Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Baru Sebut Makanan Ultra-olahan Berdampak Negatif bagi Tubuh

Kompas.com - 06/03/2024, 12:29 WIB
Monika Novena,
Resa Eka Ayu Sartika

Tim Redaksi

Sumber Gizmodo

KOMPAS.com - Sebuah penelitian baru kembali mengungkapkan makan makanan ultra-olahan (ultra-processed foods) dapat memengaruhui tubuh dengan cara yang mengejutkan.

Studi, yang merupakan tinjauan skala besar terhadap bukti-bukti yang ada, menemukan hubungan antara rutin mengonsumsi makanan ultra-olahan dan risiko lebih tinggi terhadap banyak masalah kesehatan, termasuk kematian dini.

Sebelumnya, banyak penelitian menunjukkan bahwa makanan ultra-olahan berdampak buruk bagi kesehatan kita.

Namun, dalam penelitian baru yang dipublikasikan di BMJ ini menyebut belum ada literatur ilmiah yang komprehensif mengenai makanan ultra-olahan ini.

Peneliti pun memutuskan untuk melakukan 'umbrella review', yakni peninjauan terhadap ulasan lain dan meta analisis mengenai topik tertentu.

Baca juga: Apa Saja Manfaat Tomat Ceri untuk Kesehatan?

Hasil tinjauan baru

Dikutip dari Gizmodo, Selasa (5/3/2024), secara keseluruhan, tim tersebut melihat data dari 14 ulasan yang secara kolektif melibatkan hampir 10 juta orang.

Peneliti menemukan bahwa paparan yang lebih tinggi terhadap makanan ultra-olahan dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terhadap 32 dampak kesehatan, mulai dari penyakit jantung, kesulitan tidur, hingga depresi.

Asupan makanan ultra-olahan yang lebih banyak juga dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih besar (21 persen lebih tinggi), serta risiko kematian terkait jantung yang lebih besar (66 persen lebih tinggi).

"Tinjauan umum ini menemukan bukti yang konsisten mengenai risiko lebih tinggi terhadap dampak kesehatan yang merugikan terkait dengan paparan makanan ultra-olahan yang lebih besar,” tulis para penulis studi.

Namun, memang sangat sulit untuk mengetahui betapa tidak sehatnya suatu kelompok makanan.

Selain itu ada keterbatasan dari penelitian ini: tidak semua orang setuju dengan apa sebenarnya makanan ultra-olahan.

Kriteria yang digunakan oleh penulisa dan banyak penelitian lain dikenal sebagai sistem Klasifikasi Makanan NOVA, yang mendefinisikan makanan ini sebagai segala sesuatu yang terbuat seluruhnya atau sebagian besar dari zat yang diekstraksi dari makanan atau disentesis di laboratorium dari substrat makanan atau sumber organik lainnya.

Contoh umum makanan ultra-olahan adalah minuman ringan, permen, dan makanan siap saji.

Namun, terdapat beberapa perdebatan mengenai seberapa berguna sistem tersebut dan apakah para ahli pangan dapat mengidentifikasi makanan ultra-olahan berdasarkan kriteria ini.

Baca juga: Hati-hati, Pakai Dasi Punya Berbagai Dampak Kesehatan

Meskipun demikian, percobaan kecil secara acak dan terkontrol telah menemukan bahwa makanan ultra-olahan berdampak buruk bagi kita.

Halaman:
Sumber Gizmodo
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com