Demonstran Myanmar Serukan Mogok Massal, Junta Militer Langsung Keluarkan Ancaman

Kompas.com - 22/02/2021, 08:39 WIB
Puluhan ribu orang berdemonstrasi menentang pengambilalihan militer di kota terbesar Myanmar Yangon dan menuntut pembebasan Aung San Suu Kyi, pada Minggu  (7/2/2021). AP PHOTOPuluhan ribu orang berdemonstrasi menentang pengambilalihan militer di kota terbesar Myanmar Yangon dan menuntut pembebasan Aung San Suu Kyi, pada Minggu (7/2/2021).

NAYPYIDAW, KOMPAS.com – Para demonstran di Myanmar menyerukan pemogokan massal yang sedianya digelar pada Senin (22/2/2021) untuk memprotes kudeta militer.

Seruan tersebut ditanggapi oleh junta militer dengan ancaman terselubung ihwal penggunaan kekuatan mematikan.

Seruan untuk pemogokan massal dilontarkan pada Minggu (21/2/2021) oleh Gerakan Pembangkangan Sipil di Myanmar.

Mereka meminta orang untuk berkumpul bersama guna membuat "Revolusi Musim Semi” sebagaimana dilansir Associated Press.

Baca juga: Facebook Hapus Laman Milik Militer Myanmar Setelah 2 Demonstran Tewas

Saluran televisi milik negara, MRTV, pada Minggu malam waktu setempat menyiarkan pernyataan dari junta militer yang memberi peringatan terhadap rencana pemogokan umum.

Junta militer menuduh para demonstran menghasut massa untuk melakukan kerusuhan dan anarki pada Senin.

“Para pengunjuk rasa sekarang menghasut orang-orang, terutama anak muda dan remaja yang emosional, ke jalur konfrontasi di mana mereka terancam kehilangan nyawa,” bunyi pernyataan itu.

Pernyataan itu juga menyalahkan pengunjuk rasa karena “melakukan kekerasan”, sehingga mau tidak mau pasukan keamanan harus membalasnya. Sejauh ini ada tiga pengunjuk rasa telah ditembak mati.

Baca juga: 2 Pedemo Myanmar Tewas Ditembak Polisi, Salah Satunya di Kepala

Gerakan protes di Myanmar sebenarnya berlangsung damai dan hanya sesekali terlibat dalam konfrontasi dengan polisi dengan melemparkan botol ke arah polisi ketika diprovokasi.

Di Yangon, kota terbesar Myanmar, truk-truk melaju di jalanan pada Minggu malam waktu setempat.

Truk-truk tersebut dengan nyaring mengumumkan bahwa rakyat tidak boleh menghadiri aksi pada Senin dan harus menaati larangan berkumpul.

Larangan berkumpul dikeluarkan tak lama setelah kudeta tetapi tidak diberlakukan di Yangon, yang selama dua pekan terakhir telah menjadi tempat demonstrasi besar-besaran.

Baca juga: Demo Myanmar Mencekam, 6 Orang Ditembak Peluru Tajam oleh Polisi

Pada Minggu pagi waktu setempat, massa menghadiri pemakaman wanita muda yang menjadi korban tewas pertama dalam aksi penolakan kudeta militer. Wanita tersebut bernama Mya Thwet Thwet Khine.

Dia ditembak di kepala oleh polisi pada 9 Februari dalam sebuah aksi protes di ibu kota Myanmar, Naypyidaw. Setelah dirawat, Mya mengembuskan napas terakhirnya pada Jumat (19/2/2021).

Para demonstran juga berduka atas dua pengunjuk rasa lainnya yang ditembak mati pada Sabtu (20/2/2021) di Mandalay.

Baca juga: AS Desak Junta Militer Myanmar Serahkan Kekuasaan Setelah Seorang Demonstran Tewas

Salah satu korban ditembak di kepala dan meninggal seketika, sementara korban lainnya ditembak di dada dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Di Mandalay, pengunjuk rasa yang menentang kudeta berkumpul lagi pada Minggu.

Buruh kereta api, pengemudi truk, dan banyak pegawai negeri telah bergabung dalam kampanye pembangkangan sipil melawan junta militer.

Baca juga: Kudeta Myanmar telah Telan 1 Korban Tewas, Seorang Remaja Penjaga Toko

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

ART Asal Indonesia Dipenjara di Singapura karena Sebar Video Saat Memandikan Majikannya

ART Asal Indonesia Dipenjara di Singapura karena Sebar Video Saat Memandikan Majikannya

Global
Keunikan Methuselah, Ikan Akuarium Tertua, Hidup sejak 1930-an

Keunikan Methuselah, Ikan Akuarium Tertua, Hidup sejak 1930-an

Global
Studi: Kasus Omicron Sebagian Besar Menjangkit Orang yang Pernah Terinfeksi Covid-19

Studi: Kasus Omicron Sebagian Besar Menjangkit Orang yang Pernah Terinfeksi Covid-19

Global
Inggris Sebut Vaksin Booster Bisa Cegah Kematian akibat Omicron hingga 95 Persen

Inggris Sebut Vaksin Booster Bisa Cegah Kematian akibat Omicron hingga 95 Persen

Global
Dituduh Pungut Kepingan F-35, China: Kami Tidak Tertarik

Dituduh Pungut Kepingan F-35, China: Kami Tidak Tertarik

Global
Lagu-lagu Neil Young Dihapus dari Spotify, Imbas Ultimatum Disinformasi Covid-19

Lagu-lagu Neil Young Dihapus dari Spotify, Imbas Ultimatum Disinformasi Covid-19

Global
Korea Utara Mengaku Luncurkan Rudal Lagi, Total 6 Uji Coba dalam Sebulan

Korea Utara Mengaku Luncurkan Rudal Lagi, Total 6 Uji Coba dalam Sebulan

Global
Israel Sediakan Vaksin Covid-19 Dosis Keempat untuk Orang Rentan 18 Tahun ke Atas

Israel Sediakan Vaksin Covid-19 Dosis Keempat untuk Orang Rentan 18 Tahun ke Atas

Global
Ukraina Sebut Pasukan Rusia Tak Cukup Lancarkan Serangan Besar-besaran

Ukraina Sebut Pasukan Rusia Tak Cukup Lancarkan Serangan Besar-besaran

Global
Petinggi Perusahaan di Jepang Kaget Ibu Kota Negara Indonesia Dipindah ke Kalimantan

Petinggi Perusahaan di Jepang Kaget Ibu Kota Negara Indonesia Dipindah ke Kalimantan

Global
Omicron Mengganas, Mayoritas Kasus Covid-19 di Inggris Infeksi Ulang

Omicron Mengganas, Mayoritas Kasus Covid-19 di Inggris Infeksi Ulang

Global
Hanya Tawarkan Helm untuk Ukraina, Jerman Diolok-olok Warganya Sendiri

Hanya Tawarkan Helm untuk Ukraina, Jerman Diolok-olok Warganya Sendiri

Global
Film Dokumenter Ungkap Pembantaian Warga Palestina oleh Israel

Film Dokumenter Ungkap Pembantaian Warga Palestina oleh Israel

Global
Presiden Terpilih Honduras Ingin Pertahankan Hubungan dengan Taiwan

Presiden Terpilih Honduras Ingin Pertahankan Hubungan dengan Taiwan

Global
POPULER GLOBAL: Warga Afghanistan Jual Anak dan Ginjal untuk Makan | AS Cari Bantuan ke Qatar Amankan Gas ke Eropa

POPULER GLOBAL: Warga Afghanistan Jual Anak dan Ginjal untuk Makan | AS Cari Bantuan ke Qatar Amankan Gas ke Eropa

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.