Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sistem Ekonomi yang Diterapkan Jepang di Indonesia

Kompas.com - 13/02/2024, 21:00 WIB
Widya Lestari Ningsih

Penulis

KOMPAS.com - Jepang secara resmi menduduki Indonesia pada 8 Maret 1942.

Salah satu tujuan Jepang menguasai Indonesia adalah untuk mendapatkan bahan baku guna memenuhi kebutuhan perangnya melawan pasukan Sekutu.

Pasalnya, pada saat itu Jepang telah mengobarkan Perang Pasifik atau Perang Asia Timur Raya melawan Sekutu.

Atas dasar itu, ciri khas sistem ekonomi yang dilakukan Jepang di Indonesia adalah sistem ekonomi yang bertujuan untuk kepentingan perang Jepang.

Sistem ekonomi tersebut bernama ekonomi perang. Bagaimana sistem ekonomi yang diterapkan Jepang di Indonesia?

Baca juga: Dampak Sistem Autarki yang Diterapkan Jepang terhadap Indonesia

Jepang menerapkan kebijakan ekonomi perang

Ekonomi perang adalah kebijakan suatu negara untuk mengerahkan semua kekuatan ekonominya untuk menopang keperluan perang.

Tujuan sistem ekonomi perang yang diterapkan Jepang di Indonesia adalah untuk memprioritaskan produksi barang dan jasa yang dapat memperkuat pertahanan Jepang dari serangan Sekutu.

Ciri khas sistem ekonomi yang diterapkan Jepang di Indonesia adalah pemusatan kegiatan ekonomi untuk kepentingan perang.

Seluruh potensi sumber daya alam dan bahan mentah digunakan untuk industri yang mendukung perlengkapan perang.

Jepang menyita seluruh hasil perkebunan, pabrik, bank, dan perusahaan penting.

Agar tujuannya tercapai, Jepang menerapkan sistem pengawasan dan pengendalian secara ketat, yang meliputi:

  • Pengendalian harga untuk mencegah meningkatnya harga barang.
  • Pengawasan perkebunan teh, kopi, karet, tebu, sekaligus memonopoli penjualannya.
  • Pembatasan produksi tanaman yang tidak menguntungkan perang, seperti teh, kopi, dan tembakau.
  • Pemaksaan menanam padi, pohon jarak, dan kapas.

Baca juga: Penyebab Munculnya Gerakan Bawah Tanah Semasa Pendudukan Jepang

Aturan pengendalian tersebut diatur berdasarkan Undang-Undang No. 322/1942 yang menyatakan bahwa Gunseikan (kepala militer) ditugaskan untuk mengawasi secara langsung perkebunan kopi, kina, karet, dan teh.

Pelanggaran terhadap kebijakan Jepang tersebut akan dihukum dengan sanksi yang berat.

Pabrik gula yang banyak dibangun pada masa pendudukan Belanda, dialihfungsikan sebagai pabrik senjata.

Akibat titik berat kebijakan difokuskan pada ekonomi dan industri perang, banyak lahan pertanian yang terbengkalai.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Peristiwa Haur Koneng 1993

Peristiwa Haur Koneng 1993

Stori
Tragedi Waduk Nipah 1993

Tragedi Waduk Nipah 1993

Stori
Bataviasche Nouvelles, Surat Kabar Pertama di Indonesia

Bataviasche Nouvelles, Surat Kabar Pertama di Indonesia

Stori
Waisak, seperti Maulid dan Isra Miraj Bersamaan

Waisak, seperti Maulid dan Isra Miraj Bersamaan

Stori
Ide-Ide Pembaruan Sultan Mahmud II

Ide-Ide Pembaruan Sultan Mahmud II

Stori
Perlawanan Kakiali terhadap VOC

Perlawanan Kakiali terhadap VOC

Stori
Jayeng Sekar, Organisasi Kepolisian Bentukan Daendels

Jayeng Sekar, Organisasi Kepolisian Bentukan Daendels

Stori
Abu Dujanah, Sahabat yang Membuat Nabi Muhammad Menangis

Abu Dujanah, Sahabat yang Membuat Nabi Muhammad Menangis

Stori
6 Peninggalan Kerajaan Ternate

6 Peninggalan Kerajaan Ternate

Stori
Alasan Umar bin Abdul Aziz Memerintahkan Pembukuan Hadis

Alasan Umar bin Abdul Aziz Memerintahkan Pembukuan Hadis

Stori
Pablo Picasso, Pelopor Karya Seni Rupa Kubisme

Pablo Picasso, Pelopor Karya Seni Rupa Kubisme

Stori
Perbedaan Presiden dan Pemimpin Tertinggi Iran

Perbedaan Presiden dan Pemimpin Tertinggi Iran

Stori
Sejarah Hari Kebangkitan Nasional

Sejarah Hari Kebangkitan Nasional

Stori
4 Pahlawan Perempuan dari Jawa Tengah

4 Pahlawan Perempuan dari Jawa Tengah

Stori
Biografi Sitor Situmorang, Sastrawan Angkatan 45

Biografi Sitor Situmorang, Sastrawan Angkatan 45

Stori
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com