Seberapa Parah Krisis di Arab Saudi?

Kompas.com - 14/05/2020, 17:02 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara dengan Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman saat foto bersama dengan pemimpin lainnya dalam Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Osaka, Jepang, Jumat (28/6/2019). ANTARA FOTO/Reuters/KEVIN LAMARQUEPresiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara dengan Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman saat foto bersama dengan pemimpin lainnya dalam Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Osaka, Jepang, Jumat (28/6/2019).

KOMPAS.com - Arab Saudi dulu terkenal sebagai negara bebas pajak, tapi kini negara kerajaan itu menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 5 persen ke 15 persen dan tidak lagi membayarkan subsidi bulanan biaya hidup mulai Juni.

Keputusan ini diambil setelah harga minyak dunia anjlok hampir 50 persen dibanding harga tahun lalu, yang mengurangi pendapatan pemerintah Arab Saudi sampai 22 persen dan memaksanya menunda beberapa proyek besar.

Laba bersih Saudi Aramco, perusahaan minyak milik pemerintah, jatuh 25 persen pada kuartal pertama tahun ini, terutama karena jatuhnya harga minyak mentah.

"Keputusan ini mencerminkan perlunya Arab Saudi mengurangi pengeluaran dan mencoba menstabilkan harga minyak yang sekarang lemah," kata analis negara-negara Teluk Arab, Michael Stephens.

"Ekonomi Arab Saudi sekarang buruh dan mereka butuh waktu yang tidak sebentar untuk kembali ke normal."

Covid-19 merusak ekonomi Arab Saudi, yang sebagian besar bergantung pada jutaan pekerja migran dengan keahlian rendah dari negara Asia lainnya, dan banyak di antara mereka tinggal di lingkungan padat penduduk yang tidak bersih.

Sementara itu, Putra Mahkota Arab, Muhammad bin Salman, meski masih populer di dalam negeri, kini menjadi momok di Barat yang tetap menduga ia berperan dalam pembunuhan wartawan Arab Saudi, Jamal Khashoggi.

Kepercayaan investor internasional belum sepenuhnya pulih setelah Khashoggi dibunuh dan dimutilasi oleh orang suruhan pemerintah di dalam Konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2018.

Perang di negara tetangga Yaman, yang telah berlangsung selama lebih dari lima tahun, juga turut menipiskan cadangan uang pemerintah meskipun belum diketahui apa keuntungan memenangkan perang tersebut bagi Arab.

Arab juga masih berseteru dengan Qatar, dan itu merenggangkan persatuan Dewan Kooperasi Negara-Negara Teluk Arab (GCC) yang terdiri dari enam negara.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X