Hari Kesaktian Pancasila, Catatan Kecil tentang Hapusnya Dendam Masa Lalu

Kompas.com - 01/10/2020, 13:50 WIB
Patung Pancasila besar yang jadi lambang cinta Indonesia dan Pancasila di Gereja Katedral Jakarta SYIFA NURI KHAIRUNNISAPatung Pancasila besar yang jadi lambang cinta Indonesia dan Pancasila di Gereja Katedral Jakarta

KOMPAS.com - Melihat Ilham, putra D.N. Aidit dengan tenang dan senyum sedih duduk di kursi ILC semalam, saya kagum kepadanya.

Tanpa harus mengetahui dan mengenalnya, sudah terbayangkan betapa berat dia menjalani hidup dan alhamdulillah terlihat sudah mulai mengendap saat ini.

Jika kita menyaksikan Gubernur Lemhanas Agus W. yang ayahnya adalah tentara korban kekejaman pembunuhan PKI saat itu dan bersanding dengan Ilham, saya menyaksikan sebuah pameran kearifan dahsyat yang mewakili bangsa ini dari keduanya.

Jelas keduanya tak mewarisi apa yang dilakukan oleh orangtuanya, baik atau buruk. Namun, putra seorang yang dimuliakan jelas akan merasakan kemuliaan dan putra seorang yang dianggap sebagai musuh negara, jelas akan merasakannya pula.

Mereka yang terpapar dan belum terbukti anggota PKI saja sudah mengalami nasib sangat terhina, apalagi Ilham.

Baca juga: Hari Kesaktian Pancasila, Nadiem: Lilin Pancasila Tetap Menyala Saat Pandemi

 

Jadi, saya sepakat dengan Salim Said, komunis sebagai ideologi sedang mengalami kebangkrutan dan bertransformasi, namun dendam di alam bawah sadar itulah yg sangat berbahaya.

Saya jelas dalam sebuah skala sangat kecil pernah disakiti, dilecehkan oleh orang lain. Namun saking kecilnya, ibarat kotoran hanyalah debu yang dengan mudah saya kibaskan dan lupalah saya siap yang mengotori saya dengan debu.

Namun, tak mampu saya membayangkan, ketika setiap waktu saya diguyuri lumpur dan memuncak pada sebuah tanggal di sebuah bulan.

Saya pikir tak ada dosa Ibrahim As. meski ayahnya adalah pembuat patung yang dia hancurkan. Sebaliknya, tak ada dosa Nuh As. meski putranya membangkang dan tak selamat dari hukuman-Nya.

Mengingat peristiwa sedih bagi sebagian orang yang mengalami adalah menguak luka lama dan kembali berdarah.

Namun untuk sebagian yang lain adalah sebuah tausiah kebaikan. Jika saya Ilham dan Agus, mungkin saya jauh lebih suka menghindari hiruk pikuk pengoyak luka itu.

Namun mereka memilih tampil menghadapi publik, meski nampaknya terlihat Ilham dan Agus bukan jenis manusia yang suka tampil di depan publik.

Hebat sampeyan berdua.

Betul-betul menjadi "Ilham yang bAgus" bagiku menulis catatan kecil ini...



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X