharapkan dapat menawarkan analisis yang lebih canggih dan efektif dalam layanan perjodohan ini.

Sistem itu juga mempertimbangkan kriteria seperti pendapatan dan usia, memberikan analisis kecocokan jika ada kesamaan persis.

Baca juga: Jomblo di Jepang Akan Dibantu AI untuk Cari Jodoh

"Kami secara khusus berencana menawarkan subsidi kepada pemerintah daerah yang mengoperasikan atau memulai proyek perjodohan yang menggunakan AI," kata seorang pejabat kabinet kepada AFP.

"Kami berharap dukungan ini akan membantu membalikkan penurunan angka kelahiran bangsa."

Populasi Jepang diproyeksikan turun dari puncak 128 juta pada 2017 menjadi kurang dari 53 juta pada akhir abad ini.

Baca juga: Ribuan Foto Wanita Bugil Hasil Editan Beredar di Internet, Pakaiannya Dihapus dengan AI

Apakah AI benar-benar efektif?

Menurut seorang antropolog Sosio-Budaya dan Medis dari Temple University, Jepang, Dr Sachiko Horiguchi ada upaya lain yang lebih baik daripada membayar mahal AI untuk perjodohan.

Dr Horiguchi mengacu pada sebuah laporan baru-baru ini yang menjelaskan adanya keterkaitan antara tingkat pendapatan lebih rendah dengan hilangnya minat dalam memiliki hubungan romantis di kalangan dewasa muda di Jepang.

"Jika mereka tidak tertarik untuk berkencan, perjodohan kemungkinan besar tidak akan efektif," kata Dr Horiguchi kepada BBC.

Baca juga: Bertempur Lawan AI, DARPA Kaget Pilot F-16 Berpengalaman Kalah 5 Kali Beruntun

Menurutnya, robot AI akan lebih efektif jika diandalkan pada sektor pengurusan rumah tangga atau pengasuhan anak.

Hal itu dikarenakan banyak pakar menganalisis bahwa para ibu bekerja di Jepang kurang mendapat dukungan dalam mengasuh anak dan pekerjaan rumah.

Para ibu di Jepang mengerjakan semua pekerjaan rumah, mengurus anak sembari bekerja mencari nafkah.

Baca juga: Karena Kepalanya Botak, Hakim Garis Ini Disangka Bola oleh Kamera AI

Pemerintah Jepang mengatakan ingin mendorong lebih banyak perempuan untuk bekerja penuh waktu dalam beberapa tahun terakhir, tetapi kesenjangan gender malah meningkat.

Jepang berada di peringkat 121 dari 153 negara dalam laporan 2019 tentang kesetaraan gender oleh World Economic Forum, turun 11 peringkat dari tahun sebelumnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber BBC,AFP
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com