Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Berkaca pada Turkiye, Ahli Konstruksi Bilang Bangunan Harus Tahan Gempa

Kompas.com - 10/02/2023, 20:30 WIB
Aisyah Sekar Ayu Maharani,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

Sumber economist

JAKARTA, KOMPAS.com - Gempa bumi berkekuatan 7,8 dan 7,5 skala richter mengguncang Provinsi Kahramanmaras, Turkiye selatan pada Senin (6/2/2023).

Bencana alam tersebut juga dirasakan di Suriah utara. Dilansir dari The Economist, Kamis (9/2/2023), tercatat ada lebih dari 3.400 korban jiwa meninggal dunia akibat bencana ini.

Diketahui terdapat tiga lempeng tektonik di Turkiye, yaitu Lempeng Anatolia, Lempeng Arab dan Lempeng Eurasia.

Adapun biasanya gempa bumi Turkiye terjadi di sepanjang patahan Anatolia utara yang berbatasan dengan Lempeng Eurasia di dekat Istanbul.

Pada tragedi kemarin, gempa bumi terjadi di sepanjang patahan Anatolia timur yang berbatasan dengan Lempeng Arab.

Bencana ini menyita perhatian dunia karena dampaknya yang cukup besar. Tak sedikit beredar di media sosial video detik-detik bangunan rubuh pasca-gempa terjadi.

Baca juga: Ini Teknologi Peredam Gempa di Beberapa Jalan Tol Indonesia

Berdasarkan analisis, gempa bumi Turkiye relatif dangkal atau hanya sedalam 18 kilometer di bawah tanah. Ini menyebabkan jumlah gaya yang dirasakan di permukaan cukup besar.

Sebagai antisipasi bencana pada kemudian hari, Turkiye membutuhkan bangunan tahan gempa.

Sayangnya, bangunan-bangunan di Turkiye sebelum gempa terakhir terjadi, tidak memiliki kriteria seperti itu.

Terlebih, banyak bangunan di Turkiye merupakan bangunan lama yang belum menerapkan teknologi tahan gempa.

Kendati demikian, Ahli Konstruksi Davy Sukamta mengatakan, ilmu kegempaan kian berkembang, membuat konstruksi bangunan baru bisa mengikuti aturan yang lebih modern.

"Sehabis kejadian gempa, umumnya para ahli gempa mempelajari kegagalan bangunan yang terjadi. Hasilnya dikembangkan untuk jadi panduan peraturan tahan gempa, setelah dikaji lewat uji-uji di laboratorium. Jadi wajar kalau yang lama lebih rentan," kata Davy saat dihubungi Kompas.com.

Jelasnya, ada teknologi tahan gempa yang bisa memisahkan gedung dari guncangan gempa, yaitu isolasi seismik.

Ini berupa bantalan karet dengan sisipan pelat baja yang mampu meredam gempa, sehingga getaran ke dalam gedung bisa terkoreksi.

"Teknologi ini banyak digunakan di Jepang pasca-gempa Kobe tahun 1995 silam," imbuh Davy.

Isolasi seismik juga sangat disarankan untuk bangunan rumah sakit (RS) mengingat fungsinya yang paling dibutuhkan setelah bencana terjadi.

Sedangkan untuk rumah yang terbilang berukuran lebih kecil dari fasilitas umum, bisa menggunakan pengikat atau bingkai beton bertulang di dinding.

Oleh karena itu, mengacu pada kerusakan dahsyat yang diakibatkan gempa di Turkiye dan Suriah, penyelenggara konstruksi di Indonesia hendaknya mengikuti panduan dari Kementerian PUPR.

"Untuk panduan membangun rumah bisa ikut panduan Kementerian PUPR. Sudah ada buku petunjuknya," tutup Davy.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber economist


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com