Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

FDA AS Setujui Pil Pertama untuk Atasi Depresi Pascamelahirkan

Kompas.com - 05/08/2023, 09:31 WIB
Irawan Sapto Adhi

Penulis

Sumber AFP

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) pada Jumat (4/8/2023) untuk kali pertama menyetujui pil untuk mengatasi depresi pascamelahirkan.

Depresi pascamelahirkan atau postpartum depression (PPD) adalah kondisi yang diyakini telah memengaruhi sekitar setengah juta perempuan di AS setiap tahunnya.

Dalam sebuah pernyataan, FDA menyatakan, obat antidepresan yang disebut zuranolone akan menjadi obat oral pertama yang diindikasikan untuk mengobati PPD pada orang dewasa.

Baca juga: FDA Beri Persetujuan Penuh Vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech

"Hingga saat ini, pengobatan untuk PPD hanya tersedia dalam bentuk suntikan infus yang diberikan oleh penyedia layanan kesehatan di fasilitas layanan kesehatan tertentu," ungkap FDA.

1 dari 8 perempuan alami gejala PPD

Kepala petugas medis di Carrot Fertility, sebuah perusahaan perawatan kesehatan di Menlo Park, California, Dr Asima Ahmad, mengatakan sekitar satu dari delapan perempuan tercatat mengalami gejala PPD setelah melahirkan, dan di antara mereka yang melaporkan gejala, 75 persennya tidak diobati.

"Angka-angka ini meningkat pada populasi minoritas," kata dia, dikutip dari AFP.

Ahmad mengatakan, sebanyak 81 persen perempuan kulit hitam dan 76 persen perempuan Hispanik mengaku ingin belajar lebih banyak tentang kesehatan mental pascamelahirkan sebelum memiliki anak. Angka ini lebih besar dibandingkan dengan 70 persen perempuan secara keseluruhan.

"Di saat kita melihat meningkatnya angka kematian ibu, dan kesenjangan rasial yang signifikan dalam hasil kehamilan, kita perlu fokus pada solusi, dan itu termasuk mengatasi depresi pascamelahirkan," ucapnya.

Pil yang dirancang khusus untuk depresi pascamelahirkan ini telah terbukti bekerja lebih cepat dibandingkan antidepresan lainnya dan dirancang untuk dikonsumsi hanya dalam waktu dua minggu.

Baca juga: FDA: Ratusan Kematian Hewan Peliharaan AS Terkait Merek Midwestern

Menurut Ahmad, uji coba pil ini menunjukkan efek sampingnya tidak separah antidepresan lain yang saat ini digunakan, yang dapat menyebabkan hilangnya kesadaran secara tiba-tiba, penambahan berat badan atau disfungsi seksual.

"Depresi pascapersalinan adalah kondisi medis serius"

Kepala psikiatri di Pusat Evaluasi dan Penelitian Obat FDA, Tiffany Farchione, mengatakan depresi pascapersalinan adalah kondisi serius dan berpotensi mengancam nyawa.

Dalam kondisi ini, perempuan mengalami kesedihan, rasa bersalah, tidak berharga. Bahkan, pada kasus yang parah, ibu melahirkan bisa memiliki pikiran untuk melukai diri sendiri atau anaknya.

"Memiliki akses terhadap obat oral akan menjadi pilihan yang bermanfaat bagi banyak perempuan yang menghadapi perasaan yang ekstrem dan terkadang mengancam jiwa," katanya.

Pil ini akan dipasarkan dengan merek Zurzuvae, dan dikembangkan oleh Sage Therapeutics yang berbasis di Massachusetts.

Baca juga: Otoritas Obat AS Setujui Antibodi Monoklonal Baru untuk Covid-19 Parah

Menurut New York Times, satu-satunya obat lain yang disetujui untuk depresi pascapersalinan adalah brexanolone, yang disetujui oleh FDA pada 2019.

Tetapi, obat ini membutuhkan infus intravena selama 60 jam di rumah sakit, dan harganya terbilang tinggi, yakni 34.000 dollar AS (sekitar Rp515,2 juta).

Meski demikian, belum ada harga yang diumumkan untuk pil oral baru Zurzuvae.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Sebelum Ebrahim Raisi, Ini Deretan Pemimpin Lain yang Tewas dalam Drama Penerbangan

Sebelum Ebrahim Raisi, Ini Deretan Pemimpin Lain yang Tewas dalam Drama Penerbangan

Global
Joe Biden Kecam ICC karena Berupaya Menangkap PM Israel

Joe Biden Kecam ICC karena Berupaya Menangkap PM Israel

Global
[POPULER GLOBAL] Presiden Iran Meninggal Kecelakaan | Kronologi Penemuan Helikopter Raisi

[POPULER GLOBAL] Presiden Iran Meninggal Kecelakaan | Kronologi Penemuan Helikopter Raisi

Global
China: Dinamika Politik Taiwan Tak Akan Ubah Kebijakan 'Satu China'

China: Dinamika Politik Taiwan Tak Akan Ubah Kebijakan "Satu China"

Global
Sejarah Orang Jawa di Kaledonia Baru, Negara yang Sedang Dilanda Kerusuhan

Sejarah Orang Jawa di Kaledonia Baru, Negara yang Sedang Dilanda Kerusuhan

Global
Ketika 706 Orang Bernama Kyle Berkumpul, tapi Gagal Pecahkan Rekor...

Ketika 706 Orang Bernama Kyle Berkumpul, tapi Gagal Pecahkan Rekor...

Global
Meski Alami Luka Bakar, Jenazah Presiden Iran Dapat Dikenali dan Tak Perlu Tes DNA

Meski Alami Luka Bakar, Jenazah Presiden Iran Dapat Dikenali dan Tak Perlu Tes DNA

Global
ICC Ancang-ancang Keluarkan Surat Perintah Penangkapan PM Israel dan Pemimpin Hamas

ICC Ancang-ancang Keluarkan Surat Perintah Penangkapan PM Israel dan Pemimpin Hamas

Global
Ukraina Jatuhkan 29 Drone Rusia dalam Semalam, Targetkan Barat, Tengah, dan Selatan

Ukraina Jatuhkan 29 Drone Rusia dalam Semalam, Targetkan Barat, Tengah, dan Selatan

Global
Hari Ini, Kondisi PM Slovakia Stabil dan Membaik

Hari Ini, Kondisi PM Slovakia Stabil dan Membaik

Global
Jasad Presiden Iran Ebrahim Raisi Ditemukan dan Dibawa ke Tabriz, Operasi Pencarian Diakhiri

Jasad Presiden Iran Ebrahim Raisi Ditemukan dan Dibawa ke Tabriz, Operasi Pencarian Diakhiri

Global
Penikaman di SD China, 2 Orang Tewas, 10 Lainnya Terluka

Penikaman di SD China, 2 Orang Tewas, 10 Lainnya Terluka

Global
Apa Tujuan Asli Putin Menginvasi Ukraina?

Apa Tujuan Asli Putin Menginvasi Ukraina?

Internasional
Hamas: Ebrahim Raisi, Sosok Terhormat Pendukung Palestina

Hamas: Ebrahim Raisi, Sosok Terhormat Pendukung Palestina

Global
ISIS Serang Wisatawan Asing di Afghanistan, Sektor Pariwisata Terguncang

ISIS Serang Wisatawan Asing di Afghanistan, Sektor Pariwisata Terguncang

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com