Saya Korban Diskriminasi Berat Badan

Kompas.com - 20/04/2021, 08:56 WIB
Jaya Suprana. KOMPAS/ RADITYA HELABUMIJaya Suprana.

Menurut ibunda saya, berat badan saya pada saat dilahirkan sekitar empat kilogram. Kemudian saya sempat gendut seperti jago Sumo ukuran mini.

Namun mulai usia dua tahun saya berubah menjadi langsing alias tidak gendut seperti Arjuna.

Maka di masa kanak-kanak sampai remaja saya merasa cukup bahagia sebab tidak ada yang menyemooh gendut.

Namun nasib mujur tidak bertahan lama sebab setelah masuk ke usia dwiwarsa lambat namun pasti berat badan saya terus bertambah sehingga akhirnya melewati ambang batas ukuran untuk mulai layak disebut gendut atau istilah asing kerennya: overweight.

Ternyata dampak pertambahan berat badan bertolak-belakang dengan rasa percaya diri. Sementara rasa percaya diri ternyata sama arah dengan cemooh akibat berat badan.

Berat badan makin bertambah maka cemooh makin meningkat sertamerta langsung rasa percaya diri malah makin merosot.

Berulang kali ketika mengamati bentuk tubuh terutama perut saya lewat cermin saya mencoba menghipnotis diri sendiri bahwa saya bukan overweight tetapi undertall.

Secara semantika serta eufemistika saya berupaya meyakinkan diri sendiri bahwa tubuh saya sebenarnya bukan gendut tetapi montok berisi.

Namun sungguh disayangkan bahwa saya gagal menipu diri saya akibat para dokter gemar menakut-nakuti saya bahwa pada setiap kilogram kelebihan berat badan saya bertambah berarti usia hidup saya berkurang satu tahun.

Meski tidak ada seorang dokter pun termasuk IDI mau pun WHO mampu mengkonfirmasi kebenaran kutukan hipotesa asumtif kejam itu sebelum ditemukannya mesin waktu yang bisa mengundurkan waktu.

Apalagi cukup banyak teman saya yang sama usia atau bahkan lebih muda usia dengan berat badan jauh di bawah saya terbukti terlebih dahulu meninggalkan dunia fana ini.

Namun para dokter bilang semua itu adalah kekecualian belaka. Pendek kata telah disepakati sebuah vonis bahwa semua orang gendut hukumnya wajib harus lebih mudah sakit maka lebih cepat mati.

Bahkan para dokter berkomplot dengan para perusahaan asuransi untuk melakukan diskriminasi berat badan terhadap saya dengan secara sewenang-wenang serta sepihak sengaja menaikkan premi secara berlipat ganda.

Semua itu membuktikan kebenaran fakta peradaban yang tidak bisa disangkal bahwa kehidupan di planet bumi ini memang niscaya senantiasa berhias ornamen aneka ragam diskriminasi mulai dari diskriminasi ras, suku, agama, politik, ekonomi, sosial sampai diskriminasi berat badan.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X