Daftar Diet Terbaik 2021: Mediterania Peringkat Pertama, Keto Terendah

Kompas.com - 06/01/2021, 12:00 WIB
Ilustrasi diet Mediterania SHUTTERSTOCKIlustrasi diet Mediterania

KOMPAS.com - Diet Mediterania disebut sebagai diet terbaik 2021. Penghargaan yang diraih selama empat tahun berturut-turut ini diumumkan oleh US News & World Report pada Senin (4/1/2021).

Menyusul diet mediterania, diet DASH di bawahnya.

Diet DASH adalah singkatan dari Dietary Approaches to Stop Hypertension. Namanya cukup to the point. Intinya, saat menjalani pola makan ini Anda perlu mengonsumsi lebih banyak makanan sehat, mengurangi konsumsi makanan yang tinggi kolesterol dan lemak jenuh, serta membatasi konsumsi garam, gula, dan daging merah.

Urutan diet yang terbaik hingga terburuk

Diet Mediterania memiliki beberapa keunggulan sehingga membuatnya lebih unggul dari yang lain. Selain sangat mudah diakses, berkelanjutan, diet ini pun tidak banyak membatasi pola makan seseorang.

Diet Mediterania fokus kepada makanan-makanan berbasis tanaman, sayur, buah, biji-bijian, kacang-kacangan, minyak zaitun, dan ikan. Diet ini juga tidak terlalu ketat karena masih memperbolehkan konsumsi beberapa makanan. Jika mengikuti diet mediterania secara tepat, kita dapat memperoleh manfaatnya.

Dilansir CNN, Selasa (5/1/2021), selagi diet Mediterania dan Dash paling unggul, diet dukan dan keto yang menekankan makanan tinggi protein atau makanan tinggi lemak dengan minim karbohidrat berada di urutan terakhir.

Diet dukan dan keto dinilai buruk oleh para ahli gizi karena sangat ketat, sulit diikuti, dan menghilangkan seluruh kelompok makanan yang tidak direkomendasikan dalam pedoman diet.

Untuk menilai diet, panel ahli penyakit jantung dan diabetes, nutrisi, diet, psikologi makanan, dan obesitas meninjau penelitian tentang diet dari jurnal medis, laporan pemerintah, dan sumber lainnya.

"Kami telah mengumpulkan panel yang terdiri dari 24 ahli yang fokus terkait pola makan, penurunan berat badan, dan obesitas," kata Angela Haupt, editor pengelola kesehatan di US News & World Report.

"Mereka menilai setiap diet berdasarkan sejumlah ukuran yang berbeda, termasuk seberapa diet itu mudah diikuti, seberapa besar kemungkinannya mengarah pada penurunan berat badan jangka panjang, seberapa sehat dan aman diet itu, dan seberapa efektifnya dalam mencegah atau mengelola kondisi kronis seperti diabetes dan penyakit jantung," katanya.

Ilustrasi. Ilustrasi.

Halaman:


Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksin AstraZeneca Tiba di Indonesia, BPOM Terbitkan Izin Penggunaan Darurat

Vaksin AstraZeneca Tiba di Indonesia, BPOM Terbitkan Izin Penggunaan Darurat

Fenomena
Serba-serbi Hewan: Bisakah Hewan Melahirkan Anak Kembar?

Serba-serbi Hewan: Bisakah Hewan Melahirkan Anak Kembar?

Oh Begitu
80 Persen Vaksin AstraZeneca dan Pfizer Efektif Cegah Covid-19 Parah

80 Persen Vaksin AstraZeneca dan Pfizer Efektif Cegah Covid-19 Parah

Oh Begitu
Serangga Ini Pura-pura Mati hingga 1 Jam, untuk Apa?

Serangga Ini Pura-pura Mati hingga 1 Jam, untuk Apa?

Fenomena
Vaksin AstraZeneca Terbuat dari Adenovirus Simpanse, Apa Itu?

Vaksin AstraZeneca Terbuat dari Adenovirus Simpanse, Apa Itu?

Oh Begitu
Untuk Pertama Kali, Astronom Temukan Aktivitas Tektonik di Eksoplanet

Untuk Pertama Kali, Astronom Temukan Aktivitas Tektonik di Eksoplanet

Oh Begitu
Foto Viral Kuda Nil Taman Safari Diberi Makan Botol Plastik, Ahli: Bisa Sebabkan Kematian

Foto Viral Kuda Nil Taman Safari Diberi Makan Botol Plastik, Ahli: Bisa Sebabkan Kematian

Oh Begitu
Nikmati Selagi Bisa, Tingkat Oksigen di Bumi Turun Drastis 1 Miliar Tahun Lagi

Nikmati Selagi Bisa, Tingkat Oksigen di Bumi Turun Drastis 1 Miliar Tahun Lagi

Oh Begitu
Baru Tiba di Indonesia, Ini 6 Perbedaan Vaksin AstraZeneca Vs Sinovac

Baru Tiba di Indonesia, Ini 6 Perbedaan Vaksin AstraZeneca Vs Sinovac

Oh Begitu
Penggundulan Hutan untuk Sawit Turun 58 Persen pada 2020, Kok Bisa?

Penggundulan Hutan untuk Sawit Turun 58 Persen pada 2020, Kok Bisa?

Fenomena
Terapi Ini bisa Bantu Pulihkan Anosmia Pasien Covid-19

Terapi Ini bisa Bantu Pulihkan Anosmia Pasien Covid-19

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Ghosting Disebut Psikolog Kurang Ajar | Nyeri Punggung Gejala Baru Covid-19

[POPULER SAINS] Ghosting Disebut Psikolog Kurang Ajar | Nyeri Punggung Gejala Baru Covid-19

Oh Begitu
Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter, Ini Daftar Wilayahnya

Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter, Ini Daftar Wilayahnya

Oh Begitu
Waspadai Immunosenescence pada Lansia, Bisa Sebabkan Penurunan Respons pada Vaksinasi

Waspadai Immunosenescence pada Lansia, Bisa Sebabkan Penurunan Respons pada Vaksinasi

Oh Begitu
Fosil Anjing Purba di Jerman, Ungkap Asal Mula Domestikasi Serigala

Fosil Anjing Purba di Jerman, Ungkap Asal Mula Domestikasi Serigala

Fenomena
komentar
Close Ads X