Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Buntut Konflik Perbatasan, Hotel-hotel New Delhi Tolak Tamu dari China

Kompas.com - 27/06/2020, 08:00 WIB
Aditya Jaya Iswara

Penulis

Sumber AFP

NEW DELHI, KOMPAS.com - Salah satu asosiasi hotel di New Delhi, India, menyerukan ke para anggotanya untuk menolak tamu-tamu dari China.

Pernyataan itu disampaikan pada Kamis (25/6/2020), seiring meningkatnya seruan untuk memboikot barang-barang China.

Seruan-seruan ini muncul usai terjadi konflik perbatasan di Lembah Galwan, yang menewaskan 20 tentara India.

Baca juga: Terungkap, Inilah Bangunan Baru yang Didirikan China di Lembah Galwan

Baku hantam pada 15 Juni itu adalah yang pertama kalinya menimbulkan korban tewas di perbatasan itu dalam 45 tahun terakhir.

Sandeep Khandelwal pimpinan Delhi Hotel and Restaurant Owners Association mengatakan, keputusan yang mencakup 75.000 kamar hotel di India itu adalah untuk "mendukung penerintah kita dalam situasi seperti perang dengan China."

Asosiasi itu yang sebagian besar anggotanya adalah hotel bintang 3 dan 4, juga akan mendesak para anggotanya untuk berhenti memakai produk-produk China.

Meski hampir 300.000 orang China berkunjung ke India pada 2018, boikot besar-besaran ini dianggap seperti pembatasan perjalanan di pandemi virus corona, yang membuat jumlah wisatawan asing turun drastis.

Beberapa hotel juga masih tutup, meski lockdown sudah dilonggarkan perlahan.

Baca juga: Hampir 11 Jam Berunding, India dan China Akhirnya Sepakat Berdamai

Sementara itu di media sosial, seruan untuk memboikot produk-produk China berembus kencang.

AFP pada Jumat (26/6/2020) melaporkan, ada juga demonstrasi kecil yang membakar bendera China.

Kemudian media setempat mengabarkan, raksasa-raksasa e-commerce seperti Amazon dari Amerika Serikat (AS) yang menjual banyak barang elektronik buatan China, kini menampilkan negara asal produk saat ditampilkan di platform mereka.

Awal pekan ini kabinet Perdana Menteri India Narendra Modi memerintahkan hal yang sama juga dilakukan di portal GeM.

Ponsel Xiaomi buatan China menutup logonya di depan toko-toko kota besar India, dengan spanduk bertuliskan "Made in India".

Padahal, Xiaomi adalah merek ponsel terkemuka di Negeri "Bollywood" bahkan ada pabriknya sendiri di sana.

Baca juga: Heboh Alat Fitness Gerak Sendiri di India, Diduga Hantu Sedang Latihan

"Manajemen perusahaan mengatakan kepada kami untuk melakukan ini guna melindungi kami dari pengunjuk rasa atau politisi yang dapat merusak properti, karena sentimen anti-China sedang meningkat," terang Jignesh pemilik sebuah toko Xiaomi di Mumbai.

"Namun permintaan untuk smartphone ini belum turun sama sekali dan orang-orang masih membeli gawai ini," lanjutnya dikutip dari AFP Jumat (26/6/2020).

Barang-barang buatan China termasuk beberapa bahan baku bagi perusahaan farmasi India, juga mulai menumpuk di pelabuhan dan bandara India, karena pemeriksaan bea dan cukai yang lebih ketat.

Terlepas dari hubungan yang sedang memanas, India dan China telah membangun ikatan ekonomi yang kuat dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Takut Bunuh Diri, Pria di India Sewa 4 Pembunuh untuk Membunuhnya

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Padahal Sudah Putus, Pria Ini Marah dan Rebut HP Mantan Pacar Usai Melihat Bersama Pria Lain

Padahal Sudah Putus, Pria Ini Marah dan Rebut HP Mantan Pacar Usai Melihat Bersama Pria Lain

Global
Rusia-Ukraina Saling Serang dengan Puluhan Drone dan Rudal

Rusia-Ukraina Saling Serang dengan Puluhan Drone dan Rudal

Global
Rudal Houthi Hantam Kapal Kargo di Teluk Aden, Lukai Awak Kapal

Rudal Houthi Hantam Kapal Kargo di Teluk Aden, Lukai Awak Kapal

Global
Hezbollah Pamer Persenjataan di Tengah Eskalasi Perang

Hezbollah Pamer Persenjataan di Tengah Eskalasi Perang

Global
AS Kecam Tindakan Israel Alihkan Dana Palestina Rp 573 Miliar

AS Kecam Tindakan Israel Alihkan Dana Palestina Rp 573 Miliar

Global
Biden dan Zelensky Teken Perjanjian Keamanan yang Mirip dengan Kesepakatan AS-Israel

Biden dan Zelensky Teken Perjanjian Keamanan yang Mirip dengan Kesepakatan AS-Israel

Global
Bryan Sukidi, Siswa Indonesia Peraih Penghargaan Bakat Luar Biasa di AS

Bryan Sukidi, Siswa Indonesia Peraih Penghargaan Bakat Luar Biasa di AS

Global
Kekerasan Anak dalam Konflik Dunia Capai Tingkat Ekstrem, Khususnya Israel

Kekerasan Anak dalam Konflik Dunia Capai Tingkat Ekstrem, Khususnya Israel

Global
Invasi Rusia ke Ukraina Menimbulkan Emisi Karbon yang Besar

Invasi Rusia ke Ukraina Menimbulkan Emisi Karbon yang Besar

Internasional
Rangkuman Hari Ke-841 Serangan Rusia ke Ukraina: Komitmen Keamanan Biden-Zelensky | Bank Rusia Kehabisan Mata Uang Asing

Rangkuman Hari Ke-841 Serangan Rusia ke Ukraina: Komitmen Keamanan Biden-Zelensky | Bank Rusia Kehabisan Mata Uang Asing

Global
Tank-tank Israel Terus Menembus Rafah, Warga Palestina Tak Henti Melarikan Diri

Tank-tank Israel Terus Menembus Rafah, Warga Palestina Tak Henti Melarikan Diri

Global
Inilah Poin-poin Perdebatan dalam Negosiasi Gencatan Senjata Israel-Hamas

Inilah Poin-poin Perdebatan dalam Negosiasi Gencatan Senjata Israel-Hamas

Internasional
Tentara Israel Lakukan 5.698 Pelanggaran Berat pada Anak-anak

Tentara Israel Lakukan 5.698 Pelanggaran Berat pada Anak-anak

Global
Hezbollah Luncurkan Roket dan Drone Langsung ke Pangkalan Militer Israel

Hezbollah Luncurkan Roket dan Drone Langsung ke Pangkalan Militer Israel

Global
 [POPULER GLOBAL] 2.600 Polisi KTT G7 Berjejal Tidur di Kapal Rusak | Warga Gaza Bandingkan Kondisi dengan Hamas

[POPULER GLOBAL] 2.600 Polisi KTT G7 Berjejal Tidur di Kapal Rusak | Warga Gaza Bandingkan Kondisi dengan Hamas

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com