Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Setelah KTT ASEAN, Muhyiddin Yassin Sebut Myanmar Mau Hentikan Kekerasan

Kompas.com - 25/04/2021, 07:38 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

Sumber Reuters

JAKARTA, KOMPAS.com – Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin mengatakan, junta Myanmar sepakat bahwa pasukannya harus mengurangi kekerasan dan berhenti membunuh warga sipil.

Hal itu diungkapkan oleh Muhyiddin seusai KTT ASEAN alias ASEAN Leaders’ Meeting di Jakarta, Indonesia, pada Sabtu (24/4/2021).

Dalam KTT tersebut, pemimpin junta militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing turut hadir.

Baca juga: ASEAN Akan Fasilitasi Solusi Damai untuk Kepentingan Rakyat Myanmar

Melansir Reuters, dia menuturkan bahwa pembunuhan dan kekerasan di Myanmar harus diakhiri.

“Semua pihak harus segera menahan diri dari setiap provokasi dan tindakan yang akan melanggengkan kekerasan dan kerusuhan," kata Muhyiddin.

Selain itu, dia juga menyerukan dialog politik yang bermakna dan inklusif. Hal tersebut hanya bisa terjadi jika Myanmar membebaskan tahanan politik secepat mungkin, tanpa syarat.

"Kami telah berhasil. Itu di luar ekspektasi kami untuk mendapatkan hasil dari pertemuan hari ini (Sabtu)," kata Muhyiddin sebagaimana diwartakan Bernama.

Baca juga: Jokowi: ASEAN Capai Konsensus Konflik Myanmar

Muhyiddin berujar, Malaysia mengajukan tiga usulan dalam pertemuan tersebut. Usulan pertama adalah penurunan eskalasi di lapangan.

"Kami berusaha untuk tidak terlalu menuduh pihak (Min Aung Hlaing) karena kami tidak peduli siapa yang menyebabkannya," kata Muhyiddin kepada Reuters.

"Kami hanya menekankan bahwa kekerasan harus dihentikan. Menurutnya, pihak lain yang menyebabkan masalah. Tapi dia setuju bahwa kekerasan harus dihentikan,” tambah Muhyiddin.

Sejak militer mengambil alih kekuasaan lewat kudeta pada 1 Februari, lebih dari 700 orang tewas di tangan pasukan keamanan Myanmar.

Baca juga: Pemimpin Junta di KTT ASEAN, Rakyat Myanmar Gelar Ritual Pemakaman” di Yangon

Usulan kedua Malaysia adalah pembebasan semua tahanan politik.

Usulan ketiganya negara tersebut adalah, Ketua dan Sekretaris Jenderal ASEAN memiliki akses ke Myanmar dan diizinkan untuk bertemu dengan semua pihak yang terlibat dalam krisis.

Muhyiddin melanjutkan, Min Aung Hlaing telah menyetujui usulan dari negara-negara ASEAN lainnya untuk mengizinkan bantuan kemanusiaan dan upaya rekonsiliasi nasional.

Karena usulan-usulan telah disepakati Myanmar, Muhyiddin mengatakan bahwa hal ini menunjukkan kritikus keliru karena menyebut ASEAN tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi krisis tersebut.

Baca juga: Jelang KTT ASEAN, Rakyat Myanmar Kembali Turun ke Jalan meski Sempat Berhenti karena Terlalu Mematikan

"Kami sangat prihatin dengan perkembangan di Myanmar dan kami akan terus mencari cara untuk mengatasi krisis," kata Muhyiddin kepada Bernama.

Sementara itu, Ketua Parlemen ASEAN untuk Hak Asasi Manusia Charles Santiago mengatakan, kelompok tersebut menyambut baik poin-poin yang disepakati dalam KTT ASEAN.

Namun, dia mendesak agar seluruh pihak bergerak cepat untuk memastikan Min Aung Hlaing mengakhiri kekerasan dan membebaskan tahanan politik setelah KTT ASEAN.

Baca juga: KTT ASEAN Kecewakan Rakyat Myanmar, Pilih Junta Abaikan NUG

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Perang di Gaza, Jumlah Korban Tewas Capai 35.000 Orang

Perang di Gaza, Jumlah Korban Tewas Capai 35.000 Orang

Global
143 Orang Tewas akibat Banjir di Brasil, 125 Lainnya Masih Hilang

143 Orang Tewas akibat Banjir di Brasil, 125 Lainnya Masih Hilang

Global
Serangan Ukraina di Belgorod Rusia, 9 Orang Terluka

Serangan Ukraina di Belgorod Rusia, 9 Orang Terluka

Global
Inggris Selidiki Klaim Hamas Terkait Seorang Sandera Terbunuh di Gaza

Inggris Selidiki Klaim Hamas Terkait Seorang Sandera Terbunuh di Gaza

Global
Serangan Drone Ukraina Sebabkan Kebakaran di Kilang Minyak Volgograd Rusia

Serangan Drone Ukraina Sebabkan Kebakaran di Kilang Minyak Volgograd Rusia

Global
PBB Serukan Gencatan Senjata di Gaza Segera, Perang Harus Dihentikan

PBB Serukan Gencatan Senjata di Gaza Segera, Perang Harus Dihentikan

Global
Pendaki Nepal, Kami Rita Sherpa, Klaim Rekor 29 Kali ke Puncak Everest

Pendaki Nepal, Kami Rita Sherpa, Klaim Rekor 29 Kali ke Puncak Everest

Global
4.073 Orang Dievakuasi dari Kharkiv Ukraina akibat Serangan Rusia

4.073 Orang Dievakuasi dari Kharkiv Ukraina akibat Serangan Rusia

Global
Macron Harap Kylian Mbappe Bisa Bela Perancis di Olimpiade 2024

Macron Harap Kylian Mbappe Bisa Bela Perancis di Olimpiade 2024

Global
Swiss Juara Kontes Lagu Eurovision 2024 di Tengah Demo Gaza

Swiss Juara Kontes Lagu Eurovision 2024 di Tengah Demo Gaza

Global
Korsel Sebut Peretas Korea Utara Curi Data Komputer Pengadilan Selama 2 Tahun

Korsel Sebut Peretas Korea Utara Curi Data Komputer Pengadilan Selama 2 Tahun

Global
Rangkuman Hari Ke-808 Serangan Rusia ke Ukraina: Bala Bantuan untuk Kharkiv | AS Prediksi Serangan Terbaru Rusia

Rangkuman Hari Ke-808 Serangan Rusia ke Ukraina: Bala Bantuan untuk Kharkiv | AS Prediksi Serangan Terbaru Rusia

Global
Biden: Gencatan Senjata dengan Israel Bisa Terjadi Secepatnya jika Hamas Bebaskan Sandera

Biden: Gencatan Senjata dengan Israel Bisa Terjadi Secepatnya jika Hamas Bebaskan Sandera

Global
Israel Dikhawatirkan Lakukan Serangan Darat Besar-besaran di Rafah

Israel Dikhawatirkan Lakukan Serangan Darat Besar-besaran di Rafah

Global
Wanita yang Dipenjara Setelah Laporkan Covid-19 di Wuhan pada 2020 Dibebaskan

Wanita yang Dipenjara Setelah Laporkan Covid-19 di Wuhan pada 2020 Dibebaskan

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com