Virus Corona Makin Parah di AS, Naik Hampir 100.000 Kasus dalam 24 Jam

Kompas.com - 25/10/2020, 11:23 WIB
Ilustrasi virus corona menginfeksi tubuh menyebabkan Covid-19. Pada sebagian orang Covid-19 dapat mematikan, studi mengungkap virus SARS-CoV-2 dapat memengaruhi protein interferon tipe I (IFN) dalam melawan virus dan membuat sistem kekebalan berbalik melawan dirinya sendiri. SHUTTERSTOCK/creativenekoIlustrasi virus corona menginfeksi tubuh menyebabkan Covid-19. Pada sebagian orang Covid-19 dapat mematikan, studi mengungkap virus SARS-CoV-2 dapat memengaruhi protein interferon tipe I (IFN) dalam melawan virus dan membuat sistem kekebalan berbalik melawan dirinya sendiri.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Amerika Serikat mencatatkan lonjakan kasus virus corona tertinggi selama 24 jam pada Jumat (23/10/2020) hingga Sabtu (24/10/2020).

Menurut catatan Johns Hopkins University, AS melaporkan 88.793 infeksi baru antara pukul 20.30 Jumat malam sampai 20.30 Sabtu malam. Angka itu lebih tinggi dari lonjakan di hari sebelumnya yakni 79.963.

Total 8.568.625 kasus telah dilaporkan di AS dengan 224.751 kematian, tertinggi di dunia.

Baca juga: Studi: Kasus Kematian Corona AS Bisa Mencapai 500.000 Tahun Depan

Dampak terparah menerpa negara bagian di utara dan midwest, lalu sekitar 35 dari 50 negara bagian mengalami peningkatan jumlah kasus.

Sementara itu jumlah kematian per 24 jam tetap stabil sejak awal musim gugur, antara 700-800. Namun pada Sabtu (24/10/2020) AS mencatatkan 906 kematin menurut laporan Johns Hopkins.

Presiden Donald Trump selalu berupaya menepis kritik yang menerpanya soal penanganan pandemi, jelang pemilihan presiden (pilpres) yang akan digelar 3 November.

Baca juga: AstraZeneca Akan Lanjutkan Uji Coba Vaksin Covid-19 di AS

Kemarin mantan presiden Barack Obama mengkritik kebijakan Gedung Putih terhadap pandemi, dengan berkata saat kampanye di Florida bahwa "Gedung Putih telah melakukan apa pun tetapi kenyataannya kacau sehingga ini adalah omong kosong."

Trump juga sempat memandang remeh risiko virus corona meski sempat didiagnosis positif dan pulih. Menurutnya, bisnis harus dijalankan lagi sehingga perekonomian negara bisa pulih.

"Pemilihan ini adalah pilihan antara pemulihan super Trump dan depresi Biden," kata presiden ke-45 AS itu kepada para pendukungnya di North Carolina, Sabtu (24/10/2020) sebagaimana dikutip AFP.

Baca juga: Disebut Tak Efektif oleh WHO, Ini Alasan AS Pilih Remdesivir untuk Obati Covid-19


Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X