Pemenggal Kepala Guru di Perancis Memiliki "Kontak" dengan Milisi di Suriah

Kompas.com - 22/10/2020, 20:03 WIB
Polisi berdiri saat warga berkumpul di depan bunga yang dipajang di pintu masuk sekolah menengah di Conflans-Sainte-Honorine, Perancis, setelah seorang guru dipenggal oleh penyerang yang telah ditembak mati oleh polisi, Sabtu (17/10/2020). Seorang guru sekolah menengah Paris dibunuh dan dipenggal setelah dilaporkan menunjukkan dan membahas karikatur Nabi Muhammad di kelasnya. AFP/BERTRAND GUAYPolisi berdiri saat warga berkumpul di depan bunga yang dipajang di pintu masuk sekolah menengah di Conflans-Sainte-Honorine, Perancis, setelah seorang guru dipenggal oleh penyerang yang telah ditembak mati oleh polisi, Sabtu (17/10/2020). Seorang guru sekolah menengah Paris dibunuh dan dipenggal setelah dilaporkan menunjukkan dan membahas karikatur Nabi Muhammad di kelasnya.

Beberapa saat kemudian dia ditembak mati oleh polisi.

Anzorov memenggal kepala Paty dengan pisau panjang.

Banyak siswa Paty melihat gambar tersebut secara online sebelum dihapus peredarannya.

Para remaja yang memberikan identifikasi soal Paty kepada pembunuhnya dengan imbalan uang pada Rabu malam didakwa atas pembunuhan itu.

Orang tua salah satu murid Paty, yang memulai kampanye media sosial melawan guru tersebut, meskipun putrinya tidak ada di kelas saat kartun ditayangkan, juga didakwa.

Baca juga: Setelah Pembunuhan Keji Seorang Guru, Perancis Desak Kerja Sama Rusia untuk Perangi Terorisme dan Imigrasi Ilegal

Pengecut

Orang lainnya yang juga didakwa adalah seorang radikal Islamis terkenal yang membantu ayah murid membangkitkan kemarahan terhadap Paty.

Tiga orang lainnya yang menghadapi tuntutan adalah teman Anzorov, salah satunya diduga mengantarnya ke TKP. Sementara yang lain menemaninya untuk membeli senjata.

Dua dari mereka juga menghadapi tuduhan terlibat dalam pembunuhan teroris, sementara yang ketiga didakwa dengan pelanggaran yang lebih ringan, kata kantor kejaksaan anti-teroris.

Paty, laki-laki berusia 47 tahun, menjadi sasaran kampanye kebencian online atas pilihan materi pelajarannya, yaitu kartun Nabi Muhammad, yang telah memicu serangan berdarah oleh pria bersenjata Islam di kantor majalah satir Charlie Hebdo pada Januari 2015.

Polisi telah melakukan puluhan penggerebekan sejak kejahatan itu terjadi, sementara pemerintah telah memerintahkan penutupan 6 bulan sebuah masjid di luar Paris dan membubarkan Kolektif Sheikh Yassin, sebuah kelompok yang mereka katakan mendukung Hamas.

Baca juga: Ikut Sebar Video yang Memicu Pemenggalan Guru di Perancis, Masjid Ini Minta Maaf

Pemerintah Perancis telah membubarkan lebih dari 50 organisasi lain yang dituduh memiliki hubungan dengan Islam radikal.

Pemenggalan kepala Paty adalah serangan dengan pisau kedua atas nama pembalasan untuk Nabi Muhammad sejak persidangan tersangka kaki tangan dalam serangan Charlie Hebdo yang dimulai pada September.

Pembunuhan Paty telah memicu luapan emosi di Perancis, dengan puluhan ribu orang berpartisipasi dalam aksi unjuk rasa di seluruh negeri untuk membela kebebasan berbicara.

"Kami tidak akan menyerah terhadap (kasus melibatkan) kartun (Nabi Muhammad)," sumpah Macron dalam upacara pada Rabu untuk menghormati Paty di universitas Sorbonne di Paris.

Halaman:

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Berdebat Soal Ratu Kedua, Raja Thailand Marah dan Hancurkan Pergelangan Kaki Saudaranya

Berdebat Soal Ratu Kedua, Raja Thailand Marah dan Hancurkan Pergelangan Kaki Saudaranya

Global
Pria Bersenjata di Nigeria Culik Para Anak Panti Asuhan Demi Tebusan Rp 300-an Juta

Pria Bersenjata di Nigeria Culik Para Anak Panti Asuhan Demi Tebusan Rp 300-an Juta

Global
Vaksinasi Covid-19 di Tepi Barat dan Gaza, Tanggung Jawab Israel atau Otoritas Palestina?

Vaksinasi Covid-19 di Tepi Barat dan Gaza, Tanggung Jawab Israel atau Otoritas Palestina?

Global
Puluhan Ribu Petani India Kendarai Traktor Serbu Ibu Kota untuk Memprotes Modi

Puluhan Ribu Petani India Kendarai Traktor Serbu Ibu Kota untuk Memprotes Modi

Global
Selandia Baru Tetap Akan Tutup Perbatasan Hampir Sepanjang Tahun Ini

Selandia Baru Tetap Akan Tutup Perbatasan Hampir Sepanjang Tahun Ini

Global
3 Pekan Pasca-Kerusuhan Kepala Kepolisian Gedung Capitol Minta Maaf dan Ungkap 'Kegagalan'

3 Pekan Pasca-Kerusuhan Kepala Kepolisian Gedung Capitol Minta Maaf dan Ungkap "Kegagalan"

Global
Ledakan Besar Guncang Ibu Kota Arab Saudi

Ledakan Besar Guncang Ibu Kota Arab Saudi

Global
Biden Rencana Beli 200 Juta Vaksin Covid-19 Lebih Banyak

Biden Rencana Beli 200 Juta Vaksin Covid-19 Lebih Banyak

Global
Konfrontasi Putin Lewat Telepon, Ini yang Dibahas Biden

Konfrontasi Putin Lewat Telepon, Ini yang Dibahas Biden

Global
[POPULER GLOBAL] Trump Lanjutkan 'Agenda Pemerintahannya' di Kantor Baru | Daftar Kebijakan Eksekutif Biden Sepekan

[POPULER GLOBAL] Trump Lanjutkan "Agenda Pemerintahannya" di Kantor Baru | Daftar Kebijakan Eksekutif Biden Sepekan

Global
Lebih dari 23.000 Tahun Lalu Anjing telah Jadi Jinak dan Temani Manusia Bermigrasi

Lebih dari 23.000 Tahun Lalu Anjing telah Jadi Jinak dan Temani Manusia Bermigrasi

Global
Varian Baru Virus Corona Asal Brasil Sudah Masuk Amerika Serikat

Varian Baru Virus Corona Asal Brasil Sudah Masuk Amerika Serikat

Global
Biden Ajak Orang Beli Produk Amerika, tapi Dia Pakai Jam Tangan Swiss

Biden Ajak Orang Beli Produk Amerika, tapi Dia Pakai Jam Tangan Swiss

Global
Media Asing Sorot Kasus Infeksi Indonesia yang Lampaui 1 Juta

Media Asing Sorot Kasus Infeksi Indonesia yang Lampaui 1 Juta

Global
Anwar Ibrahim Gugat PM Malaysia di Pengadilan soal Usulan Darurat Nasional

Anwar Ibrahim Gugat PM Malaysia di Pengadilan soal Usulan Darurat Nasional

Global
komentar
Close Ads X