Penyerbuan di Capitol Hill, Trump Salahkan Orang-orang Antifa

Kompas.com - 12/01/2021, 19:11 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampil di hadapan pendukungnya di Washington DC pada 6 Januari 2021. AP PHOTO/Jacquelyn MartinPresiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampil di hadapan pendukungnya di Washington DC pada 6 Januari 2021.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyalahkan 'orang-orang Antifa' yang diklaimnya telah menyerbu Capitol Hill di Washington DC, AS pada Rabu pekan lalu.

Melansir Aljazeera, Selasa (12/1/2021), Trump menyalahkan "orang Antifa" atas penyerbuan di Capitol pekan lalu meski bukti dokumenter jelas-jelas menunjukkan para perusuh sebagian besar adalah pendukungnya.

Antifa, akronim dari anti-fasis adalah gerakan yang bentrok dengan sayap kanan seperti Proud Boys-yang mendukung Trump-beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Beberapa Tokoh Dunia Kecam Penutupan Permanen Akun Twitter Trump, Sebut Itu Pertanda Buruk

Trump mengancam akan melabeli Antifa sebagai kelompok teroris atas protes usai kematian orang kulit hitam George Floyd di tangan polisi kulit putih, dan protes atas tindakan kebrutalan polisi lainnya.

Pernyataan itu diberikan Trump dalam panggilan telepon berdurasi 30 menit lebih dengan pemimpin minoritas DPR Kevin McCarthy pada Senin pagi kemarin.

Menurut Axios, seorang pejabat Gedung Putih dan sumber lain mengetahui panggilan telepon tersebut.

Baca juga: Muncul Pengumuman Trump Mundur per 11 Januari, Situs Kemenlu AS Down

Akan tetapi, McCarthy dikabarkan menyangkal ucapan Trump, "Itu bukan Antifa, tapi MAGA [pendukung Trump]. Saya tahu. Saya ada di sana."

McCarthy bahkan dikabarkan telah menyarankan Trump untuk menghubungi presiden terpilih Joe Biden dan meninggalkan surat selamat datang di meja untuk penggantinya itu.

Penyerbuan Gedung Capitol AS pada Rabu pekan lalu dilakukan oleh para pendukung Trump yang anarkis dan bermaksud mengacaukan sertifikasi kemenangan pemilihan Joe Biden.

Baca juga: Trump Ditinggal Sekutunya Lagi, Kini Plt Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Mundur

Trump, dengan tanpa bukti telah menentang validitas kemenangan Biden, awalnya dia memuji para pendukungnya namun kemudian dia mengecam keras penyerbuan itu.

Para anggota parlemen terpaksa melarikan diri karena gedung itu dikerumuni oleh pendukung presiden, yang membuat pasukan keamanan kewalahan.

Lima orang tewas dalam kerusuhan itu, termasuk seorang petugas Kepolisian Capitol yang dipukuli saat dia berusaha menangkal kerumunan.

Baca juga: DPR AS Rencanakan Pemakzulan Kedua Trump pada Rabu Pekan Ini

Antifa sendiri sering menjadi target kaum konservatif Amerika, termasuk Trump, karena oposisi mereka terhadap pendukung sayap kanan presiden AS.

Gerakan anti-fasis cenderung dikelompokkan sebagai kelompok kiri spektrum politik AS, banyak yang menggambarkan diri mereka sebagai sosialis, anarkis, komunis atau anti-kapitalis.

Baca juga: Begitu Ingin Menyingkirkan Trump, Ketua DPR AS: Dia adalah Ancaman


Sumber Aljazeera
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Misteri Tabrakan Tesla Tanpa Pengemudi, Mobil Hangus 2 Orang Tewas

Misteri Tabrakan Tesla Tanpa Pengemudi, Mobil Hangus 2 Orang Tewas

Global
Hormati Orang yang Puasa, Satpam Ini Balik Badan Saat Makan

Hormati Orang yang Puasa, Satpam Ini Balik Badan Saat Makan

Global
3 Negara Klub Pendiri ESL Kompak Lawan European Super League

3 Negara Klub Pendiri ESL Kompak Lawan European Super League

Global
Kasus Covid-19 Meningkat, Ibu Kota India Kembali Lockdown

Kasus Covid-19 Meningkat, Ibu Kota India Kembali Lockdown

Global
Rusia Akan Blokade Sebagian Laut Hitam, AS Kecam 'Eskalasi Tanpa Alasan'

Rusia Akan Blokade Sebagian Laut Hitam, AS Kecam "Eskalasi Tanpa Alasan"

Global
Balas Dendam, Ukraina Usir Diplomat Rusia dari Kiev

Balas Dendam, Ukraina Usir Diplomat Rusia dari Kiev

Global
Pangeran Harry Jalani Karantina Covid-19 dan Diperkirakan Segera Pulang ke California

Pangeran Harry Jalani Karantina Covid-19 dan Diperkirakan Segera Pulang ke California

Global
NASA Berhasil Terbangkan Drone dari Mars untuk Pertama Kalinya di Dunia

NASA Berhasil Terbangkan Drone dari Mars untuk Pertama Kalinya di Dunia

Global
PM Inggris Berjanji Bakal Gagalkan Peluncuran European Super League

PM Inggris Berjanji Bakal Gagalkan Peluncuran European Super League

Global
ISIS Eksekusi Penganut Kristen Koptik Mesir sebagai Peringatan agar Tak Dukung Militer

ISIS Eksekusi Penganut Kristen Koptik Mesir sebagai Peringatan agar Tak Dukung Militer

Global
Mobilisasi Pasukan Rusia di Perbatasan Ukraina Terbesar sejak 2014

Mobilisasi Pasukan Rusia di Perbatasan Ukraina Terbesar sejak 2014

Global
Hakim Kasus Kematian George Floyd Pastikan Hukuman untuk Derek Chauvin 'Benar-benar Adil'

Hakim Kasus Kematian George Floyd Pastikan Hukuman untuk Derek Chauvin "Benar-benar Adil"

Global
Publik Inggris Ingin Pangeran William Jadi Raja Setelah Ratu Elizabeth II

Publik Inggris Ingin Pangeran William Jadi Raja Setelah Ratu Elizabeth II

Global
[POPULER GLOBAL] Video Guru Dikejutkan di Kelas Virtual | Gelandangan 4 Tahun Makan Sekali Sehari

[POPULER GLOBAL] Video Guru Dikejutkan di Kelas Virtual | Gelandangan 4 Tahun Makan Sekali Sehari

Global
Beli Apel di Toko Online, Pria Ini Kaget yang Datang Apple iPhone

Beli Apel di Toko Online, Pria Ini Kaget yang Datang Apple iPhone

Global
komentar
Close Ads X