Kompas.com - 09/03/2022, 11:15 WIB

KOMPAS.com - Penulis novel "Lupus", Hilman Hariwijaya meninggal dunia pada Rabu (9/3/2022) pagi sekitar pukul 08.02 WIB.

Hal itu disampaikan oleh mantan istri Hilman Hariwijaya, Nessa Sadin dalam unggahan Instagramnya @nessa.sadin.

"Innalillahi wainnaillaihi rojiun. Telah berpulang Hilman Hariwijaya Rabu 9 Maret 2022 pukul 08.02 WIB. Mohon dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya untuk almarhum," tulis Nessa Sadin.

Baca juga: Profil Doni Salmanan, Tersangka Penipuan Berkedok Trading Binary Option Quotex

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh NESSA SADIN ??? (@nessa.sadin)

Saat dikonfirmasi, Manajer Nessa Sadin, Purnama Suherman membenarkan informasi yang menyebutkan bahwa Hilman Hariwijaya telah meninggal dunia.

"Iya Mas (meninggal dunia)," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Rabu (9/3/2022) siang.

Baca juga: Resmi Gabung Klub Jepang Tokyo Verdy, Berikut Profil Pratama Arhan

Berikut profil Hilman Hariwijaya:

Profil Hilman Hariwijaya

Diberitakan Harian Kompas, 5 April 1987, Hilman Hariwijaya lahir di Bengkulu pada 25 Agustus 1964.

Hilman dikenal sejak menulis cerita pendek yang diberi judul "Lupus" di majalah Hai pada Desember 1986, yang kemudian dibukukan menjadi sebuah novel.

Dia juga banyak menulis naskah film-film layar lebar seperti Dealova, The Wall, Anak Ajaib, dan Rasa.

Bahkan, ia juga menulis naskah sinetron-sinetron terkenal, yakni Cinta Fitri Season 2, dan Cinta Fitri Season 3.

Terakhir, ia juga gabung dalam produksi Love Story The Series.

Baca juga: Jadi Pangkostrad, Ini Profil dan Harta Kekayaan Mayjen TNI Maruli Simanjuntak

Pergaulan yang menuntun karier Hilman

Penulis Lupus, Hilman Hariwijaya.Instagram/@thehilmanhariwijaya Penulis Lupus, Hilman Hariwijaya.

Bagi banyak penulis, buku dan sekolahan mungkin adalah segala-galanya ketika akan mulai meniti karier, karena di sana ada pengetahuan serta inspirasi.

Namun, tidak demikian dengan Hilman Hariwijaya.

Ia ternyata jarang sekali membaca buku.

"Apalagi buku yang berat-berat. Pergaulanlah yang sangat terasa menuntun," ujar Hilman.

Baca juga: Profil Mayjen TNI Suharyanto, Kepala BNPB yang Baru Dilantik Jokowi

Dari pergaulanlah ia memperoleh seluk-beluk menulis, mendapat banyak ilham, dan diberikan segudang kalimat indah yang kerap membangunkan emosi pembaca karya-karyanya.

Dan itu semua terbukti pada novel-novelnya di kalangan remaja, seperti "Lupus seri pertama, Tangkaplah Daku Kau Kujitak" dan "Lupus seri kedua, Cinta Olimpiade" yang keduanya diterbitkan PT Gramedia.

Materi tuturan hingga ilustrasi ceritanya adalah keseharian hidup remaja. Ringan, kocak, dan hidup lagi.

Dalam jangka waktu dua bulan, buku pertamanya berhasil terjual lebih dari 22.500 eksemplar. Sementara itu, "Cinta Olimpiade", terjual 7.500 eksemplar dalam tiga minggu.

Baca juga: Profil Lengkap Shin Tae-yong, Pelatih yang Bawa Timnas Indonesia ke Final Piala AFF 2020

Bayangan menjadi penulis top

Menurut pengakuan Hilman, memang sejak kanak-kanak ia sudah membayangkan ingin menjadi penulis "top".

Walaupun dari enam kakak beradik ditambah orangtua dan nenek-kakeknya tidak seorang pun yang tertarik pada bidang ini, Hilman tidak pernah goyah dari mimpi indahnya.

Hilman mulanya terangsang oleh cerita-cerita di majalah Bobo yang ia langgani pada waktu duduk di kelas 4 atau 5 sekolah dasar (SD).

Pada usia itu, itu mencoba bereksperimen membuat majalah sendiri yang memuat tulisan-tulisan karya pertamnya.

Pelanggan pertama dan terakhirnya adalah keenam saudara kandung ditambah orangtuanya.

"Lebih sebagai bahan guyon-guyonan waktu itu," kenang Hilman.

Baca juga: Profil KH Miftachul Akhyar, Rais Aam PBNU Periode 2021-2026

Karya Hilman

Guyon-guyon itu tidak lagi muncul ketika ia mulai bergabung dengan koran anak-anak, "KOMA", yang antara lain waktu itu dikelola oleh Leila Chudori.

Karya pertamanya adalah sebuah cerpen "Bian, Adikku yang Tak Pernah Ada" (1978) yang langsung membuat gebrakan memenangkan sayembara mengarang majalah Hai.

Sejak keberhasilannya itu, Hilman beralih meja ke majalah Hai sebagai penulis cerpen, artikel musik, dan remaja.

Baca juga: Jadi Ketua Umum PBNU 2021-2026, Ini Profil Yahya Cholil Staquf

Tiga novelnya yang pernah dimuat di majalah Hai, yakni Rhapsody buat Irvan, Bulan di Atas Rawa, dan Nyanyian Bisu. Ketiganya sempat menyita perhatian banyak remaja.

Bersamaan dengan kesibukannya mengikuti kuliah di jusrusan sastra Inggris Universitas Nasional, Hilman sempat menjabat redaktur tamu dan wartawan freelance di majalah yang sama.

Pengalaman inilah yang dituliskannya untuk Lupus.

Baca juga: Profil 4 Pemain Timnas Indonesia yang Dilarang Tampil di Final AFF 2020

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.