Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Taruna STIP Meninggal Dianiaya Senior, Begini Tanggapan Kampus

Kompas.com - 04/05/2024, 13:36 WIB
Mahar Prastiwi

Penulis

Sumber Antara

KOMPAS.com - Berita mengenai taruna STIP meninggal karena dianiaya seniornya mencuat saat pendaftaran sekolah kedinasan 2024 akan dibuka bulan Mei ini.

Kekerasan di lingkungan sekolah kedinasan ini tentu disayangkan banyak pihak. Taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda Jakarta Utara berinisial P (19) meninggal, Jumat (3/5/2024) diduga dianiaya seniornya.

Keluarga korban menyatakan akan menuntut pertanggungjawaban pihak kampus STIP karena membiarkan peristiwa ini terjadi.

Dilansir dari kantor berita Antara, paman korban Nyoman Budi Arto mengatakan, pihaknya akan menuntut senior yang telah melakukan penganiayaan.

"Keluarga mau nuntut yang memukul itu sama pihak sekolah. Anak saya sehat-sehat saja tiba-tiba meninggal dunia," kata Nyoman Budi Arto di Jakarta, Sabtu (4/5/2024) seperti dikutip Antara.

Baca juga: Cek Alur Pendaftaran Sekolah Kedinasan 2024, Dibuka Bulan Mei

Pihak keluarga akan menuntut pelaku dan pihak kampus

Ia meminta pertanggungjawaban kampus atas kejadian yang menghilangkan nyawa dari keluarganya.

Selain itu pihak keluarga juga meminta pelaku dihukum berat sesuai dengan perbuatannya

"Saya punya anak dibegitukan. Seandainya juga dia punya anak digituin juga bagaimana. Saya akan tuntut pihak kampus," beber Nyoman Budi Arto.

Dia menambahkan, pihak STIP menghubungi dirinya pada Jumat (3/5/2024) pagi sekitar pukul 09.00 WIB. Pihak STIP memberitahukan taruna tingkat satu angkatan 2023 berinisial P meninggal dunia.

P merupakan anak pertama dari tiga saudara yang masuk sebagai taruna sekolah yang berada di bawah Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tersebut.

Baca juga: Info Terbaru, 3.445 Formasi Sekolah Kedinasan Dibuka Mei 2024

Diduga korban dihajar oleh senior

Dari informasi tersebut Nyoman mengetahui anaknya dibawa ke toilet dan dianiaya oleh seniornya.

Dia mengungkapkan, keterangan dari teman-temannya dicocokkan dengan berita dari polisi dan kronologinya sama.

"Iya dihajar tapi tidak jelas apa sebabnya sampai korban dihajar," beber dia.

Ia menambahkan, saat menonton di saluran video YouTube tidak ada budaya kekerasan di STIP dan jika masih ada sebaiknya dibubarkan saja sekolahnya

"Itu saya tonton dan anak saya disekolahkan di sana. Saya berani bilang enggak terjadi apa-apa tapi terulang lagi kasusnya," imbuh dia.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com