Setelah 2 Kali Gagal, Presiden Lebanon Akan Kembali Umumkan Nama Calon Perdana Menteri

Kompas.com - 07/10/2020, 19:55 WIB
Presiden Lebanon Michel Aoun. AFP / MAXIM SHEMETOVPresiden Lebanon Michel Aoun.

BEIRUT, KOMPAS.com - Presiden Lebanon Michel Aoun dikutip Gulf News, Rabu (7/10/2020) mengatakan bahwa dia akan memulai menunjuk perdana menteri baru pekan depan, tepatnya pada 15 Oktober.

Upaya tersebut merupakan yang ketiga setelah sebelumnya Perdana Menteri Hasan Diab mundur pasca ledakan masif pada 4 Agustus 2020 di pelabuhan Beirut.

Penggantinya, Mustapha Adib mengundurkan diri bulan lalu setelah gagal membuat konsensus seputar susunan pemerintahan baru.

Baca juga: Dubes RI Hajriyanto: Krisis Mengubah Budaya Politik di Lebanon

“Presiden Aoun telah menetapkan (bahwa) Kamis, 15 Oktober sebagai tanggal diadakannya konsultasi parlemen untuk menetapkan tokoh yang akan membentuk pemerintahan baru,” kata kantor kepresidenan Lebanon di Twitter.

Sejak ledakan pelabuhan di Beirut, pemerintah Barat telah meningkatkan tekanan pada para pemimpin Lebanon untuk menempatkan pemerintah yang siap melaksanakan reformasi besar-besaran dan membuka bantuan yang sangat dibutuhkan.

Dalam kunjungannya ke Beirut pada awal bulan lalu, Presiden Perancis Emmanuel Macron mengatakan dia telah mendapatkan janji dari faksi Lebanon untuk melantik pemerintahan yang akan lakukan reformasi dalam dua minggu.

Baca juga: Pemimpin Hezbollah: Perancis Jangan Bertindak Layaknya Penguasa Lebanon

Ketika Diab akhirnya menghentikan upayanya untuk mendapatkan pemimpin faksi untuk disampaikann kepada Barat, Macron menuduh mereka mencari kepentingan egois mereka sendiri daripada kepentingan negara.

Tanggal yang ditetapkan oleh Aoun untuk memulai konsultasi parlemen muncul hanya dua hari sebelum Lebanon menandai 'ulang tahun' pertama gerakan protes nasional yang menuntut reformasi politik besar-besaran.

Baca juga: Baru Ditunjuk Jadi PM Lebanon, Mustapha Adib Mengundurkan Diri, Ada Apa?

Demonstrasi kehilangan momentum awal tahun ini ketika pandemi virus corona melanda, tetapi kemarahan publik telah membuncah sejak ledakan masif terjadi di pelabuhan yang disebabkan oleh terbakarnya tumpukan besar bahan kimia amonium nitrat yang telah dibiarkan tidak diperhatikan selama bertahun-tahun.

Sistem pembagian kekuasaan yang sektarian lahir sejak akhir perang sipil Lebanon antara 1975-1990.

Pembagian itu telah menciptakan elit politik yang mengakar, seringkali turun-temurun, yang menurut gerakan protes bertanggung jawab atas kesengsaraan yang dialami rakyat.


Sumber Gulf News
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Potong Hidung dan Bibir, Pria ini Sebut Dirinya 'Alien Hitam'

Potong Hidung dan Bibir, Pria ini Sebut Dirinya "Alien Hitam"

Global
Para Menteri Luar Negeri Uni Eropa Bahas Navalny dalam Sidang di Markas Besar

Para Menteri Luar Negeri Uni Eropa Bahas Navalny dalam Sidang di Markas Besar

Global
Facebook Hapus Unggahan dan Tangguhkan Chatbot Perdana Menteri Israel, Apa Alasannya?

Facebook Hapus Unggahan dan Tangguhkan Chatbot Perdana Menteri Israel, Apa Alasannya?

Global
WHO: Akses Adil Vaksin Covid-19 Positif untuk Ekonomi Dunia

WHO: Akses Adil Vaksin Covid-19 Positif untuk Ekonomi Dunia

Global
Pemimpin Tajikistan Sebut Negaranya Sudah Bebas Covid-19 tapi Tetap Harus Waspada

Pemimpin Tajikistan Sebut Negaranya Sudah Bebas Covid-19 tapi Tetap Harus Waspada

Global
Kisah Perang: Luftwaffe, AU Nazi Spesialis Serangan Kilat Blitzkrieg

Kisah Perang: Luftwaffe, AU Nazi Spesialis Serangan Kilat Blitzkrieg

Global
Presiden China Peringatkan Konsekuensi “Perang Dingin Baru,” Singgung Biden?

Presiden China Peringatkan Konsekuensi “Perang Dingin Baru,” Singgung Biden?

Global
Ayah Terlibat Kerusuhan Gedung Capitol, Anak Sendiri Ketakutan Lapor ke FBI

Ayah Terlibat Kerusuhan Gedung Capitol, Anak Sendiri Ketakutan Lapor ke FBI

Global
Eksodus dari Hong Kong ke Inggris Diproyeksi Tidak Akan Besar meski Tensi dengan China Memanas

Eksodus dari Hong Kong ke Inggris Diproyeksi Tidak Akan Besar meski Tensi dengan China Memanas

Global
Berhasil Taklukkan Gunung K2 yang Mematikan, 10 Pendaki Nepal Disambut bak Pahlawan

Berhasil Taklukkan Gunung K2 yang Mematikan, 10 Pendaki Nepal Disambut bak Pahlawan

Global
Masalah Pandemi dan Ekonomi Melanda, Perdana Menteri Italia Pilih Mengundurkan Diri

Masalah Pandemi dan Ekonomi Melanda, Perdana Menteri Italia Pilih Mengundurkan Diri

Global
Janet Yellen, Wanita Pertama yang Jadi Menteri Keuangan AS

Janet Yellen, Wanita Pertama yang Jadi Menteri Keuangan AS

Global
Pasangan Bos Kasino Tipu Pemerintah Daerah untuk dapat Vaksin Covid-19 Lebih Cepat

Pasangan Bos Kasino Tipu Pemerintah Daerah untuk dapat Vaksin Covid-19 Lebih Cepat

Global
Pengacara Trump Digugat Rp 18,3 Triliun dari Kasus Hukum Pemilu AS 2020 yang Meluas

Pengacara Trump Digugat Rp 18,3 Triliun dari Kasus Hukum Pemilu AS 2020 yang Meluas

Global
Presiden Biden Copot Dokter Gedung Putih yang Rawat Trump

Presiden Biden Copot Dokter Gedung Putih yang Rawat Trump

Global
komentar
Close Ads X