Jerman Dakwa Operator Darknet dengan Lebih dari 249.000 Kejahatan Siber Lewat 900 Server Gelap

Kompas.com - 21/10/2020, 14:10 WIB
Ilustrasi kejahatan siber ShutterstockIlustrasi kejahatan siber

BERLIN, KOMPAS.com - Delapan orang pengelola jaringan server gelap "Cyberbunker" di Jerman diajukan ke pengadilan. Mereka beroperasi dari bekas bunker militer di desa terpencil dan menyediakan layanan darknet dengan lebih dari 900 server.

Melansir Deutsche Welle pada Selasa (20/10/2020), 8 orang berusia tersebut berusia antara 21 sampai 60 tahun diajukan ke pengadilan Jerman pada Senin (19/10/2020) dengan dakwaan menyediakan layanan server gelap untuk transaksi ilegal bernilai jutaan euro.

Para terdakwa adalah 1 warga Belanda, 3 warga Jerman, dan 1 warga Bulgaria. Mereka dituduh mengelola perusahaan gelap "Cyberbunker" serta membantu dan bersekongkol dengan lebih dari 249.000 kejahatan di seluruh dunia.

Baca juga: Taiwan Tuding China Ada di Balik Serangan Siber ke 10 Lembaga Negara

Jaksa penuntut Jörg Angerer mengatakan di pengadilan, geng kejahatan siber itu memiliki "pembagian tugas yang solid dengan hierarki yang jelas," dan mengoperasikan jaringan server gelap darknet dari sebuah gudang bawah tanah bekas bunker militer di desa Traben-Trarbach dekat sungai Mosel.

Polisi menggerebek Cyberbunker pada September 2019 setelah melakukan penyelidikan selama 5 tahun. Hampir 900 server, baik fisik maupun virtual, disita dari bunker itu dengan sekitar 2 juta gigabyte data.

Baca juga: Trump Mengonfirmasi AS Luncurkan Serangan Siber terhadap Rusia

Pelayanan situs internet gelap untuk kejahatan siber

Pada awal persidangan yang berlangsung di kota Trier, jaksa penuntut Jörg Angerer mengatakan bahwa platform darknet itu menawarkan layanan situs gelap untuk transaksi narkoba, peretasan komputer, pencucian uang, tautan pornografi anak sampai kontrak pembunuhan gelap.

"Klien bisa menghosting apa pun yang mereka suka, kecuali pornografi anak dan segala sesuatu yang berkaitan dengan terorisme," kata satu pesan di situs web Cyberbunker.

Salah satu penawaran, misalnya menyewa situs gelap seharga 2.000 euro (Rp 24,6 juta) setahun. Kontrak dilakukan secara anonim.

Baca juga: Serangan Siber ke Situs Pemerintah Australia, China Dituduh Sebagai Dalangnya

Operator Cyberbunker tidak meminta nama atau alamat dan menerima pembayaran dalam mata uang kripto Bitcoin.

Jaksa penuntut membutuhkan waktu hampir 2 jam untuk membaca daftar dakwaan yang mencantumkan berbagai transaksi ilegal. Antara lain penjualan satu gram heroin yang seharga 70 euro (Rp 1,2 juta), kartu identitas palsu seharga 70-120 euro (Rp 1,2 juta sampai Rp 2 juta).

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X