Growth Center
Powered by Kompas Gramedia

Sebagai bagian dari KOMPAS GRAMEDIA, Growth Center adalah ekosistem solusi yang memfasilitasi pertumbuhan organisasi dan individu untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka. Growth Center hadir untuk menjadi teman bertumbuh dalam mempercepat pertumbuhan dan transformasi melalui solusi sumber daya manusia berbasis teknologi yang teruji secara saintifik berdampak.

Kami meningkatkan pertumbuhan para individu melalui proses siklus yang berkelanjutan dari menemukan jati diri (discovery) hingga menyediakan pengembangan (development) yang diperlukan. Semua ini hadir dalam produk kami, Kognisi Discovery dan Kognisi Development untuk memfasilitasi individu untuk mengenal dirinya sendiri dan berkembang sesuai dengan keunikan (idiosyncrasy) mereka.

Silakan kunjungi situs kami www.growthcenter.id dan info kolaborasi lebih lanjut bisa kirim surel ke info@growthcenter.id.

 

Teori dan Konsep tentang Tujuan Hidup

Kompas.com - 03/12/2021, 08:47 WIB
Teori dan Konsep tentang Tujuan Hidup Dicky SuryaTeori dan Konsep tentang Tujuan Hidup

Kali ini, mari mempelajari mengenai teori dan konsep tentang tujuan hidup. Pemikiran Nietzsche berporos pada kebebasan manusia dalam menetapkan tujuan hidupnya tanpa ada gangguan dari eksternal.

Manusia tidak melakukan sesuatu hanya karena prinsip atau nilai-nilai yang ada di luar diri individu, melainkan manusia menciptakan nilai-nilai, tujuan, dan menjalani kehidupan yang ia pilih sendiri.

Nietzsche memiliki sebuah metafora yang terkenal tentang cara kita memandang fenomena yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam hidup. Ia menggunakan dua hewan dalam metaforanya, yaitu unta dan singa.

Dalam metafora pertama, ia menggambarkan seekor unta yang selalu menerima beban yang harus dipikul seolah beban tersebut masih dapat ditanggung oleh si unta. Metafora ini bermakna mentalitas seseorang yang terus menerima dan pasrah mengenai fenomena yang terjadi dalam hidupnya.

Metafora kedua, yakni seekor singa yang digambarkan mandiri dan tidak memikul beban dari siapapun. Mentalitas seekor singa menolak beban yang harus dipikul karena harga diri dan martabat yang ia punya.

Singa menolak bukan karena beban itu buruk, tetapi karena hal itu dianggap akan merusak eksistensi dan wibawa yang ia miliki.

Kedua mentalitas tersebut dianggap tidak sehat oleh Nietzsche karena keduanya tidak mendukung pembentukan makna yang baru bagi individu. Kalau begitu, mentalitas seperti apakah yang harus dimiliki?

Nietzsche menyarankan seseorang harus memiliki mentalitas seperti bayi. Bayi menjadi lambang kepolosan, sebuah permulaan baru, dan sebuah langkah baru dalam menjalani kehidupan.

Baca juga: Mencari Makna Hidup Lewat Konsep Ikigai

 

Dengan kepolosannya, seorang bayi tidak akan mudah untuk mengiyakan atau menolak realitas yang hadir dalam hidupnya. Mentalitas yang sehat selalu hadir dalam realitas yang tidak pasti, ia selalu waspada, penuh kesadaran, dan tidak lengah.

Sekali lagi, Nietzsche menegaskan bahwa tujuan dan makna hidup seseorang bersifat otentik dan khas. Individu tidak perlu mengikuti orang lain untuk menjalani kehidupannya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.