Kompas.com - 15/04/2021, 20:05 WIB
Asap membumbung dari pembangkit tenaga listrik Fukushima Daiichi sesaat setelah gempa bumi dan tsunami melanda Jepang pada 2011. live scienceAsap membumbung dari pembangkit tenaga listrik Fukushima Daiichi sesaat setelah gempa bumi dan tsunami melanda Jepang pada 2011.

KOMPAS.com - Pemerintah Jepang mengumumkan pada Selasa, (13/4/2021) bahwa akan membuang lebih dari satu juta ton limbah yang terkontaminasi dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima ke Samudra Pasifik.

Rencana ini dilakukan setelah kira-kira 1,25 juta ton air yang terkumpul di sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima tak lagi mampu ditampung.

Pada 2011 silam, gempa bumi berkekuatan 9 skala richter dan tsunami melanda Jepang. Bencana tersebut menewaskan hampir 20.000 orang dan menyebabkan kehancuran di tiga enam reaktor pembangkit listrik di Fukushima Daiici, serta memicu bencana nuklir terburuk sejak Chernobyl.

Baca juga: Pertama Kalinya, Pasien Covid-19 Jepang Terima Cangkok Paru-paru dari Donor Hidup

Untuk menjaga inti reaktor yang tersisa agak tak mencair, pejabat Tokyo Electric Power Company (TEPCO) kemudian memompa hampir 200 ton air pendingin melalui situs tersebut setiap hari.

Mengutip Live Science, Kamis (15/4/2021) air limbah yang terkontaminasi itu disimpan di lebih dari 1000 tangki besar di lokasi yang sama dan secara otomatis disaring untuk mengilangkan sebagian besar bahan radioaktif.

Namun kini setelah 10 tahun bencana TEPCO kehabisan ruangan untuk menyimpan air limbah. Rapat kabinet pun kemudian menyetujui rencana pembuangan air limbah tersebut secara bertahap ke Samudra Pasifik.

Pembangkit nuklir di seluruh dunia sebenarnya secara rutin membuang air yang mengandung sejumlah kecil tritium ke laut.

Juru bicara dari Departemen Luar Negeri AS pun menyebut pula kalau rencana tersebut sesuai dengan standar keamanan nuklir yang diterima secara global.

Tetapi, rencana itu telah banyak ditentang oleh warga Jepang dan negara tetangga. Satu kekhawatiran besar adalah klaim TEPCO tentang keamanan air mungkin salah.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Science pada Agustus 2020 menemukan jejak beberapa isotop radioaktif lainnya di air limbah Fukushima, banyak di antaranya membutuhkan waktu lebih lama untuk berkurang dampak buruknya daripada tritium.

Baca juga: Radiasi Nuklir Chernobyl Naik 16 Kali dari Level Normal, Ini Sebabnya

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X