Kompas.com - 08/08/2022, 11:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) melalui situs resminya mencatat, Senin (8/8/2022), Indonesia menghasilkan sampah sebanyak sekitar 28 juta ton sampah per tahun.

SIPSN merupakan bagian dari Direktorat Penanganan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

Baca juga: Jangan Dibuang, Ini Cara Mengolah Sampah Skincare

Dalam data sepanjang 2021, sebanyak 40,9 persen sampah berasal dari rumah tangga. Untuk jenis sampah secara keseluruhan, limbah plastik menyumbang 17,4 persen dari 28 juta ton sampah per tahun tersebut.

Tentunya, hal ini sangat mengkhawatirkan lantaran plastik bukan jenis sampah yang bisa didaur ulang karena tidak berasal dari senyawa biologis. Artinya, plastik bukan jenis sampah yang bisa terurai (non-biodegradable). 

Baca juga: Mendominasi TPA, Ini Cara Tepat Mengelola Sampah Rumah Tangga

Komunitas yang peduli dengan limbah plastik rumah tangga

Salah satu produk hasil mendaur ulang sampah plastik rumah tangga milik Recycling Village.dok. Recycling Village Salah satu produk hasil mendaur ulang sampah plastik rumah tangga milik Recycling Village.
Ada sebuah komunitas bernama Recycling Village asal Desa Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung.

Komunitas ini bergerak dalam bidang daur ulang sampah plastik rumah tangga yang didirikan pada 2021.

“Kami khusus mengelola sampah plastik rumah tangga seperti kantong kresek, bubble wrap, dan sampah plastik lainnya yang enggak ada harganya di industri ini seperti botol plastik dan tutup botol,” terang Marketing Officer Recycling Village, Addini Alifa Anwari, ditemui di Housewarming, The Flavor Bliss, Alam Sutera, Tangerang Selatan, baru-baru ini. 

Baca juga: Hindari, 9 Kebiasaan Ini Dapat Menghasilkan Banyak Limbah Makanan

Perjalanan Recycling Village dimulai ketika berpikir untuk membantu mengurangi masalah sampah di Indonesia.

Menurut Addini, sekecil apa pun langkah yang dilakukan, seperti mendaur ulang satu sampah plastik, itu sudah membantu mengurangi limbah plastik rumah tangga yang tidak bisa terdegradasi di tempat pembuangan akhir (TPA).

“Dari situ, kami berusaha membuat apa yang tidak memiliki nilai menjadi bernilai supaya orang-orang bisa menghargai bahwa kantong kresek itu bukan sekadar sampah. Mereka bisa menjadi barang yang lucu,” jelasnya. 

Baca juga: Banyak Sampah Produk Skincare di Rumah? Ini Solusi Menguranginya

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.