Sebelum Jadi Pembeli, Iran Bakal Jual Senjata Setelah Embargo Berakhir

Kompas.com - 19/10/2020, 19:54 WIB
Foto tertanggal 18 Juni 2020 yang diunggah militer Iran menunjukkan, sebuah rudal sedang diluncurkan dalam uji coba. Media pemerintah Iran IRNA melaporkan, uji coba dilakukan dalam latihan Angkatan Laut Iran di Teluk Oman dan utara Samudra Hindia. IRNA juga menyebut rudal ini dapat menempuh jarak 280 kilometer. IRANIAN ARMY via APFoto tertanggal 18 Juni 2020 yang diunggah militer Iran menunjukkan, sebuah rudal sedang diluncurkan dalam uji coba. Media pemerintah Iran IRNA melaporkan, uji coba dilakukan dalam latihan Angkatan Laut Iran di Teluk Oman dan utara Samudra Hindia. IRNA juga menyebut rudal ini dapat menempuh jarak 280 kilometer.

TEHERAN, KOMPAS.com - Iran menyatakan, mereka bakal menjual lebih banyak senjata daripada membeli setelah mengumumkan embargo dari PBB telah berakhir.

Teheran menerangkan, larangan yang sudah diberlakukan selama 10 tahun terakhir sudah "otomatis" tercabut pada Minggu (18/10/2020).

Mereka mengacu kepada perjanjian nuklir 2015 dengan AS, yang kemudian ditarik sepihak pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump.

Baca juga: Embargo PBB Berakhir, Menlu AS: Siapa Pun Jual Senjata ke Iran Akan Disanksi

"Sebelum menjadi pembeli, Iran sudah punya kemampuan memasok ke negara lain," terang juru bicara kementerian luar negeri, Saeed Khatibzadeh, dikutip AFP Senin (19/10/2020).

Khatibzadeh menuturkan mereka tidak seperti AS, yang menjual senjata kepada Arab Saudi untuk dipakai memerangi pemberontak Houthi di Yaman.

Berakhirnya embargo senjata membuat Iran bisa membeli atau menjual peralatan militer seperti tank, kendaraan lapis baja, artileri, hingga helikopter.

Khatibzadeh mengatakan, mereka bakal "bertindak bijaksana" dengan menjual persenjataan ke negara lain "setelah memperhitungkan kalkulasinya".

Sementara Menteri Pertahanan Amir Hatami berkata bahwa rival Arab Saudi di Timur Tengah itu sangat yakin dengan kemampuan militer mereka.

Dia menjelaskan Perang Iran-Irak pada 1980-an mengajarkan mereka untuk "bergantung pada diri sendiri", dan mencukupkan kebutuhan alutsista secara lokal hingga 90 persen.

Hatami mengeklaim bahwa sejumlah negara sudah menyatakan ketertarikan, dan menegaskan bahwa fokus mereka saat ini adalah menjual, bukan membeli.

Larangan penjualan alutsista (alat utama sistem persenjataan) itu berakhir pada 18 Oktober, sesuai kesepakatan perjanjian nuklir 2015.

Hanya saja, AS sudah berargumen penjualan senjata ke Iran melanggar resolusi PBB, dan mengancam siapa pun yang berani menentang mereka dengan sanksi.

Pada 2018, Presiden Trump secara sepihak mengeluarkan AS dari kesepakatan era Barack Obama, dan mulai menjatuhkan serangkaian sanksi ekonomi.

Baca juga: Oposisi Pengasingan Iran Ungkap Teheran Miliki Fasilitas Nuklir Rahasia


Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X