Kompas.com - 22/09/2020, 18:06 WIB
Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). ShutterstockIlustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

KOMPAS.com - Koalisi Masyarakat Sipil Indonesia menghargai keterbukaan Komisi VII DPR RI dalam mengadakan Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama beberapa pemangku kepentingan, untuk membahas draf Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Terbarukan (RUU EBT), Kamis (17/9/2020).

Pembahasan RUU EBT ini menjadi harapan hadirnya payung hukum yang kuat untuk mendukung pengembangan energi terbarukan demi mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional, serta komitmen Indonesia dalam menanggulangi dampak perubahan iklim.

Namun, Koalisi Masyarakat Sipil Indonesia juga menyayangkan masih adanya isu pembahasan mengenai pemanfaatan energi nuklir dan energi baru berbasis fosil yang tidak berkelanjutan dalam draf RUU yang beredar.

Adapun energi baru tidak berkelanjutan yang masih masuk dalam pembahasan tersebut, seperti gas metana, gasifikasi batu bara, dan likuifaksi batu bara.

Baca juga: Hasil Penyelidikan Radiasi Nuklir di Serpong Ungkap Efek Buruk Paparannya

Koalisi ini berpandangan bahwa Komisi VII DPR RI seharusnya mengeluarkan isu nuklir dan energi baru dari draf RUU EBT dan berfokus dalam membangun kerangka kebijakan yang komprehensif untuk energi terbarukan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Untuk diketahui, fokus energi terbarukan yang baik untuk dimanfaatkan yaitu tenaga surya, air, angin, bioenergi dan panas bumi.

Seharusnya tidak dimasukkan ke RUU EBT

Peneliti dari Yayasan Indonesia Cerah, Wira Dillon, menjelaskan bahwa isu nuklir seharusnya tidak dimasukkan karena nuklir telah dibahas secara tersendiri di dalam UU No. 10 Tahun 1997 tentang ketenaganukliran.

Bahkan, pembahasan tentang pengusahaan nuklir dalam ketenagalistrikan telah dimasukkan dalam draf RUU Cipta Kerja (Omnibus Law).

Selain itu, Kebijakan Energi Nasional yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.79 Tahun 2014 juga menyebutkan bahwa nuklir merupakan pilihan terakhir bagi penyediaan energi di Indonesia.

"Nuklir memang seharusnya hanya jadi pilihan terakhir mengingat cadangan uranium kita tidak terlalu banyak," kata Wira.

Baca juga: Belajar Penanganan Radiasi di Serpong, Siapkah Indonesia Bikin Nuklir?

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.