Digambarkan secara Cabul, Erdogan Sebut Charlie Hebdo Brengsek

Kompas.com - 28/10/2020, 21:43 WIB
Turkeys President Recep Tayyip Erdogan speaks after a cabinet meeting, in Ankara Turkey, Monday, Aug. 10, 2020. The government of Greece slammed Turkeys announcement that it will be conducting energy exploration in an area of the eastern Mediterranean that Athens says overlaps its continental shelf, as tension over the rights to natural resources increased sharply in the region Monday.(Turkish Presidency via AP, Pool) Turkeys President Recep Tayyip Erdogan speaks after a cabinet meeting, in Ankara Turkey, Monday, Aug. 10, 2020. The government of Greece slammed Turkeys announcement that it will be conducting energy exploration in an area of the eastern Mediterranean that Athens says overlaps its continental shelf, as tension over the rights to natural resources increased sharply in the region Monday.(Turkish Presidency via AP, Pool)

ANKARA, KOMPAS.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut majalah satir Perancis Charlie Hebdo "brengsek", setelah dia digambarkan secara cabul.

Tak hanya itu. Ankara juga berencana untuk mengajukan "aksi diplomatik maupun hukum" setelah karikatur sang presiden yabg dipajang di halaman depan.

Dalam kartun di bagian depan itu, mantan Wali Kota Istanbul itu digambarkan hanya memakai pakaian dalam dengan membawa sekaleng bir.

Baca juga: Charlie Hebdo Dianggap Hina Erdogan, Turki Murka

Publikasi cabul yang dilakukan Charlie Hebdo itu tak pelak makin memperuncing ketegangan antara dua negara anggota NATO itu.

Erdogan menyatakan, dia tidak pernah melihat gambar majalah satir itu. Sebab, dia merasa tidak perlu memberi "kredit atas perilaku amoral".

"Saya tak perlu mengatakan apa pun kepada si brengsek yang sudah menghina nabi saya seperti itu," tegasnya dalam pidato di parlemen.

Dia menyatakan sedih dan frustrasi bukan karena dia menjadi sasaran dari majalah itu. Melainkan kartun Nabi Muhammad yang menuai kontroversi.

"Jahat dan jelek"

Turki, meski merupakan negara sekuler, mayoritas penduduknya beragama Islam. Negara itu menjadi lebih konservatif dan nasionalis sejak Erdogan memerintah.

Baca juga: Presiden Perancis dan Kontroversi Kartun Nabi Muhammad

Kebijakan yang dibawa mantan Perdana Menteri Turki itu membuat mereka berseberangan dengan Perancis yang dipimpin Presiden Emmanuel Macron.

Macron sendiri sudah menegaskan dia tidak akan menurunkan kartun Nabi Muhammad sejak kasus guru Sejarah yang dipenggal oleh remaja Chechen berusia 18 tahun.

Halaman:

Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X