Demo, Pelajar Thailand Hadapi Militer "Pelahap Maut"

Kompas.com - 13/08/2020, 18:09 WIB
Para pengunjuk rasa pro-demokrasi melakukan salam tiga jari ketika mereka menghadiri demonstrasi untuk menuntut pemerintah mundur, membubarkan parlemen dan mengadakan pemilihan baru di bawah konstitusi yang direvisi, di kampus Rangsit Universitas Thammasat di luar Bangkok, Thailand Agustus 10, 2020. REUTERS/CHALINEE THIRASUPAPara pengunjuk rasa pro-demokrasi melakukan salam tiga jari ketika mereka menghadiri demonstrasi untuk menuntut pemerintah mundur, membubarkan parlemen dan mengadakan pemilihan baru di bawah konstitusi yang direvisi, di kampus Rangsit Universitas Thammasat di luar Bangkok, Thailand Agustus 10, 2020.

"Sekarang saatnya bagi para penyihir dan muggle menuntut demokrasi, keluar dan bergabung untuk melindungi hak, kebebasan dan persaudaraan dan merebut kembali kekuasaan ke tangan rakyat."

Para pengunjuk rasa mengangkat tangan memberi salam tiga jari untuk menentang seperti adegan di film Hunger Games, sebuah gerakan yang dilarang oleh junta yang mengatur kudeta terakhir.

"Mungkin generasi yang lebih tua tidak mengerti bahwa hak dan kebebasan mereka telah dirampas dari mereka, tapi kami mengerti," kata Benjamaporn. "Mereka tidak berhak menyentuh rambut di kepala kita."

Cengkeraman militer terhadap masyarakat telah berlangsung beberapa generasi di Thailand, aturan potong rambut yang dikeluarkan sekolah, misalnya, diberlakukan pada 1972, ketika negara itu dipimpin oleh seorang marshal lapangan yang didukung AS.

Baca juga: Komedian Kritis Thailand Diculik di Tengah Hari Bolong di Kamboja

"Dalam niat pemerintah militer, pelajar yang ideal, seperti warga negara, harus cenderung pasif," kata Dr Giuseppe Bolotta, asisten profesor penelitian antropologi di Universitas Durham di Inggris yang mempelajari Thailand.

Tujuannya, katanya, adalah agar kaum muda "menunjukkan kesetiaan dan ketaatan mutlak dan siap berkorban demi bangsa dan dewa-dewa pelindungnya: monarki, Buddha, dan tentara".

Bahkan saat ini, pelanggaran seperti mengenakan kaus kaki yang cenderung berwarna putih gading atau kulit telur daripada putih polos, dapat membuat siswa dicambuk, meskipun ada larangan hukuman fisik di sekolah. Dan wajib militer tetap menjadi fakta kehidupan laki-laki yang berusia muda.

"Nilai-nilai militer adalah untuk tidak mempertanyakan dan mengikuti perintah secara kolektif," kata Netiwit Chotiphatphaisal, presiden serikat mahasiswa ilmu politik di Universitas Chulalongkorn di Bangkok.

"Ini diberlakukan di sekolah-sekolah Thailand, di mana para guru mengatakan kami harus patuh. Karena sudah berlangsung lama, kami pikir ini normal, sehingga pemerintah juga harus dipatuhi."

Baca juga: Demonstrasi Pecah di Thailand, Tuntut Pemerintah Mundur

Pada Mei, setelah protes oleh Benjamaporn dan lainnya, kementerian pendidikan melonggarkan aturan tentang gaya potong rambut para pelajar.

Meskipun pengeritingan rambut dan rambut diwarnai masih dianggap tabu, masing-masing sekolah sekarang dapat memutuskan gaya potongan rambut mereka. Tetapi banyak sekolah, terutama di daerah pedesaan, tetap mempertahankan tradisi lama.

Di beberapa sekolah, pelajar masih dipaksa bersujud di hadapan guru pada saat upacara khusus.

Pertunjukan rasa hormat seperti itu adalah kebiasaan di hadapan raja Thailand. Ketika perdana menteri membentuk pemerintahan dan pantas bertemu dengan raja, misalnya, mereka merangkak di lantai dan mengintip takhta dari posisi tengkurap.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

China Nyatakan Kesediaan untuk Terlibat Redakan Situasi Myanmar

China Nyatakan Kesediaan untuk Terlibat Redakan Situasi Myanmar

Global
Trump Protes Namanya Dipakai untuk Galang Dana oleh Partainya

Trump Protes Namanya Dipakai untuk Galang Dana oleh Partainya

Global
Siswa Siap Kembali ke Kelas, Inggris Bagikan 57 Juta Alat Tes Covid-19 ke Sekolah

Siswa Siap Kembali ke Kelas, Inggris Bagikan 57 Juta Alat Tes Covid-19 ke Sekolah

Global
Meghan Tuding Kerajaan Inggris Umbar Kebohongan Soal Keluarganya dengan Pangeran Harry

Meghan Tuding Kerajaan Inggris Umbar Kebohongan Soal Keluarganya dengan Pangeran Harry

Global
PM Muhyiddin Tatap Pemilu Dini untuk Akhiri Kemelut Politik Malaysia

PM Muhyiddin Tatap Pemilu Dini untuk Akhiri Kemelut Politik Malaysia

Global
Mengeluh Mainan Seks Miliknya Rusak, PNS Ukraina Ini Di-bully

Mengeluh Mainan Seks Miliknya Rusak, PNS Ukraina Ini Di-bully

Global
Paus Fransiskus Mengutuk Ekstremisme sebagai Pengkhianatan Terhadap Agama

Paus Fransiskus Mengutuk Ekstremisme sebagai Pengkhianatan Terhadap Agama

Global
Kejutkan Umatnya, Pastor Ini Putar Musik Rap Saat Pimpin Ibadat Online

Kejutkan Umatnya, Pastor Ini Putar Musik Rap Saat Pimpin Ibadat Online

Global
Berusia 95 Tahun, Mahathir Jadi Warga Tertua Malaysia yang Terima Vaksin Covid-19

Berusia 95 Tahun, Mahathir Jadi Warga Tertua Malaysia yang Terima Vaksin Covid-19

Internasional
India Klaim Banyak Warga Myanmar yang Antre di Perbatasan untuk Mengungsi

India Klaim Banyak Warga Myanmar yang Antre di Perbatasan untuk Mengungsi

Global
Militer Myanmar Menolak Jadi Boneka China, Justru Ingin Kerja Sama dengan Barat

Militer Myanmar Menolak Jadi Boneka China, Justru Ingin Kerja Sama dengan Barat

Global
Paus Fransiskus Tiba di Mosul, Kota yang Dihancurkan ISIS, Ini Doanya

Paus Fransiskus Tiba di Mosul, Kota yang Dihancurkan ISIS, Ini Doanya

Global
PM Malaysia Jadi Pemimpin Pertama di Dunia yang Umrah saat Pandemi Covid-19

PM Malaysia Jadi Pemimpin Pertama di Dunia yang Umrah saat Pandemi Covid-19

Global
Dalai Lama Terima Dosis Pertama Covid-19, Desak Semua Orang Divaksin

Dalai Lama Terima Dosis Pertama Covid-19, Desak Semua Orang Divaksin

Global
Demonstran di Negara Bagian AS Ini Bakar Masker: Hiruplah Kebebasan, Sayang!

Demonstran di Negara Bagian AS Ini Bakar Masker: Hiruplah Kebebasan, Sayang!

Global
komentar
Close Ads X