Menghafal, Seburuk Itukah ?

Kompas.com - 01/10/2020, 10:04 WIB
Murid mengikuti jalannya Ujian Nasional Sekolah Dasar di SDN Palmerah 07 Pagi, Jalan Palmerah Utara, Jakarta, Senin (18/5/2015). Pelaksanaan UN akan berlangsung hingga 20 Mei mendatang dengan mata pelajaran yang diujikan Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam. KOMPAS IMAGES / RODERICK ADRIAN MOZESMurid mengikuti jalannya Ujian Nasional Sekolah Dasar di SDN Palmerah 07 Pagi, Jalan Palmerah Utara, Jakarta, Senin (18/5/2015). Pelaksanaan UN akan berlangsung hingga 20 Mei mendatang dengan mata pelajaran yang diujikan Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam.

KOMPAS.com - Menghafal itu sebuah cara dan tidak ada yang buruk jika digunakan proporsional, semisal menghafal ayat Alquran. Jadi kuncinya adalah proporsional.

Dan, pagi ini, seorang guru home schooling di Jakarta membagi kegundahan hati dengan menunjukkan video muridnya kelas 3 SD sedang "dihukum" orangtua dan gurunya menghafal perkalian selama 2 hari untuk menggapai Kompetensi Dasar (KD) yang intinya "menjelaskan perkalian".

Kami, langsung berdiskusi di WAG dan belum stop hingga saya menulis opini ini. Saya berpendapat, sebaiknya kewajiban menghafal hanya untuk kitab suci saja, karena bagaimana mungkin "kompetensi menjelaskan perkalian" dan memahami maknanya jika yang dilakukan adalah penghafalan?

Sebuah cara yang salah dalam menggapai tujuan KD yang sudah baik.

Baca juga: Mengembalikan Roh Pendidikan lewat Pedagogi Belajar Daring dari Rumah

Mengukur kompetensi bernalar

Uji PISA, Asesmen Kompetensi Minimal (AKM) bertujuan mengukur kompetensi bernalar, dan sungguh sangat sulit bisa meraih hasil yang baik jika cara pembelajaran (instruksional) masih menggunakan cara cara tak memiliki dasar ilmiah.

Yang terjadi adalah, murid tak semakin kompeten dalam menalar dan kecemasan serta trauma kepada matematika dan lebih parah lagi, cemas dan trauma kepada sekolah meningkat.

Dua puluh tahun lalu saya sering guyon bahwa sekolah dasar terbaik itu adalah SD Inpres. Lho kok?

Iya, karena gurunya kadang kala tak hadir dan murid memiliki waktu lebih banyak untuk kelayapan "ngebolang" dan alam menjadi guru pengganti. Bukankah para calon Nabi itu selalu di sekolahkan ke alam sebagai penggembala?

Alam itu sabar dan mengajari murid sesuai kapasitasnya. Ujianpun tidak wajib, kecuali sang murid menghendaki.

Saya bersyukur tidak termasuk mayoritas masyarakat kita yang menghindari matematika karena cemas bahkan trauma, mungkin karena guru SR/SD saya dulu termasuk jempolan atau materi mapel berhitung (buku "Cerdas Cermat") saat itu tidak dipaksakan wajib "tuntas" seperti saat ini.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X