Demi Kelestarian Badak di Indonesia, Ini Upaya Konservasi yang Dilakukan

Kompas.com - 30/09/2020, 11:03 WIB
Ilustrasi badak. SHUTTERSTOCKIlustrasi badak.

KOMPAS.com - Empat puluh persen dari spesies badan di dunia dan dua dari lima jenis badak di dunia, berada di Indonesia, yaitu badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dan badak Jawa (Rhinoceros sondaicus).

Menurut Wahjudi Wardojo, Penasihat senior Menteri LHK dan penasihat senior Yayasan Konservasi Alam Nusantara, hingga saat ini hanya tiga peranan badak bagi Indonesia, yaitu satwa browser – di mana badak memakan semak dan pucuk dedaunan. Pucuk daun yang tumbuh menyerap CO2 lebih banyak ketimbang daun tua.

Kedua, membuka jalur, sehingga memungkinkan sinar matahari mencapai lantai hutan untuk pertumbuhan biji tanaman baru.

Dan ketiga, penebar biji tumbuhan melalui kototran atau tubuh badak.

Baca juga: 3 Alasan Mengapa Perlu Menjaga Populasi Badak Sumatera Asli Indonesia

“Saat ini yang kita tahu hanya tiga peran itu. Ketiga peran itu bisa digantikan oleh yang lain. Karena itu penting bagi kita untuk segera mengetahui peran lain yang dilakukan badak. Jangan sampai kita mengetahuinya, setelah badak habis,” ujar Wahjudi dalam webinar Kagama Goes Green 3: World Rhino Day 2020, (27/9/2020).

Dalam kesempatan yang sama, Direktur KKH Ditjen KSDAE KLHK, Drh Indra Exploitasia, M.Si, mengungkap bahwa saat ini badak sumatera yang ada di TN Gunung Leuser, TN Way ambas, dan TN Bukit Barisan Selatan jumlahnya kurang dari 100 ekor.

Sedangkan, badak sumatera di wilayah Kalimantan, jumlahnya kurang dari 15 ekor. Sementara badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon, populasinya hanya 72 ekor.

Indra juga menyebut ada berbagai ancaman kelestarian badak yang harus dihadapi, seperti berkurangnya luas hutan yang menjadi habitat badak di Sumatera, fragmentasi habitat, gangguan tingginya aktivitas manusia di sekitar habitat, serta banyaknya perusahaan tambang yang berada di sekitar habitat.

Selain itu, informasi morfologi dan status kesehatan reproduksi badak di Kalimantan belum banyak diketahui.

“Untuk di Ujung Kulon proteksinya memang lebih baik, karena ada di taman nasional. Tapi ternyata ancamannya tidak hanya masalah fragmentasi habitat, lebih ke masalah inbreeding,” ujar Indra.

“Ini karena keragaman genetik yang ada di sana terbatas, sehingga membuat badak sulit mencari pasangan yang keragaman genetiknya berbeda,” imbuhnya.

Baca juga: Badak Sumatera Terancam Punah, Yayasan Kehati Jalankan Program TFCA

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X