Klaster Pertama Covid-19, Ahli Pertanyakan Orang yang Meninggal Awal Maret

Kompas.com - 25/10/2020, 19:02 WIB
Petugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, Kamis (9/9/2020). Petugas administrasi TPU Pondok Ranggon mengatakan saat ini jumlah makam yang tersedia untuk jenazah dengan protokol COVID-19 tersisa 1.069 lubang makam, dan diperkirakan akan habis pada bulan Oktober apabila kasus kematian akibat COVID-19 terus meningkat. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, Kamis (9/9/2020). Petugas administrasi TPU Pondok Ranggon mengatakan saat ini jumlah makam yang tersedia untuk jenazah dengan protokol COVID-19 tersisa 1.069 lubang makam, dan diperkirakan akan habis pada bulan Oktober apabila kasus kematian akibat COVID-19 terus meningkat.

KOMPAS.com - Diketahui ada 11 orang yang masuk dalam kluster pertama Covid-19 di Indonesia. Mereka adalah orang-orang yang terpapar di Jakarta.

Hal ini dilaporkan dalam riset terbaru berjudul The Identification of First Covid-19 Cluster in Indonesia, yang terbit di jurnal The American Society of Tropical Medicine and Hygiene edisi Oktober 2020.

Laporan ini disusun oleh tim gabungan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Indonesia Research Partnership on Infectious Disease (INA-RESPOND), bersama Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes.

Dalam laporan tersebut, tercatat ada satu pria berumur 52 tahun positif Covid-19 yang meninggal dunia pada 3 Maret 2020.

Sehari sebelumnya, pada 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo dan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengumumkan secara resmi kasus pertama Covid-19 di Indonesia.

Baca juga: Menelusuri Klaster Pertama Penularan Covid-19 di Indonesia

Kala itu di Istana Kepresidenan Jakarta, Jokowi mengumumkan dua orang WNI yang dikonfirmasi positif Covid-19.

Adalah wanita berusia 31 tahun (kasus #1) dan ibunya berusia 64 tahun (kasus #2) yang melakukan kontak dengan orang Jepang yang dinyatakan terjangkit virus corona setelah berada di Indonesia untuk acara menari selama satu hari dan pergi ke Malaysia.

Kasus #1 dan #2 diketahui setelah mereka melakukan usap tenggorokan dan dahak untuk tes real time polymerase chain reaction (RT PCR) seperti yang disarankan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Setelah itu, tracing atau pelacakan dilakukan untuk mengetahui siapa saja yang melakukan kontak erat dengan turis Jepang, kasus #1, dan kasus #2.

Ada 113 spesimen kontak dekat termasuk pengemudi, pramusaji, peserta di acara dansa, keluarga, teman, dan staf medis yang diuji.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X