Rusia Klaim Tidak Mau Perang Lawan Ukraina, tapi...

Kompas.com - 28/01/2022, 21:07 WIB
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov saat konferensi pers di Jenewa, 21 Januari 2022 setelah bertemu Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken. AFP/GIOVANNI GREZZIMenteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov saat konferensi pers di Jenewa, 21 Januari 2022 setelah bertemu Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken.

MOSKWA, KOMPAS.com - Rusia tidak menginginkan perang, tetapi tidak akan membiarkan kepentingannya diabaikan, kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Jumat (28/1/2022) saat ketegangan terus membara dengan Ukraina.

Barat menuduh Rusia menumpuk 100.000 tentara di perbatasan dengan Ukraina dan mengancam bakal menjatuhkan sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya jika Moskwa menyerang.

“Jika itu tergantung pada Rusia, tidak akan ada perang. Kami tidak menginginkan perang,” kata Lavrov dalam wawancara dengan kepala empat stasiun radio Rusia.

Baca juga: Kenapa Rusia-Ukraina Perang dan Apa yang Diincar Putin?

"Kami juga tidak akan membiarkan kepentingan kami diabaikan", tambahnya dikutip dari AFP.

Komentarnya muncul setelah Amerika Serikat dan NATO menanggapi tuntutan keamanan yang diajukan oleh Rusia sebagai imbalan atas deeskalasi di Ukraina.

Tuntutan tersebut termasuk larangan Ukraina bergabung dengan NATO dan tentang pangkalan militer baru di negara-negara bekas Soviet.

Rusia pada Kamis (27/1/2022) mengatakan, pandangannya tidak dibahas dalam tanggapan yang diterimanya, tetapi tidak mengesampingkan pembicaraan lebih lanjut.

Kemudian, Lavrov pada Jumat berkata, tanggapan AS mengandung butiran rasionalitas pada isu-isu sekunder.

Dia menambahkan bahwa tanggapan dari AS hampir merupakan contoh kepatutan diplomatik, sementara tanggapan NATO sangat diidealkan.

"Saya sedikit malu dengan orang-orang yang menulis teks-teks ini," kata Lavrov.

Lavrov berkata, penerapan sanksi Barat lebih lanjut seperti tindakan pribadi terhadap Presiden Vladimir Putin dan pemotongan Rusia dari sistem pembayaran SWIFT, akan setara dengan memutuskan hubungan dengan Rusia.

"Saya rasa tidak ada yang menginginkan ini," katanya.

Baca juga: Kenapa Rusia Tidak Masuk NATO? Ini 5 Alasannya

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kali Pertama dalam 50 Tahun, Kongres AS Bicarakan Soal UFO

Kali Pertama dalam 50 Tahun, Kongres AS Bicarakan Soal UFO

Global
WHO: Omicron Bikin Kebijakan Nol-Covid China Tidak Berkelanjutan

WHO: Omicron Bikin Kebijakan Nol-Covid China Tidak Berkelanjutan

Global
Turki Kembali Keberatan Swedia dan Finlandia Gabung NATO

Turki Kembali Keberatan Swedia dan Finlandia Gabung NATO

Global
Covid Korea Utara: 3 Pesawat Terbesar Dikirim ke China untuk Ambil Bantuan Medis

Covid Korea Utara: 3 Pesawat Terbesar Dikirim ke China untuk Ambil Bantuan Medis

Global
Rusia Klaim 1.730 Tentara Ukraina Menyerah di Pabrik Baja Azovstal

Rusia Klaim 1.730 Tentara Ukraina Menyerah di Pabrik Baja Azovstal

Global
Polandia Janji Bantu Swedia dan Finlandia jika Diserang Sebelum Jadi Anggota NATO

Polandia Janji Bantu Swedia dan Finlandia jika Diserang Sebelum Jadi Anggota NATO

Global
Kisah Atlet Bulu Tangkis dari Indonesia Alih Profesi Jadi Pebisnis Kue di Jerman

Kisah Atlet Bulu Tangkis dari Indonesia Alih Profesi Jadi Pebisnis Kue di Jerman

Global
Lewat Sidang Kejahatan Perang, Tentara Rusia Minta Maaf kepada Janda Ukraina

Lewat Sidang Kejahatan Perang, Tentara Rusia Minta Maaf kepada Janda Ukraina

Global
Ketika Burj Khalifa Gedung Tertinggi di Dunia Hilang Ditelan Badai Pasir...

Ketika Burj Khalifa Gedung Tertinggi di Dunia Hilang Ditelan Badai Pasir...

Global
Kemlu: Penolakan Masuk terhadap UAS, Kedaulatan Singapura

Kemlu: Penolakan Masuk terhadap UAS, Kedaulatan Singapura

Global
Teh Madu dan Iklan Layanan Masyarakat, Cara Korut 'Hadapi' Covid-19

Teh Madu dan Iklan Layanan Masyarakat, Cara Korut "Hadapi" Covid-19

Global
Kasus Covid-19 Korea Utara Diduga Sudah Mendekati Angka 2 Juta

Kasus Covid-19 Korea Utara Diduga Sudah Mendekati Angka 2 Juta

Global
Rusia Disebut Tembaki Jet-jet Tempur Israel dengan S-300 di Suriah

Rusia Disebut Tembaki Jet-jet Tempur Israel dengan S-300 di Suriah

Global
Pejabat Rusia yang Tentang Invasi ke Ukraina Tertangkap Basah di Perbasatan AS-Meksiko

Pejabat Rusia yang Tentang Invasi ke Ukraina Tertangkap Basah di Perbasatan AS-Meksiko

Global
Ukraina Terkini: 700 Pejuang Mariupol Menyerah, AS Buka Kembali Kedubes di Kyiv

Ukraina Terkini: 700 Pejuang Mariupol Menyerah, AS Buka Kembali Kedubes di Kyiv

Global
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.