Baru Ditunjuk Jadi PM Lebanon, Mustapha Adib Mengundurkan Diri, Ada Apa?

Kompas.com - 26/09/2020, 18:01 WIB
Perdana Menteri Lebanon Mustapha Adib berbicara kepada wartawan di Istana Kepresidenan di Baabda, timur Beirut, Lebanon, Senin, (31/8/2020). Adib mengatakan, prioritas utamanya adalah segera membentuk pemerintahan yang mampu melaksanakan reformasi penting untuk mendapatkan kembali kepercayaan dari masyarakat Lebanon dan internasional. AP Photo/Bilal HusseinPerdana Menteri Lebanon Mustapha Adib berbicara kepada wartawan di Istana Kepresidenan di Baabda, timur Beirut, Lebanon, Senin, (31/8/2020). Adib mengatakan, prioritas utamanya adalah segera membentuk pemerintahan yang mampu melaksanakan reformasi penting untuk mendapatkan kembali kepercayaan dari masyarakat Lebanon dan internasional.

BEIRUT, KOMPAS.com - Perdana Menteri Lebanon yang baru ditunjuk bulan lalu mengundurkan diri di tengah kebuntuan formasi pemerintahan.

Melansir Aljazeera, Perdana Menteri Lebanon baru, Mustapha Adib mengumumkan kemunduran dirinya setelah upayanya membentuk kabinet non-partisan bermasalah, khususnya tentang siapa yang akan menjalankan Kementerian Keuangan.

Dalam siaran televisi pada Sabtu (26/9/2020), Adib mengatakan dia mengundurkan diri dari "tugas membentuk pemerintahan" menyusul pertemuannya dengan Presiden Michel Aoun.

Adib yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Duta Besar Lebanon untuk Berlin, dipilih menjadi PM pada 31 Agustus lalu.

Baca juga: Resmi, Mustapha Adib Jadi Perdana Menteri Lebanon yang Baru

Dia ditunjuk untuk membentuk kabinet setelah pemerintahan sebelumnya yang dipimpin Hassan Diab mengundurkan diri pasca ledakan masif di Pelabuhan Beirut, pada Selasa 4 Agustus 2020 dan menewaskan kurang lebih 200 orang.

Namun, formasi pemerintahan barunya mengalami kemacetan atas permintaan 2 partai Syiah yang dominan, partai Hezbollah yang didukung Iran dan Amal-merujuk pada Menteri-menteri Syiah di kabinet.

Para pemimpin Syiah takut akan disisihkan oleh Adib yang seorang Muslim Sunni dan berusaha mengguncang penunjukan kementerian, beberapa di antaranya telah dikendalikan oleh faksi yang sama selama bertahun-tahun ungkap seorang politisi.

Upaya untuk membentuk pemerintah Lebanon gagal meskipun Perancis menekan para pemimpin sektarian untuk bersatu menghadapi krisis ekonomi terburuk sejak perang saudara 1975-1990.

Baca juga: Presiden Perancis Emmanuel Macron Kunjungi Sosok Pemersatu Lebanon Usai Penetapan PM Mustapha Adib

Koresponden Aljazeera mengatakan bahwa "partai politik yang berbeda (telah) berjanji kepada Presiden Perancis Emmanuel Macron bahwa pemerintah akan ada pada pertengahan September".

"Partai-partai Syiah, Hezbollah dan Amal telah sangat gigih dan bersikeras bahwa mereka menginginkan posisi Kementerian Keuangan. Mereka mengungkapkan bahwa bidang itu milik sekte mereka," ungkap laporan koresponden tersebut.

Sementara Adib sendiri dilaporkan telah mencoba "membentuk para pakar di bidang pemerintahannya untuk mengurus krisis ekonomi dan keuangan yang mengikis negara tersebut".

Namun sayangnya, Adib menghadapi hambatan besar dalam sistem pemerintahan berbasis sektarian di Lebanon.

Baca juga: Ledakan Beirut, Siapa yang Seharusnya Bertanggung Jawab?

Saat ini, karena krisis utang yang memuncak, bank-bank di Lebanon lumpuh dan mata uangnya terjun bebas.

Pembicaraan dengan Dana Moneter Internasional tentang paket bantuan keuangan bahkan terhenti tahun ini.


Sumber Aljazeera
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Presiden Erdogan Sebut Macron Hanya Beban Negara dan Berharap Segera Lengser

Presiden Erdogan Sebut Macron Hanya Beban Negara dan Berharap Segera Lengser

Global
Program Vaksin Covid-19 di Rusia Sudah Dimulai, Meski Pengujian Massal Belum Selesai

Program Vaksin Covid-19 di Rusia Sudah Dimulai, Meski Pengujian Massal Belum Selesai

Global
Para Ilmuwan Identifikasi Covid-19 Sudah Menyebar Jauh Lebih Lama Sebelum Resmi jadi Pandemi Global

Para Ilmuwan Identifikasi Covid-19 Sudah Menyebar Jauh Lebih Lama Sebelum Resmi jadi Pandemi Global

Global
Butuh Donor Ginjal Saat Pandemi Covid-19, Gadis Ini Minta Bantuan di Media Sosial

Butuh Donor Ginjal Saat Pandemi Covid-19, Gadis Ini Minta Bantuan di Media Sosial

Global
Viral Video Pengantin Wanita Ditelanjangi Keluarga untuk Tes Keperawanan, Suaminya Diam Saja

Viral Video Pengantin Wanita Ditelanjangi Keluarga untuk Tes Keperawanan, Suaminya Diam Saja

Global
Video Viral: Masak Menu ala Restoran di Kamar Hotel Selama Karantina Covid-19

Video Viral: Masak Menu ala Restoran di Kamar Hotel Selama Karantina Covid-19

Global
Peta Galaksi Bima Sakti Terungkap, Bumi Menuju Lubang Hitam?

Peta Galaksi Bima Sakti Terungkap, Bumi Menuju Lubang Hitam?

Global
Peneliti di Afrika Selatan Usul Redupkan Matahari untuk Atasi Kekeringan

Peneliti di Afrika Selatan Usul Redupkan Matahari untuk Atasi Kekeringan

Global
Joe Biden Tidak Akan Wajibkan Suntik Vaksin Covid-19 di AS, Ini Alasannya...

Joe Biden Tidak Akan Wajibkan Suntik Vaksin Covid-19 di AS, Ini Alasannya...

Global
Viral Curhat Gadis Dimintai Foto Syur, Langsung Putus Pacarnya Walau Baru Sehari Pacaran

Viral Curhat Gadis Dimintai Foto Syur, Langsung Putus Pacarnya Walau Baru Sehari Pacaran

Global
'Jemur Kelamin', Model Ini Klaim Rahasia Hebat di Ranjang

"Jemur Kelamin", Model Ini Klaim Rahasia Hebat di Ranjang

Global
Akibat Pandemi Virus Corona, Kunjungan Wisatawan ke Kamboja Anjlok 76 Persen

Akibat Pandemi Virus Corona, Kunjungan Wisatawan ke Kamboja Anjlok 76 Persen

Global
CEO Muda Ini Jadi Tajir Melintir dalam Satu Malam, Seperti Apa Kisahnya?

CEO Muda Ini Jadi Tajir Melintir dalam Satu Malam, Seperti Apa Kisahnya?

Global
Pelancong Mancanegara Diklaim Berisiko Lebih Rendah Tularkan Covid-19

Pelancong Mancanegara Diklaim Berisiko Lebih Rendah Tularkan Covid-19

Global
Setelah Inggris, Bahrain Beri Otorisasi Darurat Vaksin Covid-19 Pfizer dan BioNTech

Setelah Inggris, Bahrain Beri Otorisasi Darurat Vaksin Covid-19 Pfizer dan BioNTech

Global
komentar
Close Ads X