Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bashar Al-Assad Dipastikan Menang Pemilu Palsu Suriah meski Perang Saudara dan Kemiskinan Merajalela

Kompas.com - 25/05/2021, 05:30 WIB
Bernadette Aderi Puspaningrum

Penulis

Sumber Guardian

DAMASCUS, KOMPAS.com - Warga Suriah akan kembali ke tempat pemungutan suara, pada Rabu (26/5/2021).

Tapi proses demokrasi itu dituding hanyalah pertunjukan palsu. Sebab sejak awal sudah dirancang untuk memberikan legitimasi kepada presiden, baik di dalam maupun di luar negeri.

Guardian pada Minggu (23/5/2021) melaporkan bahwa hasil pemilu diyakini hampir pasti kembali dimenangkan oleh Presiden Suriah Bashar Al-Assad.

Baca juga: 3 Roket Diluncurkan dari Suriah ke Israel, Pertempuran Dikhawatirkan Meluas

Terakhir kali Suriah mengadakan pemilihan presiden, pada 2014, kemenangannya juga sudah diprediksi. Tapi, kekuatan oposisi yang mengendalikan kota-kota di negara itu serta pinggiran Damaskus, membuat sejumlah pihak sedikit banyak berharap adanya perubahan.

“Pada 2014 suasananya berbeda. Assad masih bisa kalah. Tapi sekarang warga Suriah yang masih di negara itu atau yang sudah pergi, tahu bahwa tidak akan ada penggulingan militer,” kata Suhail al-Ghazi, seorang peneliti Suriah dan rekan non-residen di Institut Tahrir untuk Kebijakan Timur Tengah kepada Guardian.

Tujuh tahun kemudian, setelah sekutu rezim Rusia dan Iran campur tangan dan mengubah gelombang perang, sebagian besar Suriah sekarang kembali di bawah cengkeraman Assad.

Alhasil, menurutnya pemilu mendatang akan digunakan oleh rezim dan Rusia untuk menunjukkan bahwa mereka menang. Mereka lalu akan mengklaim Suriah aman, sehingga pengungsi dapat kembali.

“Pemilu juga merupakan faktor dalam ‘merehabilitasi’ rezim di antara negara-negara Arab, dan mungkin Liga Arab.”

Baca juga: Tentara Rusia dan Turki Gelar Patroli Bersama di Suriah

Dinasti politik Assad

Suriah telah diperintah oleh keluarga Assad sejak 1970. Setelah itu parlemen dan pemerintah dilucuti dari banyak kekuatan pengambilan keputusan.

Posisi penting pemerintah diisi dengan loyalis saat partai Ba'ath, yang bekerja untuk mengonsolidasikan status Assad sebagai "pemimpin negara dan masyarakat."

Assad adalah pilihan ketiga sebagai penerus ayahnya, Hafez. Dia mengambil alih setelah kematian ayahnya pada 2000.

Dokter mata yang berwatak dingin itu mengklaim ingin membawa reformasi politik yang sejati ke negara tersebut.

Tetapi, Assad akhirnya menimbulkan lebih banyak kebrutalan daripada pemerintahan ayahnya.

Unjuk rasa Arab Spring pada 2011 disambut dengan kekerasan ekstrem oleh aparat. Situasinya lalu berubah menjadi perang saudara yang kompleks dan sulit diselesaikan.

Pada hari-hari awal pemberontakan, sejumlah besar pejabat militer dan partai membelot sebagai protes atas tindakan keras pemerintah.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com