Kental Manis Tinggi Gula, Kenali Bahayanya untuk Kesehatan Anak

Kompas.com - 25/10/2020, 10:01 WIB
Ilustrasi susu kental manis dalam kaleng. SHUTTERSTOCK/NZOZOIlustrasi susu kental manis dalam kaleng.

KOMPAS.com - Banyak orang belum memahami, bahwa kental manis bukanlah produk susu, melainkan hanya minuman manis dari gula yang beraroma susu.

Itu karena susu yang terkandung di dalamnya hanya sedikit sekali.

Sehingga, seharusnya kental manis tidak patut dikonsumsi oleh anak-anak.

Sebab, kebutuhan nutrisi akan gula pada tubuh anak-anak tidaklah banyak. Terlalu banyak mengonsumsi makanan atau minuman tinggi gula, justru dapat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak-anak.

Baca juga: Riset: 1 dari 3 Ibu-ibu Masih Salah Persepsi tentang Kental Manis

Bahaya mengonsumsi kental manis bagi anak-anak

Dari berbagai brand produk kental manis, kandungan gula yang ada di dalamnya mencapai 40-50 persen.

Hal ini mengkhawatirkan, karena berdasarkan penelitian, kandungan tinggi gula, lebih memiliki efek mematikan daripada kandungan lemak tinggi.

Dokter spesialis anak konsultan nutrisi dan penyakit metabolik, Dr M F Conny Tanjung SpA(K) dari  Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan, bahanya kental manis menyangkut dengan obesitas, karena bisa menyebabkan meningkatnya insulin yang disebabkan terlalu banyak gula.

Konsumsi gula lebih dari 10 persen energi total juga berisiko terhadap menurunnya sensitivitas insulin, dan ini akan memicu hiperglikemia atau kadar gula darah lebih tinggi dari batas normal.

"Pada prinsipnya kami (IDAI) tidak menutujui kalau ini (kental manis) dibilang produk susu, karena berbahaya ya kalau bilang ini (kental manis) adalah susu," kata Conny dalam diskusi daring bertajuk Diskusi Terbatas 2 Tahun Per BPOM No 31 Tahun 2018: Pemerintah Setengah Hati Mengurusi Susu Kental Manis, Kamis (15/10/2020).

Seperti diketahui, kadar gula yang tinggi juga meningkatkan risiko diabetes, obesitas dan merusak gigi pada anak-anak.

Dikatakan Conny, kental manis itu pada awalnya hanya untuk menambah cita rasa atau sebagai topping, bukan pengganti susu, bukan pengganti ASI dan bukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang berasal dari susu untuk anak-anak.

"Kalau sebagai toping atau penyedap itu boleh," ujarnya.

Namun demikian, Conny menegaskan, konsumsi kental manis sebagai topping juga harus sangat dibatasi.

Sedangkan, bagi ibu yang masih bisa menyusui, Conny menyarankan untuk tetap berkomitmen memberikan ASI hingga dua tahun.

"ASI adalah yang terbaik untuk bayi dan anak-anak tanpa ada pengganti lainnya, kecuali memang pada beberapa kondisi anak yang alergi terhadap ASI, itu pun konsumsi pengganti ASI harus dengan saran dokter," jelas Conny.

Baca juga: Kental Manis Tinggi Kandungan Gula, Perhatikan Konsumsinya pada Anak

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Studi: Materi Gelap Ini Ganggu Pergerakan Galaksi Bima Sakti, Apa Itu?

Studi: Materi Gelap Ini Ganggu Pergerakan Galaksi Bima Sakti, Apa Itu?

Oh Begitu
Kali Pertama, Virus Corona Kerabat SARS-CoV-2 Ditemukan di Jepang dan Kamboja

Kali Pertama, Virus Corona Kerabat SARS-CoV-2 Ditemukan di Jepang dan Kamboja

Fenomena
Vaksin Oxford 70 Persen Efektif dan Mudah Disimpan, Epidemiolog: Cocok untuk Indonesia

Vaksin Oxford 70 Persen Efektif dan Mudah Disimpan, Epidemiolog: Cocok untuk Indonesia

Oh Begitu
Misi Bersejarah, China Luncurkan Chang'e 5 untuk Ambil dan Kembalikan Sampel Bulan

Misi Bersejarah, China Luncurkan Chang'e 5 untuk Ambil dan Kembalikan Sampel Bulan

Fenomena
BPOM Targetkan Januari Beri Izin Vaksin Sinovac, Ini Kata Epidemiolog

BPOM Targetkan Januari Beri Izin Vaksin Sinovac, Ini Kata Epidemiolog

Oh Begitu
WHO: Vaksin Covid-19 yang Berhasil Harus Didistribusikan dengan Adil

WHO: Vaksin Covid-19 yang Berhasil Harus Didistribusikan dengan Adil

Oh Begitu
Studi Baru Tunjukkan Kapan Virus Corona Covid-19 Paling Menular

Studi Baru Tunjukkan Kapan Virus Corona Covid-19 Paling Menular

Kita
Selain Membersihkan Tubuh, Mandi Bermanfaat untuk Kesehatan Fisik dan Mental

Selain Membersihkan Tubuh, Mandi Bermanfaat untuk Kesehatan Fisik dan Mental

Oh Begitu
Jarang Terjadi, Monyet Ini Tertangkap Melakukan Tindakan Kanibalisme

Jarang Terjadi, Monyet Ini Tertangkap Melakukan Tindakan Kanibalisme

Oh Begitu
Misteri Tubuh Manusia: Bagaimana Kita Bedakan Wajah Pria dan Wanita?

Misteri Tubuh Manusia: Bagaimana Kita Bedakan Wajah Pria dan Wanita?

Kita
Keanekaragaman Indonesia Peringkat Pertama Pusat Biodiversitas Dunia

Keanekaragaman Indonesia Peringkat Pertama Pusat Biodiversitas Dunia

Oh Begitu
Ilmuwan Ciptakan Ulang Aroma Eropa Abad Ke-16, Seperti Apa?

Ilmuwan Ciptakan Ulang Aroma Eropa Abad Ke-16, Seperti Apa?

Fenomena
Usai Perjalanan 5,24 Miliar Kilometer, Hayabusa2 Kembali ke Bumi

Usai Perjalanan 5,24 Miliar Kilometer, Hayabusa2 Kembali ke Bumi

Oh Begitu
Kenakalan Bocah Kleptomania Pencandu Narkoba, Bisakah Sembuh dari Kecanduan?

Kenakalan Bocah Kleptomania Pencandu Narkoba, Bisakah Sembuh dari Kecanduan?

Oh Begitu
Bocah 8 Tahun Suka Mencuri Diduga Kleptomania, Apa Itu?

Bocah 8 Tahun Suka Mencuri Diduga Kleptomania, Apa Itu?

Oh Begitu
komentar
Close Ads X