Program Pintar
Praktik baik dan gagasan pendidikan

Kolom berbagi praktik baik dan gagasan untuk peningkatan kualitas pendidikan. Kolom ini didukung oleh Tanoto Foundation dan dipersembahkan dari dan untuk para penggerak pendidikan, baik guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, dosen, dan pemangku kepentingan lain, dalam dunia pendidikan untuk saling menginspirasi.

Siapkah Guru Indonesia Melaksanakan Kurikulum Prototipe?

Kompas.com - 04/01/2022, 15:42 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh: Anik Widiastuti | Dosen Program Studi Pendidikan IPS, Universitas Negeri Yogyakarta

KOMPAS.com - Siapkah guru-guru Indonesia melaksanakan kurikulum prototipe?

Mungkin pertanyaan tersebut pernah muncul dalam pikiran kita baik kita sebagai guru, kepala sekolah, orangtua, ataupun sebagai siswa saat mendengar tentang kebijakan baru yang diluncurkan Kemendikbud Ristek.

Kurikulum prototipe hanya akan diterapkan pada sekolah yang bersedia melaksanakan. Kurikulum prototipe yang mengusung Merdeka Belajar diharapkan memberikan kepada guru kemerdekaan merancang, melaksanakan, sampai dengan mengevalusi pembelajaran.

Apakah merdeka mengajar merupakan hal mudah bagi guru?

Berdasarkan pengalaman penulis berdiskusi dengan ratusan guru dari berbagai daerah di Indonesia melalui Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) dalam jabatan, guru Indonesia banyak yang belum memiliki mindset merdeka, bahkan masih didominasi guru dengan mindset pelaksana.

Banyak guru yang selama mengajar hanya mengandalkan acuan ataupun contoh yang sudah ada. Guru tidak berani menuangkan kreativitas dengan pemikiran takut menyalahi aturan dan tidak sesuai dengan kebijakan pemerintah.

Tidak kita pungkiri sampai saat ini banyak guru yang masih menggunakan perangkat pembelajaran yang bukan karyanya sendiri.

Perangkat pembelajaran masih dianggap sebagai sekadar dokumen yang perlu dimiliki guru dan bukan merupakan satu kesatuan utuh dengan pelaksanaan pembelajaran dan evaluasinya.

Akibatnya, terjadi ketidaksesuaian antara dokumen yang dimiliki guru dengan pelaksanaan pembelajaran dan evaluasinya.

Baca juga: Persiapan Sekolah Menyongsong Kurikulum Prototipe

Halaman:


Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.